Showing posts with label buku. Show all posts
Showing posts with label buku. Show all posts

Friday, October 15, 2010

flippin PAGES, clickin TABS

Ahh it's been a while. Sudah lama tidak menulis rasanya ya? Beginilah kalau terlalu banyak hal yang terjadi, bawaannya jadi bingung mana dulu yang mau ditulis. Akhirnya ngga nulis sama sekali *alesyaaan* :D

So, we'll start from... How I read A LOT of fanfiction lately. You know, fanfiction, stories written by fans of the original work, rather than by the original creator. It could be based on existed anime, manga, game, movie, even mythological tale. Didn't published professionally of course, but you'll find it easily in internet, and it really has its own 'market share', both the writer and the reader. Aku salah satu penikmatnya. Haha, aku udah mulai kaya' otaku nih. Tapi emang asik kok, soalnya pada dasarnya para penulis fanfiction itu menuliskan hal-hal yang tidak terceritakan di plot aslinya atau hal-hal yang mereka impikan ada di materi originalnya. I.e : characters pairing or inner conflict of certain character. Since I read a lot of shonen manga, which it rarely contain any romance at all, lucu rasanya melihat para fanfic-writer itu menuliskan how Trunks conceived on the famous '3 years missing' of Dragon Balls saga. Huhu.

Banyak fanfiction yang terlalu fluff, atau terlalu lemon (yes, it's fanfic's term, go fetch) yang kadang aku ngga suka karena excessive dan OOC (another FF term huhu).. Tapi banyak juga yang bagus dan warmhearted. Jadi keingetan dulu jaman SD aku suka ngegambar-gambar komik pendek, gimana kalo karakter ini melakukan ini atau itu. And lately i know, it called doujinshi. Kalo fanfiction adalah written made up story based on existing story, kalo doujinshi bentuknya manga. As for me, dua-duanya menghibur, kalo pas lagi suntuk and got nothing to do.

Oh ya kemaren juga barusan selesai baca Angela's Ashes versi bahasa asli. Lumayan lama selesainya. Selain karena musti mikir dua kali, aku bacanya juga berhenti-berhenti melulu. Karena bolak balik ngerasa ngga tega. Baca satu chapter, sedih, ngga bisa nerusin. Si Nunce tuh, tiap kali liat aku baca Angela's Ashes, dia tanya ''What's with your face, chung?'' It turns out I frowned absentmindedly. I can feel the diseases, the shame, the longing, the dampness, the scab, the dirtyness, the betrayal, the poverty Frank McCourt been through in his childhood. Perasaan teraduk-aduk ngga jelas. So touching and shaking.

Speaking of which, selain baca-baca fanfic, doujinshi, novel dan komik, akhir-akhir ini sering baca-baca buku kuliah jaman dulu, termasuk latihan soal-soalnya. Haha, aku juga bingung, habis itu buku-buku ngintip di rak, minta dibaca. Bukan rahasia kalau jaman kuliah dulu aku bukan mahasiswa yang sangat devoted sama bidang kuliahku sendiri yaaa. Jadi ketika aku baca sekarang, banyak yang baru aku tahu. Kalo kamu tanya bedanya peradilan TUN dan peradilan pidana, i'll stammered to death. Tapi kalau kamu tanya bedanya adlib dan loose spot, aku bisa menjelaskan sambil ngopi-ngopi. Yea I am that lame. Makanya mari kita baca-baca lagi itu buku kuliah. Selintas-selintas doang sih, karena lebih sering terdistract sama Ian Fleming's, Jules Verne's, One Piece dan Hoshin Engi yang numpuk minta dibaca juga. Sorry this lazy head can't help it :D

What's your current reading?

Thursday, September 9, 2010

easily DISTRACTED

Malam takbiran. Tangan megang daftar kebutuhan rumah yg perlu dibeli. Belum aja masuk ke Carrefour-nya, eh ngeliat stand Books yang jualan buku impor segede2 ampun di pintu masuk. Ugh. Lagi ada event ternyata, soalnya stand regulernya cuma secuplik di dalem Carrefour. Dan sekarang dengan stand segede ini pilihannya jadi buanyak. Meskipun aku bacanya mesti pake susah payah, but what a best deal, dengan puluhan ribu bisa dapet buku impor yang keadaannya lumayan. Puluhannya pun banyak yg di bawah 50.

*ndeprok di depan rak buku*

Belanjanya tertunda. Ah saya procrastinator.

Lalu aku pulang. Hujan turun tapi jalanan masih rame aja. Sampai rumah, masuk kamar : aih, kaget sama kamar yg rapi. Padahal dirapiin sendiri juga. Rapinya juga ngga segitunya, you know meee, at least better than ever before laaah. Butuh berhari2 ngeberesin gudang mini yg satu ini. Hasilnya, lumayan. Bisa duduk manis tanpa harus nyingkirin tetek bengek segala macem. Bisa langsung nemu barang yg dicari. Bisa liat motifnya karpet yg biasanya ketutupan sampah. Yea aku duduk manis sambil takabur mengagumi kamar yg rapi hehe.

Ngga ding, ini duduk manis sambil mendengarkan suara hujan dan takbiran... Oh good God.. Ramadannya udah selesai.. Rasanya ada yg mencelos di dalem sana : sebulan kemaren aku udah ngapain aja? Rasanya kok cul-culan gitu aja, ngga dimanfaatkan sebaik-baiknya. Ah. Jadi sedih nih.. Ya Allah, semoga taun depan bisa ketemu Ramadan lagi yah...

Dan taun ini, semoga aku bisa jadi orang yg lebih baik lagi. Amiin.

Monday, October 19, 2009

O Alquimista


Another buku pinjeman dari mas Nunow. Minjemnya udah lamaaaaaaaaaaaaa baru dibaca semalem. Judulnya THE ALCHEMIST, karya Paulo Coelho. Sempet keinget komik Full Metal Alchemist yang dulu sempet aku suka. Tapi ngga ada hubungannya sih, kecuali sedikit hal-hal yang berhubungan dengan alkimia-nya.

The Alchemist ini bukunya ngga tebel, ngebacanya cuma butuh before-bedtime plus disambi siaran 2 jam besokannya.
They called it "allegorical novel". Istilah itu ngga berlebihan rupanya. Moga-moga bukan akunya yang jadi berlebihan kalo aku bilang berkali-kali sampe nahan napas pas ngebaca paragraf-paragraf tertentu. I do. Pilihan katanya tidak too much, tidak berat, sangat normal bahkan. Tapi maknanya dalemmmmm banget. Terasa sedikit fantasi, tapi aku yakin bukan fantasi. Dia berbicara tentang alkimia, tapi tidak meng-antidote ketuhanan yang juga disinggung disini. Plotnya berjalan perlahan, tapi tidak lambat. Tidak terlalu deskriptif, tapi aku bisa melihat visualisasinya di kepalaku. Penuturannya begitu bijaksana, tapi tidak menggurui. Aku seperti tersindir oleh buku ini. Tersindir atas pola pikirku akan segala macam hal. Betapa aku telah membiarkan diriku menjadi seorang pengecut, sekaligus seorang pecundang. I really am. But I thanks God to draw me into this book, last night.

Coba ya aku kutip sedikit beberapa paragrafnya. Entah bakal ngasi kamu efek yang sama kaya' aku atau engga. Mungkin bakal terdengar seperti penggalan buku motivasi. Habis cuma sepenggal sih. Taste the whole plate, then you'll know what I mean. Cieh gaya :)

"Kalau kita bergaul dengan orang-orang yang sama setiap hari, pada akhirnya kita akan menjadi bagian hidup dari orang itu. Lalu kita ingin orang itu berubah. Kalau orang itu tidak seperti yang dikehendaki orang-orang lain, maka orang-orang lain ini menjadi marah. Orang tampaknya selalu merasa lebih tahu, bagaimana orang lain seharusnya menjalani hidup, tapi mereka tidak tahu bagaimana seharusnya menjalani hidup sendiri."

"Satu-satunya kewajiban sejati manusia adalah mewujudkan takdirnya. Semuanya satu adanya. Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya."


"Tapi malapetaka itu telah mengajariku memahami sabda Allah: manusia tidak perlu takut meraih hal-hal yang tidak diketahui, kalau mereka sanggup meraih apa yang mereka butuhkan dan inginkan. Kita takut kehilangan apa yang kita miliki, entah itu hidup kita, harta benda kita, ataupun tanah kita. Tapi rasa takut ini menguap begitu kita memahami bahwa kisah-kisah hidup kita dan sejarah dunia ini ditulis tangan yang sama."


"Kau harus mengerti, cinta tak pernah menghalangi orang mengejar takdirnya. Kalau dia melepaskan impiannya, itu karena cintanya bukan cinta sejati... bukan cinta yang berbicara Bahasa Dunia."


Ahhh. ARGGGGHHHHH.

*jengkel sendiri saking 'pas'-nya* :D

Friday, August 7, 2009

A Thousand Splendid Suns


A THOUSAND SPLENDID SUNS. Akhirnya kebaca juga nih buku satu. Udah lamaaa banget mo minjem si Zakee tapi kaga dibawa-bawain. Ntah kemaren kerasukan apa tuh bocah, kaga diingetin, tau-tau dibawa ajah. Hohoho, lumayan buat bacaan kalo pas nganggur di rumah.

Eh ternyata baru keingetan kalo pas dibawain buku itu, aku mesti jaga studio mini di PRPP. Berhubung si Nuno, oknum partner jaga datangnya agak2 "di luar kebiasaan" sementara mas Tolani sang teknisi tergeletak lelah di atas MMT.. Akhirnya daripada cengoh, itu buku aku baca-baca sambil jaga. Abis 3/4 bagian. Dilanjut besokannya, kelar deh. Kurang dari dua hari aja ngebacanya.

Cepet ngebacanya karena faktor flow plotnya yang emang enak, khas Khaled Hosseini. Sama seperti The Kite Runner, disini penuturannya juga begitu detil, tenang, ngga 'melonjak-lonjak', tapi klimaks yang diperlukan tetap terasa di bagian-bagian tertentu. Sisi humanis berlatar pendudukan kaum Komunis lalu Taliban di Kabul, isu minoritas perempuan, dominasi laki-laki, dan pemikiran sempit orang tua terhadap anak-anaknya tergambar samar tapi kuat disini. Jika buku ini diandaikan masakan, kita ngga disuruh langsung mencecap rasanya, tapi aromanya menguar, dan membuat kita tahu, seperti apa rasanya.

Membaca buku ini berkali-kali hatiku miris. Kejadian di dalamnya bukan fiksi. Ini memang ada. Lalu aku bersyukur. Dan mengagumi kejeniusan Khaled Hosseini merangkai kata. Indah.

Kalo disuruh ngebandingin, bagusan mana A Thousand.. sama Kite Runner, menurutku ngga bisa dibandingin. Sama, tapi beda. A Thousand lebih sepi, subtle, tapi pedih. Sementara Kite Runner lebih dinamis dan ujung-ujung klimaksnya terasa tajam. Dua-duanya indah, recommended dah!

Tuesday, August 4, 2009

My Sister's Keeper


Beli buku ini hari Sabtu kemaren. Baruuuu aja selese 5 menit yang lalu. Gara-garanya kemaren penasaran sama trailer film yang diadaptasi dari buku ini pas direview sama ILFIL, radioshow film kita.

Ngabisin bukunya ngga terlalu butuh perjuangan. Perjuangannya karena lagi pilek, jadi baca agak banyakan, matanya jadi perih. Bukunya sendiri nyeritain tentang seorang Anna Fitzgerald, gadis berumur 13 tahun yang menuntut orang tuanya sendiri atas kebebasan badannya sendiri. Soalnya selama 13 tahun Anna selalu jadi donor buat segala 'kebutuhan' Kate, kakak Anna yang menderita penyakit leukimia langka yang sangat mematikan. Mulai dari darah tali pusat, limfosit, sumsum tulang, you name it, Anna mendonorkannya demi memperpanjang hidup Kate, even sejak Anna baru lahir. Ironisnya, Anna bahkan 'dibuat' lewat rekayasa genetika, untuk memprovide kebutuhan donor Kate, yang emang ngga bisa dilakukan oleh orang lain. Dan saat Anna diminta menyerahkan 1 ginjalnya, Anna menuntut orang tuanya.

Tapi ceritanya kemudian ngga menggelinding sesederhana itu. Ada banyak konflik di dalamnya. Apalagi kita bakal ngeliat dari banyak sudut pandang : Anna, Sara sang Ibu, Brian sang Ayah, Jesse kakak lelaki Anna-Kate yang rebel, Campbell Alexander sang pengacara yang disewa Anna, dan Julia wali ad litem Anna. Ngga pusing kok, soalnya kita langsung dikasih tau : sekarang lagi ngebaca dari POV siapa. Saat melihat dari sudut pandang Anna, sesaat kita bakal mengira Anna jahat. Saat melihat dari sudut pandang Sara, sesaat kita bakal merasa si ibu ini egois karena mengira dunia cuma berputar di sekeliling Kate saja. Susah nentuin siapa yang jahat, siapa yang baik. Semuanya bias, tapi sebuah rahasia bakal terbuka di bagian akhir.

Overall buku ini sangat menarik, tipe buku yang ngga bisa berhenti dibaca sebelom abis. Sayang terjemahannya sangat 'terjemahan' sekali. Banyak yang masih terasa Inggris-yang-di-Indonesia-kan, kurang smooth rasanya. Alurnya semakin kebelakang juga semakin lambat. Tapi ngga sampe bikin gifap kok. Tetep menarik, dan dikit-dikit nambah pengetahuan soal dunia kedokteran dan sistem hukum Anglo Saxon ala Amerika.

Filmnya sih belom nonton, tapi menurut si wikipedia, perbedaan antara buku dan filmnya lumayan signifikan. Menyangkut siapa yang meninggal dan siapa yang survive. Hohoho. Hayo silakan dibaca dan ditonton sendiri.

Oh ya, ini dia trailer filmnya :