Showing posts with label on work. Show all posts
Showing posts with label on work. Show all posts

Wednesday, January 4, 2012

tree ON BOARD

Karena jumlah karyawan yang terus bertambah, dan pekerjaan (baca : rejeki. Amiin) yang juga bertambah, manajemen merasa kantor yang lama tidak lagi cukup representatif (baca : sempit XD). Akhirnya, awal tahun ini kami pindah kantor. 

Masih di seputaran daerah Blok M, kali ini kantor kami berbentuk sebuah bangunan 2 lantai yang stand-alone. Masih dalam proses renovasi, jadi belum keliatan semuanya, tapi sepertinya akan banyak spot-spot menyenangkan. Tuh di ujung situ ada ruangan yang lagi dipasangin rumput sintetis ala lapangan futsal. Buat recreational room, katanya. Workspace tim produksi sendiri berupa sebuah studio dengan meja-meja dari ujung ke ujung. Trus bakal ada semacam kantin, errr tempat makan aja sih sebenernya. Yah paling ngga lebih luas dari pantry mini kami yang dulu. Trus ada nursery room juga lho. Pokoknya, yang biasanya kita gang senggol ria, sekarang serba lega gituh. :') 

Tapi tau ngga yang paling mind-boggling dari itu semua? Keberadaan benda ini : 


Yes. A tree inside the building. Menjulang dari lantai 1 ke langit-langit studio lantai 2. I can't help but thinking about The White Tree of Gondor, at the city of Minas Tirith. But above all, it reminds me of this : 


Pohon kelap-kelip Imogen Heap yang dibawa selama Ellipse tour! :') Ah semoga dengan semangat mba Immi, aku juga jadi semakin semangat kerjanya. *apeu*

Monday, November 21, 2011

humming : brokenhearted THE SCRIPT


Menjelang Guinness Arthur’s Day beberapa waktu yang lalu, tim ybs buka ‘lowongan’ : siapa yang cukup kenal sama lagu-lagunya sang guest star, The Script? Aku sebagai tenaga kerja hore langsung mengajukan diri. Album pertama aku khatam. Album kedua, bisalah drilling beberapa hari. They buy it, and I get the pass. Hohoho.

Sebenernya dibilang demen banget lagu-lagunya The Script, ngga juga. Cuma dulu pas di radio, single perdana mereka, We Cry, airplaynya lumayan tinggi. Iseng-iseng, coba dengerin 1 album self-titled rilisan tahun 2009 itu. Ternyata lumayan bikin betah. Poppish indeed, but the crisp guitar & drum, the wordplay, Danny’s fast ranting… Sound’s dynamic. Ngga bakal bikin cowo-cowo yang dengerin dijudge lenjeh-lenjeh banget (macam kalo mereka dengerin Justin Bieber gitu lah). Pas dengerin album kedua mereka, Science and Faith, ternyata ngga banyak kesulitan juga. Karena menurut kuping amatirku, ngga ada perbedaan yang begitu mencolok sama album pertamanya. Dari segi musikalisasi dan tema liriknya.

Nah, sebenernya soal lirik inilah yang bikin aku pengen posting. Kebetulan tugasku di event itu berhubungan dengan liriknya The Script. Jadilah selain dengerin lagunya, juga harus baca liriknya kata per kata. See, lagu-lagu The Script kebanyakan nyeritain soal gundahnya seorang cowo yang ditinggal sang kekasih. Like, almost 75% of each album telling so. The Script bertutur secara eksplisit, alurnya maju, seperti orang bercerita. Gamblang banget.

Biasanya, biasanya nih, kalo ada musisi cowo cerita soal patah hati dengan cara seperti itu, sambil menyanyi, di suduuut hati, ada suara kecil yang mencibir bilang : “Dude, seriously. Pfft.” Anehnya, kalo sama The Script ini, si suara kecil itu ngga nongol dong. Alih-alih malah akunya mikir : “Gilak, emang kalo cowo patah hati bisa segitunya ya?” Rasanya believable gitu. Coba itu The Man Who Can’t Be Moved, Breakeven, Talk You Down, Nothing, Long Gone and Move On, Deadman Walking, atau If You Comeback. The Script menceritakan patah hati dengan dramatis, come-n-go cheesy feeling, tapi karena pake bahasa sehari-hari, rasanya kaya sambil nodong : “This happen to you too, right?”

Now, after event, it’s safe to say, saya khatam 2 albumnya The Script :|


pic : doc. Guinness ID

Saturday, November 19, 2011

continue to WRITE POORLY

Sekedar pengingat buat aku sendiri atau siapa aja yang potensial mengalami, uhm, writer's block. This is Seth Godin's advice, i'll recite a bit :

The reason we don't get talker's block is that we're in the habit of talking without a lot of concern for whether or not our inane blather will come back to haunt us. Talk is cheap. Talk is ephemeral. Talk can be easily denied. 
We talk poorly and then, eventually (or sometimes), we talk smart. We get better at talking precisely because we talk. We see what works and what doesn't, and if we're insightful, do more of what works. How can one get talker's block after all this practice? 
Writer's block isn't hard to cure. Just write poorly. Continue to write poorly, in public, until you can write better. 
I believe that everyone should write in public. Get a blog. Or use Squidoo or Tumblr or a microblogging site. Use an alias if you like. Turn off comments, certainly--you don't need more criticism, you need more writing.  

There. I guess all of us already got the point, no? :)

Wednesday, July 27, 2011

medium for SOCIALIZING


Semalem aku nonton konser Incubus deh. Nonton gratis dalam rangka live tweet & ngumpulin bahan artikel utusan brand si sponsor sebenernya. Mungkin orang yang ngeliat sebel kali ya : Ini orang dateng ke tempat konser malah sibuk aja sama henponnya. Ya maaf mas, mbak, lha ini judulnya makaryo gitu. Untung ga pake gelaran laptop segala lho ini. But I have to admit, konser Incubus semalem bersih dan rapi. Sound, lighting, songlist, showmanship, kualitas vokal, dan musikalitasnya top notch. Salut buat mas Brandon Boyd endegeng.

Dan apakah itu live tweet? Itu adalah semacam laporan pandangan mata sebuah event, tapi via twitter. Text-base dan image-base. Intinya biar para follower dapet laporan real time dari event yang bersangkutan. Jurnalisme masa kini kali ya. Barang baru juga sih buat aku, ketika beberapa kali diperbantukan ke kegiatan beginian. As we know, I'm new on twitter, baru setengah tahunan gitu. Sepertinya remeh ya, tapi ternyata ngga juga. Gimana caranya bikin tweet yang menggugah, menarik, talk-to-a-friend (macam radio juga ya), semua dalam 140 karakter saja. Ups, kadang 130, atau 120, buat ngasih space yang mau nge-RT.  Jadi tau, kalo ngetwit aja ada seninya.

Ibarat renang, mungkin aku baru nyelup sampe mata kaki di dunia dijitel ini. Jadi masih suka takjub sama suburnya kesempatan yang bisa dipanen dari sana. Kalau website, okay. Tapi Twitter? Facebook? Bener-bener pengalaman baru buat aku. Melihat seorang influencer (semacam seleb tweet yang punya banyak follower) dibayar sekian rupiah (yang ngga sedikit jumlahnya) buat ngetweet 1-2 kali. Melihat perusahaan-perusahaan besar ingin engaging dengan customernya lewat sosial media sampai harus menggunakan jasa ahensi. Melihat kuis-kuis berhadiah ngga main-main yang digelar via sosmed. Melihat pakar-pakar sosial media yang menelaah dalam bidang satu ini. Big company with no social media treatment? No cool. 

Man, social media is a real deal. Bukan cuma tempat menggalau semata. Lain kali kalo dapat pencerahan dari yang lebih ahli, ntar aku sharing lagi disini. Smell ya guys later.
ps : ngomongin sosmed tapi imagenya Incubus? Wis ndakpapa lah ya?

Monday, July 18, 2011

PETTY-BIGGIE thing

Boleh kali ya bersyukur, kerjaan kedua ini kurang lebih sama fleksibelnya seperti pekerjaan yang pertama, walau bidangnya berbeda. Di kedua kerjaan ini ada beberapa hal menyenangkan yang mungkin ngga bakal ditemui oleh tipe kerja kantoran pada umumnya. Salah satunya ketemu artis.

Pas masih di radio, para pesohor ini bisa aku temui pas mereka interview, atau pas kebetulan ngemsiin acara yang bintang tamunya mereka. Di ahensi dijitel yang sekarang, kesempatan ketemu artis dateng pas harus liputan atau ngumpulin materi pendukung ini itu.

Akhirnya kalo ketemu artis suka yang, ya ngga kya kya kya heboh gitu. Kalo bilang "udah biasa" kaya'nya kok sok banget ya, karena toh ngga sesering itu juga. Cuma karena ketemu mereka dalam posisi 'kerja', jadinya otomatis terkondisikan untuk ngga kya kya kya. Kepala juga udah penuh sama pikiran : 'ayo cepat beres, cepet beres'. (Entah ya kalo mendadak harus interview Mew apa Imogen Heap gitu. Pengsan mungkin saya). Kalo udah gitu suka lupa kalo 'jumpa pesohor' ini adalah sebuah kemewahan buat yang ngga punya kesempatan. How they dying to be as close as me and my fellow colleague with their idols. 

Kemarin siang di sebuah event, aku ngalamin sebuah kejadian yang lucu-lucu-manis gitu. Pas lagi ngurusin sesuatu di luar area event dengan berkalungkan id all access, dua orang remaja cewe-cowo ngedeketin dan nanya : "Kak, kaka panitia yah?" Agak bingung karena aku cuma bagian keciiiil dari sebuah event gede, akhirnya aku jawab : "Euh, ya semacam itulah.." Trus mereka sumringah gitu. Ternyata mereka bermaksud menitipkan sebuah pigura (yang lumayan gede) berisi hasta karya mereka buat seorang performer yang akan tampil malam itu. Mereka bilang, ga bisa pulang malem dan bingung gimana caranya ngasih hadiah (yang ternyata hadiah ulang tahun) itu.

Somehow, karena mereka keliatan eager dan sincere (dan ngga rese pula) akhirnya aku sanggupin. Aku bahkan merekam ucapan ulang tahun mereka dan bakal nunjukkin video itu ke si artis. Dengan pertimbangan, itu memang memungkinkan, berdasar pengalaman event sebelumnya, dengan artis yang sama. Ih mereka sumringahnya bukan main lho. Kita janji saling update via twitter. Dan sesorean itu dia berkali-kali berterima kasih. Padahal belom dikasi juga kadonya. 

Malamnya, di tengah segala razzle dazzle, untungnya amanah dua dedek itu bisa terlaksana. Dan si artis juga baik setengah mati, ngeladenin aku dengan baik, dan mention si anak yang ngasih hadiah, ngabarin kalo hadiahnya udah diterima (di twitpic pun!). Ih sungguh salut deh sama si artis ini, ngga ngeremehin yang remeh-remeh.

Habis itu kelar, aku balik ribet lagi begina-beginu. Tau-tau pas ngecek twitter, you know what? Si dedek itu ngetwit begini : "I dont know how the fate of the gift, if I dont meet [@mytwitterid] ...Please god bless her life". Deg, aku berhenti lari-lari. That day has been a tiresome and got my nerve. Dan satu tweet singkat anak itu bikin sejuk setengah mati. Man, aku ngelakuin sesuatu dengan effort kecil, dan di luar sana ada orang yang ngedoain aku. I don't even know this kid. This kid barely knows me either. And he ask God to bless my life. Hanya karena aku ketemu artis easily dan dia engga. Hanya karena aku punya id ke backstage, dan dia engga.

Nope, ini bukan postingan pamernya saya. Aih apa sih aku yang mau dipamerin. Cuma mau cerita, ini salah satu versi dari : hal sederhana buat kita, bisa berarti gede buat orang lain.

Dan demikianlah. That kid cherish my day. And I hope I cherish his day as well.

Thursday, June 30, 2011

can i get a BUTTERFLY KNIFE?

On a rigid battle against sleepiness, my playlist jump onto 'Make Me Wanna Die' from The Pretty Reckless, taken from OST. Kick Ass album. At the beginning of the song, you can hear Mindy, the Hit Girl, asked by her daddy, Damon 'Big Daddy', about what she possibly want for her birthday.



DAMON
Hey, why don't you tell a little more about what you might want for your birthday?

MINDY
Can I get a puppy?

DAMON
You wanna get a dog.

MINDY
Yeah. A cuddly fluffy one. And a Bratz Moviestar Makeover Sasha.

DAMON
*flabbergasted*

MINDY
Just fucking with you daddy! I’d love a Benchmade model-42 butterfly knife.

DAMON
Oh child, you always knock me on a loop.

---
Maaan. Chloe Grace Moretz killed it!

Wednesday, June 29, 2011

KIMCHI and KYLIE

*Backsound : album We Sing, We Dance, We Steal Things - Jason Mraz. Aaa. Nostalgic.*

Maygat, udah tanggal 29!? Maaan cepet banget yah waktu berjalan. Udah mau ganti bulan, tapi baru sampai postingan ketiga di bulan ini. Dan speaking frankly, aku juga ngga tau ini mau nulis apa. Cuma pengen nulis aja. In the middle of doing some 'home-work' sih sebenernya. Alias kerjaan yang dibawa pulang. Trakdungces.

Oke, mari kita, mmm, mereview beberapa hal yang terjadi sebulanan kemaren kali ya? Such as... Aku nonton 2 konser bulan ini. Konser-konser dengan tiket berharga jutaan rupiah, yang lagunya cuma tahu 1-2, tapi, macam yang gaul gitu, yang penting nonton. Hahaha, enggalah. Dari mana duit jutaan rupiah buat nonton musisi yang ngga aku ngerti? Kebawa sama kantor sih sebenernya, jadi nyambi nontonlah.

Tolong ignore 2 gadis yg nyengir itu. Emphasizingnya antrian ELF di belakang sana.
Yang pertama adalah konser KIMCHI 4 Juni kemaren. Yea, KIMCHI yang itu, yang menghadirkan boyband dan girlband Korea, salah satunya Super Junior nan kondang dan kolosal anggotanya. Ketika aku kasih tahu Si Nuno, seketika dia langsung bilang : "Karma does exist!" Hahaha, ya memang bener sih. Beberapa kali aku make a fun of any musician, biasanya end-up dengan ketemu sama yang bersangkutan. Sempet aku ceritain di postingan lalu. Ngeceng-cengin Kangen, Ungu, dan D'Bagindas, akhirnya malah ngeinterview atau ngemsiin mereka. Nah jaman di studio dulu, aku juga suka ngeceng-cengin boyband/girlband K-Pop sama si Nuno daaaan... end up nonton juga akhirnya. Saat konser itu aku cuma bisa diam terpaku. Melihat gadis-gadis remaja itu jejeritan, memanggil-manggil tiap member boyband yang menari-nari cantik dan seluruhnya nampak serupa di mataku. Edanlah. Not to mention harga tiketnya yang sampai 2,5 juta itu ya...

Extreeeeeme long shot. Maklum duduknya di puojok atas.
Nah kalo yang kedua, bisa dibilang lumayan menikmati : Kylie Minogue Aphrodite Tour di Sentul, 27 Juni lalu. Betenya kena macet nyaris 3 jam dari Fatmawati sampai Cibubur dan gak dapet press-id jadi si DSLR ga boleh masuk tersembuhkan dengan visual galore yang dipersembahkan tante Kylie. Six gigantic pillars, massive multimedia background, pegasus, chariot, flying angels, ubersexual dancers, six fabulous costume changing, unexpected nice vocalization (live!) and that smokin hot body... Somehow I just can't believe she's 43! Aku cuma tahu, yahh.. Mungkin 4-5 lagu dari 20an (!!) yang dia bawakan, tapi feel dancefloor dari lagu-lagunya bikin pengen jejogedan. Dan melantailah kami, anak-anak lecek dari kantor, di row paling atas, tanpa malu-malu. Just like para cong-cong itu yang jogednya total bener deh. Bahkan ada joke, malam itu Jakarta cong-free, semua congnya ke Sentul. Dan overshine kami yang cewe-cewe ini, hihihi.

Dan begitulah. Dua-duanya heboh, buat massanya masing-masing. Sementara buatku ya seneng aja. Soalnya menurutku nonton live music itu menyenangkan, apa pun jenisnya. Lebih seneng lagi kalo yang ditonton musisi kesukaan.. Yang dalam waktu dekat ini belum ada yang mau mampir sini. Pun Laruku yang katanya akhir 2011, ternyata hanya gosip belaka. Paling cepet 2012 katanya. Ah ya sudahlah ya. Mari menabung dulu dari sekarang. Siapa tahu ada siapaaa gitu yang mampir.

Now now, breaknya cukup sekian. Mari kembali wordsmithing. See ya later!   

Thursday, June 9, 2011

THINKER off to TIGER

Kalo kamu ngikutin blog ini (ya kali ada gitu hihihi), kamu pasti tahu how many times I wrote about longing to go somewhere nice and serene. Anywhere but the razzle dazzle. Karena Tuhan itu memang selalu baik sama saya, ngedumel diem-diem saya dikabulkan. Yah mungkin buat orang lain ini biasa saja. Tapi buat saya, outing kantor akhir pekan lalu itu means a lot. A lot, like, a lot.

Dua hari 1 malam saja, tapi seluruh kantor dibawa. Total ber-30 sekian orang, minus beberapa teman yang berhalangan. We were really excited, dibela-belain ngebut kerjaan bahkan yang malam sebelumnya ada event sampai midnite. Dasar agency digital, yang mau ngetwit pun wajib pake hashtag resmi : #thinkweb2macan. Hari H kita ngumpul pagi-pagi di kantor, berangkat ke Marina naik bis, trus nyebrang naik kapal. Presisinya, kita nyebrang ke sebuah, uhm, resort di salah satu pulau gugusan Kepulauan Seribu. Namanya Pulau Macan (Tiger Island). Rawr.

Ini main-entrance water activity-nya Pulau Macan (pic : forum.vibizportal.com)
Pulau Macan jaraknya cuma sekitar 90 menit naik kapal motor yang cukup laju dari pantai Jakarta. Pulaunya kecil, sekitar 1/2 ha (cmiiw), jalan 10 menit aja udah full-round satu puteran. Tapi suasananya, ahhhh, udah asoy geboy banget deh. Hut-hut tepi pantai sebagai kamar (dengan tangga turun langsung pasir putih dan air laut gitu), jalan setapak dan pohon-pohon, hammock, dermaga, kayak, gazebo berlantai kayu, lampu-lampu dimlite, interior etnik, kelambu, angin sepoi-sepoi, laut tosca dan… langit azure! Oh my. Mungkin ini memang bukan resort paling premium, but I really can’t ask for more. At least for now.
 
View dari Pulau Macan 2, bbrp km dari P. Macan yg di ujung ituh. (pic : @twiras)

Kegiatan kita? Anything fun! Main voli, bilyar, badminton, renang, kayaking, naik perahu karet, snorkeling, sampai sunset-sunrise hunt. Drama dan lucu-lucuannya juga ada : yang pedekate lah, yang kena bulu babi lah, yang mabok laut lah, yang berenang pake bebek karet lah, curhat-curhatan lah, nyanyi-nyanyi gitaran lah, foto-fotoan lah, ngegames seseruan lah. Ah pokoknya kaya orang kalap deh, semua-mua dicobain, semua-mua dijabanin. Bukan cuma saya, tapi semua orang. FYI, saya ini sebenernya ga bisa renang, but thank God I survived snorkeling. Cuma agak horror keliaran di laut gitu tanpa kacamata/lensa kontak, takut dicolek bulu babi :) Oh and I gazed at the sky, a lot.

the inter-hut path. Itu hut biasa. Yg tepat ngadep waterfront lebih syahdu lagi.
Sekitar 30 jam setelah kedatangan, kita balik ke Jakarta dengan senyum lebar… sesaat. Bukannya karena senengnya abis, tapi pada kecapekan gitu. Tepar di perjalanan pulang, besokannya pada kerja sambil ngeluh pegel-pegel. Not to mention kulit yang menghitam belang-belang kaya lapis legit ya, hihihi.

Nah ini waterfront hutnya. Dengan aksentuasi gadis-gadis (dan 1 jejaka) yg belom mandi pagi.
Etapi bener deh, menyenangkan hangout sama orang-orang yang tadinya cuma berinteraksi secara profesional ini. Berasa lebih cair gitu setelahnya. Jadi hayo kamu, yang kantornya udah mulai terasa rigid, cobain deh planning outing sekantor. Ngga perlu ke Pulau Macan deh, yang penting keluar kantor dan sebisa mungkin bersentuhan sama alam. Kan biasanya orang keluar aslinya tuh kalo di alam terbuka. Momen yang bagus buat refleksi, membuka diri, team building, atau apapun deh. Aih mulai sotoy saya :D

exhausted yet satisfied us : #thinkweb2macan (pic : @faniezdotnet)
Long story short, we were having fun. Uhm, main closing aja saya gitu. Habis pengennya nulis yang agak deskriptif tapi punggung saya sungguh masih pegel ini. Mana udah lewat tengah malem pula. Duh. Liat beberapa foto saya plus yang saya cuplik sana-sini aja yah :D

Smell ya later!

Thursday, April 28, 2011

color SENSE

Hari ini aku dapet tugas nyari dan ngereview film pendek. Review singkat banget aja sih. Tapi fun, karena yeah, membuatku jadi harus nonton film. Mencari makna filmnya (yang kebanyakan tersirat, bukan tersurat), lalu mencari kata-kata yang mewakili feel filmnya. Somehow it reminds me of the radioshow I'd once run. Good old time. Dan, film gitu lho. Siapa yang ngga suka?

Uhm, kembali ke tugas mencari film pendek hari ini. Banyak yang bagus, tapi karena tema yang dicari spesifik, jadi begitu gelagatnya ngga sesuai, langsung skip. But then I stumbled upon this film. Bed musiknya langsung ngena. Dan aku berhenti, menontonnya sampai selesai. It's Gong by Sigur Ros! (see, bahkan judul filmnya pun Gong).


Disutradarai sama Eric Lerner, sebenernya si Gong ini adalah film tahun 2008. Premisnya menarik, tentang sebuah alat yang bisa membaca perasaan kita dan menerjemahkannya dalam warna. Gaya handheld kamera dan subtitlingnya juga bikin tambah menarik. Cuma menurutku endingnya kurang witty. Ya kan? Kan? Uhm, maap, mungkin hanya sayah.. :p

Sementara dari segi lagu, Gong tidak menggunakan lirik Icelandic, tapi Hopelandic, yaitu bahasa yang ga punya makna, cuma ngomyang ala Sigur Ros aja. Cuma feelnya lagu ini emang sedih. Some people said it's about saying goodbye. Ah. Whatever it is, Sigur Ros' ethereal, that is.

Monday, April 25, 2011

RUN, myself, RUN

Uhm, seperti apa ya...

Anak SD biasa yang mendadak harus masuk SMP kelas imersi?
Lagi santai naik motor di jalan kampung tau-tau masuk ke jalur cepat?

Apapun analoginya, yang pasti saya harus mulai nyincing sandal dan berlari. Berlari supaya tidak ketinggalan. Tidak boleh berjingkat, karena disini semuanya bergerak cepat. Setidaknya cepat, menurut frame of reference saya sebelum ada disini. Bukan berarti setelah disini saya ngga bisa belajar. Justru supaya bisa belajar, saya harus belajar lari terlebih dahulu.

Yak, stretching dulu biar ngga kram.

Monday, April 18, 2011

from MIDDLE to WEST

Hari ketiga di Jakarta. Dan aku sudah kangen boneka bebekku. Kamarku yg full access ke teras terbuka. Teman-temanku. Keluargaku. Siaran. Naik motor sambil nyanyi-nyanyi di jalanan. Meja bunder studio. Mana kemaren so-called-farewell-nya cukup dramatis pula. Sungguh tidak terduga akan jadi banjir air mata dan badai curahan hati semacam itu. Hihihi. Oh how I love you guys.

Yah beginilah manusia. Ngebet pengen keluar dari satu keadaan, tapi begitu dikasih, eh malah termehek-mehek terus sama yang ditinggalin. Dasar manusia. *ngomong sama kaca*

Just an excess of stepping out from comfort zone I guess. Semoga rasa anxiousnya ngga berlama-lama. Mungkin ini ada hubungannya dengan certain-stuff-withdrawal juga. Soalnya di kost yang ini, secara geografis dan ibu kos-is sungguh tidak memungkinkan untuk lit those sticks. Plus beberapa aturan, yang bahkan di kost eyangku nan konvensional di Semarang bisa dilakukan, disini ngga bisa. Jadilah, sedang merasa asing, jadi semakin asing, karena ngga bisa jadi diri sendiri.

Sementara soal kantor baru, belum bisa ngomong banyak. Baru separuh hari dan belum banyak yang dikerjakan. So far so good. Suasana dan rekan kerja yang dinamis. Jobdescnya sama sekali baru, dan asing buat aku. Agak deg-degan juga. Tapi sepertinya akan memberiku banyak pengetahuan baru. Plus masih menjadi employee with t-shirt and sneakers. Plus cukup jalan 10 menit dari kost (ya, tetap ada kelebihan di tengah beragam kegalauan itu. Tsahh) menuju ke tempat kerja. Ini salah satu wujud kemewahan bekerja di Jakarta bukan?

Baiklah segitu dulu. Wish me luck so I can fit in with this city and this job.
Selamat hari Senin!

Thursday, August 26, 2010

SAND in my EYES...

When I'm sleepy, I'm grumpy.
Aku juga lebih milih siaran sambil lapar daripada sambil ngantuk.
Soalnya kalo ngantuk susah fokus, ngomongnya ngga kontrol kaya orang ngelindur.

But one thing for sure, ya itu tadi.
Ada kecenderungan sumbunya lebih pendek kalo ngantuk.
Kalo ada bridezilla, mungkin aku adalah sleepzilla (?)



And am soooo sleepy right now. Watch out.

Monday, August 9, 2010

and that's a WRAP!


Yes. This was the thing kept us occupied for weeks. The peak event of our radio-station's bday, Friday (6/8). Acaranya end up lumayan gede, dimana semua orang tampil rapi jali, sementara seperti biasa, akunya ga sempet mandi, morak-marik, rushing here and there sampe gempor. Selalu kucel kaya gombal di setiap occassion ulang taun tahun ini :)) Dimulai dari bikin majalah dan segala tetek bengeknya, acara on airnya sendiri, acara off air internal pas di hari H-nya, and stayed up AM to PM for this one. Hasilnya ngga sempurna juga sih, flaws itu pasti ada. Tapi semoga semua senang. Terutama buat para pendengar, para tamu, temen-temen sendiri, semuanya. Semoga.

...
...

Yah, errr, emmm. Yea. Gitulah. Capek badan, jelas. Tapi capek atinya lumayan nampol juga. But i've seen this for years, aight? I've been warned, aight? Friksi bakal selalu ada. Ketidakdewasaan itu lagu lama. Sentralisasi itu biasa. Subordinat ngga boleh banyak tingkah. Erhhmm. Yah. Gitulah. Ahaha *ketawapait*

Yak. Acara ulang tahunnya udah selesai. And finally Ramadhan coming through. Hello Boss of the Universe :) Hopefully I can go through Ramadhan this year with Your blessing.

Thursday, July 15, 2010

HOWLING, moaning

Waaah.

Rasanya udah luamaaaa banget ngga nulis disini ya. Blame the lame wifi connection. Jangankan ngeblog, wong buat kerja aja ngga bisa. Kaya sengaja, matinya pas di jam kerja. Ini sekarang nyaris jam 7 malem. Eh nyala dia.

Tapi gapapa deh. Mending dia masih mau nyala. Toh pun udah berhari-hari pulangnya malem melulu. Mengerjakan ini dan itu. Padahal peak seasonnya belum tiba, around end of this month and early next month. Capek badannya sih relatif. Kacaw balaw di dalam kepalanya itu lho yang ngga nahan. Mengerjakan beberapa hal sekaligus yg berbeda bidang. Swapped from one subject to another, in minutes, time to time, for whole day, everyday. Akhirnya ketika teknologi yg seharusnya membantu malah mengganjal, entah itu wifi yg mamfus, laptop yg ngehang melulu, gprs yg mota-mati... rRRRAh. Rasanya bikin pengen makan orang.



And at the end of the day, I asked myself :
''Ini bisa ngga ya aku kerjain semuanya?"

*agak agak pesimis*

argh. Pasti bisa!

Friday, July 9, 2010

ANNUAL versatility

Bulan Juli.

Saatnya saya dan teman-teman ber-shapeshifter, menjadi apapun yang bukan jobdesc kami di kantor ini. Fotografer. Penulis. Event organizer. Stylist. Make up artist. Model. Desainer grafis. Buat beberapa orang tertentu, ada kemungkinan jadi dancer dan penyanyi juga :p

Oh well. Wish us luck.

Tuesday, June 29, 2010

INSINUATED myself

@ 8.35 pm, meeting room

Sedang mengalami fase "popping lightbulb after office hours"

Selalu ada masa-masa seperti ini, dimana seharian di depan laptop ngga produktif sama sekali. Browsing sana-sini, dapetnya buat pleasure doang. Kerjaannya ngga kesentuh sama sekali.

Begitu lewat jam kerja, keadaan mulai sepi. Sigur Ros randomly played. Di luar gelap. Pelan-pelan mulai fokus. Ngetik ngetik ngetik. And I'm done. Halah. Kenapa ga dari tadi sih?

Bolehkah beralasan kemalasan ini muncul karena aku kerja di industri kreatif? Karena belum mood jadi ngga bisa kerja? Seharusnya TIDAK. Karena, inspirasi atau ide atau kreativitas and everything in between itu jangan ditunggu. Tapi harus diciptakan. Hari ini dan banyak hari lainnya, aku tidak menciptakan, tapi memilih menunggu. Kata Om Budiman Hakim, kreativitas itu tidak instan. Dia merupakan sebuah proses dan attitude. Jangan males dan ngikutin mood melulu. Dengan kata lain harus ada yang diusahakan jika pengen dapet itu ide dan teman-temannya itu. (wah suatu saat aku yang lagi males pasti bakal malu sendiri kalo baca tulisan ini) Apalagi kalo ada batasan waktu atau.. jam kerja. Karena beliau-beliau dari departemen sumber daya manusia tidak akan peduli apakah aku kerja pasca office hours seperti sekarang. Yang mereka tahu, pas jam kerja aku bengong. Beda perkara kalo aku rajin terus sepanjang hari.

Tapi ngetik itu emang paling enak malem-malem.
Ah sudah ah. Pulang pulaang.

Wednesday, June 23, 2010

not so STEREO symbiosis

@7:45 pm


had this painful sprue..
.. makes me sooo hard to talk, and..

can't these devices get anymore..
.. onerous and obnoxious?!





*ngelus dada, istighfar, istighfar..

Tuesday, June 22, 2010

BACKUP leader, super SIDEKICK

Di blog lama aku pernah nulis soal 2 tipe orang : tipe superhero dan tipe sidekick. Yang satu Batman, yang satu Robin. Yang satu Sherlock Holmes, yang satu Dr. Watson. Yang satu Frodo Baggins, yang satu Samwise Gamgee. Yang satu Magneto, yang satu Mystique.

Superhero dan sidekick hubungannya tidak subordinat, meskipun banyak yang berpikiran begitu. Karena basically mereka adalah partner, tapi punya fungsinya masing-masing.

Fungsi superhero, jelas, sang pembela kebenaran, the one who stand under the spotlight, possessing super power and maybe.. authorities, for some modern circumstances. Sementara sidekick, adalah counterpoint dari sang superhero, alternate point of view, or anything else the hero doesn't have. In movies or comics, (this is my favourite part).. a sidekick can also act as someone more relatable to the audience than the hero, or whom the audience can imagine themselves as being. Sebuah kualitas yang bahkan sang superhero tidak memilikinya.

Selain superhero-sidekick, dalam tingkat yang lebih spesifik, menurutku ada juga tipe leader dan tipe back-up player. Dan aku meyakini, tidak semua orang bisa jadi pemimpin. Hehe, bisa ditimpuk sama para motivator handal nih, while they said, "semua orang bisa jadi pemimpin!"

Aaanyway, kalau leader-backup player mungkin sifatnya sedikit hierarkis ya. Apalagi kalau hubungannya sama struktur sebuah organisasi. Tapi sekali lagi, yang bukan pemimpin itu tidak berarti payah. Back-up player juga punya karakteristiknya sendiri. Apa jadinya jika pemimpin memiliki back-up player yang ngotot pengen ngatur dan ngga mau diatur? Dan apa jadinya jika back-up player yang tidak punya mental pemimpin harus me-manage ini dan itu?

Seorang back-up player, someday bisa jadi pemimpin. Karena mungkin mereka memang punya mentalitas dan skill untuk berada di ujung tombak, tapi mungkin kesempatannya belum datang. Sementara jika seorang back-up player tidak kunjung jadi pemimpin, well, itu bukan berarti mereka ngga mampu naik pangkat. Analoginya sama seperti "semua guru itu pasti pinter, tapi tidak semua guru yang pinter itu bisa ngajar" Nah ngajar itu sama seperti memimpin, ada teknik dan mentalitasnya tersendiri. Bisa dilatih memang. Nah disinilah yang mungkin dibilang para motivator itu : semua bisa jadi pemimpin, jika teknik dan mentalitasnya didorong hingga titik yang paling maksimal. Tapi maksimal itu tidak sama dengan optimal, bukan? IMHO, it doesn't counts then.

But all in all, everybody, both leader and back-up player, both superhero and sidekick, are the boss of theirselves. This one is definitive. If you think you're not, you should think you are. Like I'm on my way pulling it off. Haven't doing it right, so I'm working on it.

Oh and by the way, who am I?
Based on experience, if I'm not mistaken myself,
I'm a proud sidekick and attempted back-up player.


So I hope 'they' dig it.
*beuh, curcol :p

Sunday, May 30, 2010

just the SLOW ONE

12.18 am @ meeting room

i was in my bedroom when bang ade asked me to replace him for this slowrock radioshow at 1 am. He asked me just a moment before midnite. And somehow i just can't say no. Besides, i still can't sleep. Daripada kethap kethip ga jelas, mari manfaatkan troublesleeping ini untuk dui.. Eh salah.. Maksudnya untuk menghibur pendengarrrr.. :p

Tapi sunyi sepinya studio ini bikin jadi tenang. Rasanya jadi dapet kesempatan buat melek malam tapi duduk tegak (ngga glesoran di kamar kaya biasanya), berkonsentrasi, berhenti sejenak dan berpikir. soal ini. soal itu. semuanya. ada seorang teman yang pernah bilang aku itu orangnya semua-mua dipikirin secara berlebihan, sampai ke hal-hal yang ngga perlu. but for tonite, aku pikir semua yang membuatku kepikiran itu beralasan. semua beralasan.

walah kok malah ngalor ngidul. siaran ah.

okay. here we go. second attempt.
*ngucek2 mata, nguap*

Monday, May 24, 2010

what's KUALAT in english?

err.. accursed? disobeying? what?

Ah sudahlah pokoknya kualat. Lagi. Untuk kesekian kalinya. Tiap kali aku bilang ''haduhh males ah dengerin lagunya band ini atau itu''.. Somehow aku malah ketemu sama mereka.

Itu lho, you know... Fenomena band-band lokal yang menjamur.. Based on my opinion, ada yang melayu, ada yang liriknya picisan, ada yang vokalisnya sok cassanova, gitu-gitulah. Nothing to do with their music lho ya. Kalo masalah kualitas mah relatif, and who am I judging? It's just.. musiknya ngga masuk aja ke kupingku.

Nah, tiap kali ada yang band begituan, anak-anak disini malah suka ngeledekin : "Wauuw, ini lho Dil, band kesukaanmuuuuh!" Sementara akunya : "Huah! Ogah! Apa-apaan?!" Pokoknya emoh-emoh ga jelas gitu deh. Nah kalo udah gitu, naga-naganya bakal kualat. Malah jadi ketemu sama band-band itu. Coba kuingat-ingat...

Mendadak backstage-interview band berbasis massa guede, yang vokalisnya bapak-bapak ganteng (kata fansnyaa..) dan suka ngegantungin kacamata kebalik di leher belakang.

Jadi MC dan harus presents (dan otomatis juga mesti ngomong yang baik-baik tentang) band yang dipuja sekaligus dibenci, yang vokalisnya berambut obrak-abrik wetlook ke muka semua.

Dan sore ini... Ngegantiin siaran kok ya kebetulan ada interview band yang nyanyinya pake cengkok meliuk-liuk mengeja "..hanya satu ce-i-en-te-aaa"... Disuruh ikut nyanyi pula sama vokalisnya.




*speechless mengenang momen itu. nutup muka pake tangan*




Apa aku mesti bilang "Males! Males sama Mew!" biar bisa ketemu Jonas, Silas, sama Bo?