Showing posts with label WTF. Show all posts
Showing posts with label WTF. Show all posts

Sunday, February 14, 2010

Kids nowadays...

.
Ehehe. Sok tua ya kalau aku ngomong kaya gitu. Or I really am? :) Yah pokoknya gitu deh. Soalnya suka heran ngeliat tingkah anak-anak di kosku ini. Mereka sering melakukan sesuatu yang suka ngga make sense di aku. Kemungkinannya cuma 2 : mereka yang alay, atau aku yang terlalu uzur. Hmm. Million dollar question, indeed :p

Nah kali ini ada satu kasus lagi. Suspectnya, sebut saja si Upin dan si Ipin :p Kamarnya disebelah kamarku, dan yea, they're not even 20 y.o. yet. Baru semester satu. Malem ini mereka melakukan sesuatu yang terasa itchy itchy gimanaaaa gitu. Tingled my stomach. Rasanya persis sama ketika nonton sinetron yang absurd itu. Hehehe.

Semua itu bermula ketika tadi pagi aku menemukan tulisan ini di kalender deket tempat nonton tipi. Waktu itu aku udah buru-buru berangkat ngantor, jadi ngga terlalu notice.

Alay ya? Aku pun agak shock melihatnya.

Nah, malem harinya, tepatnya tadi, pas aku pulang, mau buka pintu kamar, tiba-tiba si Upin, ujug-ujug keluar dari kamarnya, dengan senyum yang lebar, tanktop, celana pendek, dan rambut keritingnya yang awut-awutan :
"Hai mbak Dilaaaa!! Selamat malam valentine! Mari kita lupakan, mbak! Aku valentine malah putus lho sama pacarkuuu"

"Ha? Mari kita lupakan? Oh, berarti yang nulis di kalender belakang itu kamu toh?"


"Iya mbak!"

*sambil masih cengar cengir*


"Oooh kamu.."
*nahan senyum* "Err.. Kok tiba-tiba putus?"

"Ngga tau tuh mbak, tanya aja orangnya! Ah biarin aja mbak! Dunia belom berakhir, biarpun aku udah 4 bulan jalan sama dia. Biarpun besok valentine, tapi biarin ajaaa.. hahahahhaha"
*
ketawa ngikik sambil masuk kamar*
Oh dear. Kaya' orang setres deh dia, sumpah. Rambut awut-awutan, ngikik-ngikik ga jelas. Geli tapi prihatin. Belom lagi kalo inget tulisan di kalender itu. Oh. Perutku rasanya mulai kaya' dikitik-kitik.

Tiba-tiba si Upin keluar kamar lagi, still with big grin and messy hair.
"Mbak, aku punya coklat buat mbak Dila!"

"Euh.. Tapi kan, errr.. valentine-nya besok?"


"Lho, tapi ini kan malam valentine mbak!"
Duarrr. Seakan 'valentine' belom cukup mehek ngga jelas, ini ada lagi 'malam valentine'??!! What the heck? Udah pengen ketawa rasanya. Tapi demi menghargai kondisi si Upin yang sepertinya sedang agak terguncang tapi dianya ngga nyadar, aku menahan mulutku untuk tidak berkata yang sekiranya agak nyinyir.

Tiba-tiba si Ipin yang dari tadi diem-diem aja ikutan nyeletuk :
"Mbak, aku juga punya coklat lho buat mbak Dila, tapi ntar tak kasihnya pas jam 12 aja!"

"Hah? Kenapa mesti jam 12?"


"Lho kan pas malam Valentine-nya mbak!"
Lalu mereka berdua mulai cekikikan, asyik membahas soal kisah cinta si Upin, dan berandai-andai soal future boyfriends mereka.

Sementara itu aku mulai pusing karena mendengar kata 'valentine' dan 'malam valentine' terlalu banyak. Ada apa yeuh sama mereka yang begitu mengkultuskan Valentine? Atau aku yang terlalu careless? Ah engga deh kaya'nya, mereka yang overdosis kurasa.

Tapi mereka sampe sengaja ngasih aku coklat lho. Berarti mereka emang menganggap hari itu sebegitu pentingnya. Akhirnya, setelah mikir-mikir (dan sadar kalo rokok habis), aku pergi ke Indomaret. Beli rokok sekalian ngebeliin mereka Conello yang ad-message-nya soal cinta-cintaan itu. Begitu aku kasih tuh es krim, they're going frenzy! Aku sampe kaget.
"Awwww! Makasi mbak Dilaaaa!!! Tuh kan, ngga ada pacar juga gapapa!"

"Yo pastinya! Tunjukanlaaaah rasa cintamuuu.."

*nyanyiin jingle ad-nya*


"Lupakan valentine! Lupakan Somad!"
*nama mantannya*
Lalu mereka berdua mulai cekikikan ngga jelas, dan chattering around sambil makan es krim. Aku cuma bisa nahan senyum, pamit masuk kamar, masang headphone, ngelus dada sambil mbatin : Kids nowadays...


ps :
Pas jam 12 aku posting ini, kedengeran dari kamar sebelah :
"Ah, jam 12, selamat hari Valentineee.. Huhuhu, kok ngga ada yang sms ngucapin met valentine sih?"

"Nih tak kirimin! Aku juga ga dapat sms nih.. Kamu sms aku dong.."


"Pulsaku habis.."


"Yahhh.."


Yak. Saya officially migren
.

Thursday, January 28, 2010

On an urge to screaming out loud

.
*menghela napas*

I lost myself. Soooo damn frustrated.

Ah. Apa coba? Nulis begituan mulu. I wish I could just spill it out. Tidak harus menulis secara cryptic disini. Bisa easily refers to this and that. Cerita sama orang? Bisa. Tapi cuma skin deep saja. Skin. Deep.

Some people said, aku orangnya cair, ekspresif, suka cerita, ekstrovert, atau apalah. Menurutku sendiri sih ngga sepenuhnya seperti itu. Ya, kalo hal-hal yang fun, emang gampang buat dibagi-bagi. Tapi tidak untuk hal-hal sebaliknya. Sadar atau ngga sadar, ibarat gosip, aku selalu menyimpan bagian yang paling juicy untuk diriku sendiri. Ha. Juicy? Bitter mah iya. Bukan karena aku ngga pengen sharing. Bukan. Sebenarnya sangat sangat sangat ingin. Tapi selalu ada suatu titik dimana aku takut tidak lagi bisa menghadapi masalah itu sendirian, karena, errr.. terlalu terbiasa sharing. Aneh ya logikanya? I don't know. Recently it's just happened like that.

Juga karena aku ngga pernah 'nyampe' buat nyeritain sesuatu yang terlalu jauh di dalam sana. Biasanya butuh waktu yang cukup lama sampe akhirnya aku bisa cerita sesuatu yang bener-bener dari 'Davy Jones' Locker'. That black-box remains untouched, locked and killing me inside.


Rrrraahhhh. Mau meledak rasanya kepala.


Aaaaanyway, tomorrow I'll bounce overseas for a while, sort of office trip. Not so over-seas though. Just over South China Sea. Felt a bit giddy because, you know, office affair always got it's razzle dazzle, which, made me uneasy. Ah well, I'll just drag myself there and try to sip it to the fullest.
.

Tuesday, January 26, 2010

Yadda yadda yadda. Blah.

.
Iyeeeehhh pagi-pagi udah ribet aja sih??
*jambak-jambak rambut*

Oh come on. Come oooon. No need to worship those unnecessary things, along with those simply ridiculous reasons. I know I'm not sophisticated enough, soooo under your league. Whatever you name it. But believe me, I'm no homo erectus.

I'm sorry. I won't meet the requirements you've been made. In a very purpose of me. I don't care. Well, I didn't break it, just bend it. Because for me, in my very humble opinion :
This. Is. Such. A. Crap.

Dear the Noble, really, i didn't mean to be such ungrateful. Thank you for giving me this opportunity. It's just the way you treat me afterwards.

But again, that's okay. I'll just smile politely and say :
"Okay. Your wish is my command!"

Wait till you see me later. Ha.
.

Thursday, January 21, 2010

Menyumbangkan lagu = membuat lagu jadi sumbang

.
Terima kasih kepada ruangan-ruangan kedap suara di tempat kerja, yang memungkinkanku untuk menyanyi keras-keras, walau sumbang sekalipun.

Terima kasih kepada teman-teman gila dan box-box family karaoke yang terjangkau harganya, yang memungkinkanku untuk menyanyi keras-keras, walau sumbang sekalipun.

Terima kasih kepada mp3 player, jalan raya sepi di subuh hari dan motorku tercinta, yang memungkinkanku untuk menyanyi keras-keras, walau sumbang sekalipun.

Terima kasih kepada tim paduan suara SMP, yang mengajarkan dasar-dasar menyanyi (meskipun akhirnya tidak teraplikasikan dengan baik olehku), yang memungkinkanku untuk menyanyi keras-keras, walau sumbang sekalipun.

Terima kasih.

Terima kasih pada semua kesempatan yang memungkinkanku untuk menyanyi, walau sumbang sekalipun.. Karena seperti sebuah rehearsal panjang, malam resital ini akhirnya tiba juga. Yea. Malam yang bikin pengen MAKAN orang. Malam dimana aku dan Radith yang seharusnya ngemsi dan hanya ngemsi, ehhh malah disuruh nyanyi. Yea. NYANYI. Di sebuah acara reuni pelajar SMA angkatan '50-an, which, mereka hanya mengenal lagu sebangsa Aryati atau Tennessee Waltz. Sementara sehari-hari aku meracau Zookeeper's Boy, meneriakkan Starlight atau merepetkan bridgenya The Walk. Ooops maap. Disuruh nyanyinya bukan cuma pas malem aja. Tapi juga di acara lanjutan keesokan harinya. Beuh.

Ini semua gara-gara EO-nya yang rada ble'e.

SATU, ngemsi jam 6 sore, baru dikabarin jam 4 sore. Padahal posisi aku lagi hectic, kerjaan buanyak, ujan gede, tapi musti pulang dulu ngambil tetek bengek wardrobe ngemsi.

DUA, engga dibriefing sama sekali, engga dikasih rundown, dan ngga ada runner yang ngurusin decision making.

TIGA, orang-orang EO-nya petantang petenteng judes bener, tapi ditanyain hal yang dasar aja ngga bisa mutusin.

EMPAT, udah pernah ditanya apakah aku tipe emsi penyanyi. And I said NO.

Tapi ketika, LIMA, acara mulai ngga jelas mo ngapain (iyalah rundownnya aja ga ada), aku disuruh nyanyi. Diiringi solo organ. Yak, betul, di hadapan sekitar 100-an bapak ibu berusia 60-70 taun, aku disuruh menyanyi SERIUS sebagai bagian dari acara.

ENAM, dengan aku yang akhirnya nyanyi seadanya, rasanya bersalahhhh banget sama audiens. They deserve something better. Padahal kan bukan sepenuhnya salahku juga. Orang dibilang aku bukan emsi penyanyi??

Pokoknya tertekan banget deh. EO-nya careless. Audiens-nya demanding. PLUS disuruh nyanyi lagu-lagu yang ngga dikuasain.

But I will not let that EO thingy bring me down. Hahaha. Dengan skill seadanya dan modal ingatan seuprit hook lagu-lagunya, akhirnya aku sukses menyanyikan L.O.V.E, Quando Quando, Words, Yesterday, Yogyakarta, Sepanjang Jalan Kenangan, dan beberapa lainnya. Sukses apa engga ya? Yah at least ada yang tepuk tangan dan sing along with me lah :) Kata bapak playernya juga lumayan kok. Paling engga ngga deaftone lah. Tinggal dilatih gitu katanya. Beuh. Tinju kali ah dilatih.

Btw, Radith ngga ikut nyanyi kok. Dengan penuh kesadaran dari awal dia bilang "Mba, aku ngga bisa bantuin kamu ya.." Hihihi ngga papa dek Rara... Soalnya sekalinya dia ikut nyanyi, lagu yang aku cuma inget sepotong hooknya di kepala dan sedang susah payah kuraba-raba nadanya jadi buyar semua. Hahaha. But we really had a goooooooood time, yes Dith? :D

'Good' banget sampe pengen ngobrak abrik venue acara rasanya.
RRrrrRRAhhHHrrrr.
Haduh. Ngga lagi-lagi deh beginian.



Kecuali aku boleh nyanyi Zookeeper's Boy juga yaw :)
.

Tuesday, January 5, 2010

And you pushed me this far...

.
... dear laptop bututku.


Yes. Kemaren sore, laptopku yang udah bermasalah itu akhirnya mati total. You can say that again. MA-TI-TO-TAL. Jadi ngga cuma masalah hardware (LCD, harddisk etc) tapi juga masalah software. Ada sistem yang crash di dalam sana... Dulu pas jaman cuma mota-mati LCDnya aku engga servisin, soalnya mesti nginep lama, dan aku pikir ah, masih bisalah ditahan-tahanin. Eh akhirnya protes juga si laptop. Metong dia. *sigh*

Sekarang aku sedang laptopless (bukan topless yak), karena si laptop lagi diservis. Aku pun secara resmi menjadi parasit, menclok sana sini. Untung selalu ada orang yang baik hati membantu. Oh.. biarkan Tuhan yang membalas kebaikan mereka... Ehehe


Agak sedih, tapi udah paham sih. Sooner or later ini pasti bakal kejadian. Salahnya aku aja ngga antisipasi. Dalam aspek finansial terutama :D Oh ya, sepertinya ini akan menjadi last attempt ku dalam hal bolak balik reparasi. Setelah ini, ngga tau deh. We'll see. Sapa tau kejatuhan duit sekarung, trus bisa beli HP Envy :D

Ya sudahlah. Meskipun harus melewati malam-malam mati gaya tanpa laptop di kamar, nebeng laptop temen kalo mo kerja.. Disabar-sabarin ajaaa.. Cobaan, cobaan :D
.

Sunday, December 20, 2009

Terkapar pasrah

.
Udah berasa penggalan stensilan aja tuh judul. Ehehe. Yea, itu keadaanku saat ini. Setelah dihajar bermalam-malam begadangan (yang not in purpose), siaran-siaran subuh, semalem slowrock lanjut jaga rekaman (means 1 to 5 am), trus jam 10 paginya musti ngemsi.

Nah ngemsinya ini yang bikin pengen cerita dikit. Habis siaran slowrock kan nyempetin tidur bentar, tuh. Tapi begitu bangun, hadahhh, itu mata pedesnya ampun. Mana kudu dicolok softlens lagi. Mengalir dahsyat air mataku. Udah gitu ini eyebags, beuhhh.. Dasarnya ngga bisa dandan, ngga tau tekniknya nutupin kantong mata. Jadilah ngemsi tapi tampangnya kaya orang habis pesta miras semaleman. Matanya merah dan bengkak.

can you see how teler I am? blah, sok misterius gitu lagi posenya.
mungkin aku khilaf sehingga memilih berpose sedemikian rupa.


Owh. Jangan lupakan juga faktor heels shoes I wore. Yang harus dipake dari pagi sampe acara selesai (yang janjinya kelar jam 2 siang, tapi ujungnya jam 5 sore). Ngga tinggi kok. Tapi dasarnya engga biasa, pake kitten heels, yang cuma 3 sentian aja betis udah kelojotan, kaki pada lecet semua. Sigh.

Okay. Enough about me. Aku ngantukan dan berantakan, itu biasa. Tapi yang bikin aku totally alert ditengah pedih mata dan derita kakiku tadi adalah organizer acaranya. Oh good God. Bikin gemesss. Yang ngga perlu diurusin, yang perlu malah dicuekin. Ngga taktis. Ngga tanggap. Ngga ada runner or siapalah yang in charge buat decision maker. Aku kan cuma emsi yah? Dan semuanya pada sotoy sendiri-sendiri. Padahal aku perlu banget buat meng-confirm banyak.. BUANYAK hal standar yang ngga diurusin sama sekali. You know what? Ngakunya EO slash menejemen artis, tapi rundownnya kaya' susunan acara upacara bendera! Tanpa timeline. Tanpa breakdown. Tanpa PIC. Cuma disusun poin 1,2,3, dst... It's not a rundown though!

Okelah kalo mungkin emang belom biasa bikin event. Selalu ada yang pertama. Tapi mereka ini di awal ngomongnya gede banget. Bilang udah bikin acara serupa di Batam, Jakarta, sukses bla bla bla. But lately, satu crewnya bilang : ini event PERTAMA mereka. Ihhhh, kenapa mesti bohong sihhh????

Hhhh. Kalo mau dibahas satu-satu, panjang! Satu contoh lagi deh. Jadi ceritanya, ada satu orang panitia, dengan posisi setara stage manager, tapi dengan pedenya bilang "Nanti kamu saya temenin ngemsi. Saya biasa ngemsi kok". Eh? Apa bisa efektif, gitu? Stage manager ngemsi? Ditengah event yang preparationnya kacaw balaw, masih mau ngemsi juga? Tapi kupikir, ya sudahlah, siapa saya ikutan ngatur-ngatur? Dan ternyata benar. Ketika aku nanya acara selanjutnya apa (secara 'rundown' itu udah ngga bisa dipake karena diobrak-abrik sama mereka dengan sisipan-sisipan acara entah apa), si stage manager bilang "Iya, iya, udah siap kok performer selanjutnya".

Akhirnya aku nurut, langsung announce meskipun aku ngga melihat tanda-tanda kehadiran sang performer di sekitar stage. Dan apa yang terjadi kemudian sodara-sodara??? Di atas panggung si stage manager berseru, pake mic : "Panggilan kepada dancer XXX untuk segera menuju ke panggung, sekarang juga!! Saya ulangi, dancer XXX, harap segera menuju panggung!!!" AKU TERNGANGA. Hey you, Mr. stage manager, tugas Andalah untuk memastikan dancer itu siap disisi panggung, whatever it takes, tapi BUKAN dengan cara memanggilnya lewat mic, di depan semua hadirin! Emangnya ini valet parking??? Sumpah, aku jadi malu sendiri.

Masih banyak lagi kejadian-kejadian semacam itu seharian. Banyak. Sumpah. Emosiku beberapa kali ikut naik. Jadi agak nyolot juga. Yahh, namanya ngemsi sedikit banyak pasti punya sense of belonging biar acaranya running smooth kan. Kasarnya, nutupin jelek-jeleknya. Ngulur-ngulur waktu kalo performer belom siap. Membuat audiens tetap stay. Apa ajalah. Aku udah ngelakuin semua yang bisa aku lakuin. Tapi rasanya tetap tidak bisa menutup flawsnya acara tadi.

Iyalah, gimana bisa nutupin cela kalo stage managernya aja kehilangan jejak performer selanjutnya dan manggil mereka pake mic, dari atas panggung...

.

Wednesday, December 9, 2009

In order of compromising

.
Belom aja setengah hari, tapi udah ngelus dada berkali-kali. Mungkin inilah yang dinamakan seninya berkompromi. Berkompromi dengan berbagai macam orang.


Orang yang meminta, tapi tidak mau jika memberi.
Orang yang mencela, tapi tidak mau jika dikritik.
Orang yang menolak, tapi tidak mau jika dinafikan.
Orang yang meremehkan, tapi tidak mau jika dinomorduakan.


Saya akui, saya bukan si gadis berhati mulia. Yang selalu berpikiran baik atas sesuatu. Yang selalu bisa menahan mulut untuk tidak berkata jahat. Apalagi jika berurusan orang-orang seperti diatas.

Tapi saya tidak berhenti berusaha. Dan saya pikir hari ini saya cukup berhasil.

*istighfar*
.

Tuesday, November 24, 2009

Oh well..

Ini cerita tentang seorang Gadis Naif yang sedang mencari sarana relegasi diri. Pergilah dia ke suatu tempat dengan mempertaruhkan semua yang dia punya pada saat itu, untuk mengikuti tes di sebuah instansi.

Ternyata di tempat tes dia berjumpa dengan Teman Kuliahnya. Beberapa tes mereka lalui sampai tahap terakhir yang menyisakan 5 orang : Si Gadis Naif, Teman Kuliah, Kandidat Lain 1, Kandidat Lain 2 dan Kandidat Lain 3; untuk 1 buah formasi saja. Si Gadis Naif, dasarnya emang naif ya, cengar cengir aja ikut tesnya, sampai suatu ketika si Teman Kuliah berkata :

"Ah, lo tau ngga sih, instansi ini tuh banyak titipannya kali!"

"Masa sih? As if ini instansi basah aja... Ngapain nitip-nitip?"

"Yeee, ga percaya. Lo tau Temen Kosan gue? Bokapnya kan orang instansi sini. Si Temen Kosan gue, ibaratnya udah ditekin 1 tempat begitu dia lulus entar!"

"Ah seriusan?"

"Iya! Anggeplah 50% yang masuk sini tuh pasti titipan! Jadi kalo entar bukan gue ato elo yang masuk, gue yakin itu pasti titipan!"

"Hooo.." *garuk-garuk kepala*

And so it is. Si Gadis Naif tetep ngejabanin tes dong ah. Udah jauh-jauh juga. Bawaannya positif thinking aja dia mah. Sementara Si Teman Kuliah ngga berenti mengungkapkan kekeselennya bahwa untuk tes yang satu ini, dia mengorbankan 2 tes lainnya, karena kebetulan waktu tesnya bersamaan.

Si Gadis Naif mencoba menghibur :

"Ya udahlah mak, lo pilih aja yang menurut lo sreg"

"Pusing gueee. Yang tes disono sebenernya gue udah dititipin sama sodara gue. Tapi lo tau ga sih, disono tuh kalo udah masuk kerjaannya ngga ada. Ngapain gue entar? Kalo yang satunya lagi, saingan gue masih ribuan! Mending disini, cuma tinggal 5"

"Nah itu jelas. Brarti lo ngikut tes akhir yang ini aja"

"Tapi yang disono gue udah dijamin masuk sama sodara gue"

"Wah?? Enak dong. Elo mau disana aja?"

"Tapi dijaminnya sampe interview doang. Disana tuh ada tes fisiknya mak. Mana saingan gue yang lain bodinya lebih keren-keren! Mending juga gue disini!"

"Ya udah kalo gitu.."

"Tapi ya mak, kalo disini tuh banyak titipan! Nyesek kali mak kalo udah gue belain-belain lepas yang punya sodara gue ternyata bla bla bla bla bla blaaaa"

Dan acara bla bla bla itu berlangsung panjang. Si Gadis Naif sebenernya ngga pernah keberatan ngedengerin orang curhat. Tapi si Gadis Naif juga bingung. Dibandingkan sama Si Gadis Naif, Si Temen Kuliah berdomisili di kota yang sama tempat tes-tes itu berlangsung. Ngga perlu kesasar, karena kemana-mana dianterin atau naik taxi. Ngga perlu pusing ijin kantor dan ngelembur kerjaan sebelum bolos. Ngga perlu juga ngirit-ngirit duit buat ongkos karena toh masih 1 kota. Punya sodara yang bisa ngejamin pula...

Tapi, ah, ya sudahlah, setiap orang kan burdennya sendiri-sendiri. Lalu Si Gadis Naifpun tetap tabah (panemuan) mendengarkan penuturan si Teman Kuliah, yang terus minta pendapat, tapi setiap pendapat yang diberikan terus menerus disangkal dengan 'iya sih, tapi...'

Akhirnya hari pengumuman tes instansi tersebut datang juga. Pengumumannya via website instansi. Si Gadis Naif kesulitan mencari koneksi internet sampai akhirnya dia memutuskan untuk bersabar sebentar, baru nanti nyoba ngecek lagi. Tapi sebelum mengecek sendiri, tiba-tiba datang sms dari si Teman Kuliah :

"Mak, Kandidat Lain 2 tuh yang interview bareng elo ya? Dia yang lolos. Gue yakin dia titipan! Gila nyesek banget gue. Udah gue lepasin yang dijamin ama sodara gue, akhirnya tetep begini"

"Ohhh gitu. Aduh, sedih deh. Ya udahlah mak, bukan rejekinya kita kali mak. Tapi masa sih si Kandidat Lain 2 itu titipan?"

"Iyalah. Jujur ya, sebenernya di instansi ini gue juga udah dititipin sama temen bokap gue. Udah sampe ke kepala biro kepegawaiannya. Katanya nilai interview gue paling tinggi. Skripsi gue juga dibilangnya pas banget sama posisi ini. Tapi tetep ngga masuk juga, apa dong namanya kalo si Kandidat Lain 2 itu bukan titipan juga? Ih gila ya mak! Tau gitu kan yang punya sodara gue engga gue lepas!"

Lalu sms-sms itu berlanjut. Si Gadis Naif cuma bisa ber 'oh ya? wah sabar ya..', sementara si Teman Kuliah terus-terusan mengeluh. Ya, wajar jika Si Teman Kuliah sangat kesal dan kecewa... Tapi tiba-tiba si Gadis Naif teringat perkataan si Teman Kuliah :

"Kalo bukan gue atau elo yang lulus, yang lulus pasti titipan!"

Kok si Temen Kuliah bisa yakin bener bilang gitu? Nyatanya si Teman Kuliah juga menitipkan dirinya? Jadi dari awal, si Gadis Naif emang ngga punya peluang dan si Teman Kuliah tau itu? Tapi.. Tapi..

Yah, jadi ikutan 'tapi-tapian' deh :)

And then Si Gadis Naif just take it slow. Because denial won't get us anywhere, right?

Friday, November 20, 2009

(sedikit sok tau) Tentang Rasa Keadilan

Elegi Minah dan Tiga Buah Kakao di Meja Hijau...

Jumat, 20 November 2009 | 08:09 WIB

Minah (55) hanya dapat meremas kedua belah tangannya untuk menepis kegalauan agar tetap tegar saat menyampaikan pembelaan atau pleidoi di hadapan majelis hakim di Pengadilan Negeri Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (19/11).

Tanpa didampingi pengacara, ia menceritakan bahwa alasannya memetik tiga buah kakao di kebun PT Rumpun Sari Antan 4, pertengahan Agustus lalu, adalah untuk dijadikan bibit.

Nenek tujuh cucu yang buta huruf ini sesekali melemparkan pandangan kepada beberapa orang yang dikenal guna memperoleh kekuatan. Ia berusaha memastikan bahwa pembelaannya dapat meyakinkan majelis hakim.

Dengan menggunakan bahasa Jawa ngapak (dialek Banyumasan) bercampur bahasa Indonesia, Minah menuturkan, tiga buah kakao itu untuk menambah bibit tanaman kakao di kebunnya di Dusun Sidoharjo, Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas. ”Kalau dipenjara, inyong (saya) enggak mau Pak Hakim. Namung (cuma) tiga buah kakao,” ujar Minah kepada majelis hakim.

Minah mengaku sudah menanam 200 bibit pohon kakao di kebunnya, tetapi ia merasa jumlah itu masih kurang. Namun, belum sempat buah tersebut dibawa pulang, seorang mandor perkebunan, Sutarno, menegurnya. Minah lantas meminta maaf dan meminta Sutarno untuk membawa ketiga buah kakao tersebut.

Alih-alih permintaan maafnya diterima, manajemen PT RSA 4 malah melaporkan Minah ke Kepolisian Sektor Ajibarang, akhir Agustus lalu. Laporan itu berlanjut pada pemeriksaan kepolisian dan berakhir di meja hijau.

Minah sudah berusaha melepaskan diri dari jerat hukum. Tapi usahanya sia-sia. Hukum yang mestinya mengayomi masyarakat dengan menegakkan keadilan, bagi nenek Minah, ternyata tak punya nurani. Hukum kita rupanya tak memberi ampun bagi orang kecil seperti Minah. Tetapi, koruptor pencuri miliaran rupiah uang rakyat melenggang bebas dari sanksi hukum.

Di Jawa Tengah, misalnya, empat bekas anggota DPRD dan aparat Pemerintah Kota Semarang yang menjadi terpidana kasus korupsi dana APBD Kota Semarang tahun 2004 sebesar Rp 2,16 miliar divonis bebas. Mereka bebas dari sanksi hukum setelah Mahkamah Agung (MA) mengabulkan permohonan peninjauan kembali mereka. MA menyatakan keempat terpidana itu tidak melakukan tindak pidana.

Muramnya penuntasan masalah hukum di Jateng masih ditambah lagi dengan putusan hakim yang hanya memberikan hukuman percobaan kepada pelaku tindak pidana korupsi. Salah satunya dijatuhkan kepada Ketua DPRD Jateng periode 1999-2004, Mardijo. Terdakwa korupsi dobel anggaran APBD Jateng sebesar Rp 14,8 miliar ini hanya diberi hukuman percobaan selama dua tahun.

Minah memang tak mengerti masalah hukum seperti para terpidana dan terdakwa kasus korupsi itu. Namun, dengan berkata jujur, ia memiliki keyakinan bahwa ia mampu menghadapi rimba hukum formal yang tidak dimengertinya sama sekali.

Terhitung tanggal 13 Oktober sampai 1 November, Minah menjadi tahanan rumah, yakni sejak kasusnya dilimpahkan dari kepolisian kepada Kejaksaan Negeri Purwokerto. Sejak itu hingga sekarang, ia harus lima kali pergi pulang memenuhi panggilan pemeriksaan di Kejaksaan Negeri Purwokerto, dan persidangan di Pengadilan Negeri Purwokerto.

Rumah Minah di dusun, di pelosok bukit. Letaknya sekitar 15 kilometer dari jalan utama Ajibarang-Wangon. Perjalanan ke Purwokerto masih menempuh jarak sejauh 25 kilometer lagi. Jarak sepanjang itulah yang harus ditempuh Minah setiap kali memenuhi panggilan Kejaksaan Negeri Purwokerto dan Pengadilan Negeri Purwokerto.

Satu kali perjalanan ke Purwokerto, Minah mengaku, bisa menghabiskan Rp 50.000 untuk naik ojek dan angkutan umum. Ditambah lagi untuk makan selama di perjalanan. ”Kadang disangoni anak kula (kadang dibiayai anak saya),” katanya.

Sebelum menyampaikan putusan, majelis hakim juga pernah bertanya kepada Minah, siapa lagi yang memberikannya ongkos ke Purwokerto. ”Saya juga pernah dikasih Rp 50.000 sama ibu jaksa, untuk ongkos pulang,” kata Minah sambil menoleh kepada jaksa penuntut umum Noor Haniah.

Noor Haniah yang mendengar jawaban itu hanya dapat memandang lurus ke Minah.

Elegi Minah tentang tiga kakao yang diambilnya melarutkan perasaan majelis hakim. Saat membacakan pertimbangan putusan hukum, Ketua Majelis Hakim Muslich Bambang Luqmono sempat bersuara tersendat karena menahan tangis.

Muslich mengaku tersentuh karena teringat akan orangtuanya yang juga petani.

Majelis hakim memutuskan, Minah dihukum percobaan penjara 1 bulan 15 hari. Jadi, Minah tak perlu menjalani hukuman itu, dengan catatan tidak melakukan tindak pidana lain selama masa percobaan tiga bulan.

Persidangan ditutup dengan tepuk tangan para warga yang mengikuti persidangan tersebut.

Kasus Minah bisa menjadi contoh bahwa penuntasan masalah hukum di negeri ini masih saja berlangsung tanpa mendengarkan hati nurani, yaitu rasa keadilan....


TAKEN FROM :

http://regional.kompas.com/read/xml/2009/11/20/08094942/Elegi.Minah.dan.Tiga.Buah.Kakao.di.Meja.Hijau...


Membaca artikel ini di pagi hari lantas terbengong-bengong. How could they, the corporate, just did that to the old lady? Atas dasar ingin memberi efek jera? Atas dasar takut rugi? Atas dasar rasa keadilan?

Hey, adil itu bukan berarti sama, bukan?

Lalu aku membaca artikel punya mbak Yenny SW dari ajrc-aceh.org. Disana disebutkan Keadilan dalam Kamus Hukum diartikan sebagai perbuatan, perlakuan yang adil, sementara adil adalah tidak berat sebelah, tidak memihak dan berpihak kepada yang benar.

Untuk penegakan keadilan tersebut, Indonesia menerapkan sistem hukum dengan paham positivisme. Penegakan hukum oleh hakim dalam teori positivisme menurut Hans Kelsen berarti keadilan itu lahir dari hukum positif yang ditetapkan manusia. Hakim terikat dengan hukum positif yang sudah ada, artinya mau tidak mau hakim harus benar-benar menerapkan suatu kejadian berdasarkan konsep hukum yang sudah ada.

Konsep ini ternyata pada beberapa kasus malah jadi jauh dari keadilan, karena sering sekali hukum positif itu ketinggalan dengan perkembangan masyarakat dan kemajuan teknologi, sehingga dalam penerapan teori positivisme tidak bisa serta merta dilaksanakan dengan paham legisme. Hakim boleh menerapkan teori ini pada kasus yang aturan hukumnya jelas, sehingga hakim tinggal menerapkan saja pada peristiwa kongkrit.

Tapi dalam hal peristiwa yang tidak ada aturan hukumnya hakim harus menemukan dan menggunakan analogi untuk penemuan hukum. Bahkan jika peristiwanya tidak diatur sama sekali dalam undang-undang, maka hakim berdasarkan ayat (1) Pasal 28 Undang-Undang (UU) Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman “…… wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat”.

Oke, mungkin mencuri memang bukan kasus tanpa aturan hukum. Matter of fact, kaidahnya sudah jelas. Tapi ada selalu ada special circumstances yang membuat seorang hakim harus duduk disana, dan menggunakan nuraninya. Penerapan hukum positif oleh hakim JUGA HARUS mengindahkan nilai-nilai dan rasa keadilan yang hidup dimasyarakat dengan sebaik-baiknya sehingga putusan yang dihasilkan oleh hakim bisa diterima dengan ikhlas oleh para pihak, dan keikhlasan inilah yang menjadi barometer keadilan dalam penegakan hukum oleh hakim.

Untunglah dalam kasus Bu Minah, majelis hakim sedikit banyak telah menyeimbangkan logika dan nurani. Yang jadi pertanyaan : bagaimana mungkin perusahaan ybs tetap memperkarakan seorang nenek buta aksara yang sudah mengakui perbuatannya bahkan mengembalikan barang buktinya?

Lalu bagaimana dengan kasus uang miliaran bahkan triliunan yang faktanya bisa dipelintir sedemikian rupa? Yang kasusnya ikut bikin pusing rakyat Indonesia? Yang terkadang juga didramatisasi oleh media? Yang bikin miris karena dimana-mana masih banyak rakyat negeri ini yang serba kekurangan? Yang membuat para pemimpin bangsa ini diduga ikut tersangkut juga?

Ah, uang, kuasa dan jabatan memang selalu bisa membuat manusia jadi kehilangan kemanusiawiannya.

Semoga Allah memberi hidayah pada mereka semua yang telah 'dibutakan' matanya.

Tuesday, October 20, 2009

Bersabar... bersabar...

Menahan amarah atau kata-kata ketus untuk tidak sembarangan berhamburan keluar itu ternyata...


SUSSSSYAAAHHNYAAA AMPYUNNNNN


Baiklah. Kalau memang saya dewasa, saya bisa mengatasinya.
Tarik napas. Hembuskan.
Tarik napas. Hembuskan.
Tarik napas. Hembuskan.
Tarik napas. Hembuskan.
This is nothing. Nothing.

Monday, September 28, 2009

Meskipun kelakuan labil kaya' abege...

... Tapi gaya bahasa SMS ala abege agak-agak unacceptable bagiku. Humm mungkin karena usiaku yang emang udah ngga abege lagi. Buatku, bahasa SMS yang diketik not with the way how it used to spell, lumayan irritating. Bukan dalam artian singkatannya atau kaidah EYD-nya lho ya. We're talking SMS, ngga mungkin segitu sempurna EYD-nya kan? Tapi lebih pada effort si pelaku untuk membuat kata-kata dalam SMS menjadi lebih 'gimanaaa gitu.'

Nah, 'gimana gitu'-nya, menurut versi-ngawurku, ada beberapa tipe :

Pake huruf kapital-normal-kapital-normal-kapital..
KaLo YanG iNi no fuRTheR expLaNatiON Ya. SuDAh jaMaK aDa bBeRpa taHun siLaM.. KaDaR kEgangGuanNyA rinGaN Lah...

Dibikin menjadi 'imut'
Misalnya dengan mengganti penggunaan 'S' dengan 'Z', atau 'K' dengan 'G' atau 'Q'.. Or anything! Kaidahnya ngga ada. Yang penting kedengeran semacam babytalk.

Misalnya : kenapa jadi nupu; he eh jadi hu um; kalo jadi lok; lagi jadi ge; kok jadi kug; terus jadi teuz; etc etc. Contoh rangkaian kalimatnya : "hu um, ini no.qw. nupu iq kug mizkol2? qmuw ge dmn? "

Wuaduhh. Apalagi kalo laki-laki dewasa yang pake' gaya bahasa kaya' gini. Dobel waduh. Kesan apa sih yang mereka pengen dari gaya SMS kaya' gitu? Ga paham deh.

Didramatisir dengan menggunakan lebih banyak huruf
Oh, ya. Ini sekarang sedang populer dikalangan anak SMP dan SMA. Yaitu dengan menambahkan banyak, bahkan sebanyak mungkin huruf vokal atau konsonan, yang sebenernya ngga makna juga... Apakah sejatinya biar keliatan imut juga kaya' poin diatas? Ga paham juga.

Contoh : kalian jadi qliandt; kamu jadi qmuww; siaran jadi cyarann; etc etc. Atau sekedar memvisualisasikan keluhan "huh" jadi "huuufth"..




Now, bayangin kalo 3 aspek diatas digabung dalam satu SMS

Imagine this :
"hai kakak, kemana aja? kok ngga pernah keliatan? iihhh pasti main terus ya?"

Becoming this :
"Hi kKaa, kMna 'aj? kuG ggA prNa qLiaTand?? iiyyH pZti maEnd teuZ eaa?"





Euhh. No offense for the user, but... I. Just. Don't. Get. It.



PS :
Maap kalo contohnya ngga terlalu bagus nor masuk akal.. Can't really think any of it actually. Cuma seingetnya aja, beberapa kali sempet dapet SMS kaya' gitu, entah dari temen atau dari pendengar. Dan lumayan mikir ngebacanya. Apalagi ngebikinnya ya? Eh ngga tau So I wonder, how could those teens and adult-act-teens did it so often, everytime they texted??

Thursday, September 10, 2009

Sabar, sabar...

Ini bukan konfrontasi yang pertama.
Sepertinya, kali ini saya bisa menjalaninya dengan cukup baik.
Tapi tetap saja rasanya...

ARGHH.

Merasa disudutkan.
Merasa jengkel, emang 'situ' doang yang punya masalah?
Emang semua bisa diselesaikan dengan..
Frowning?
Gebrak sana sini?
Soto kali ah digebrak.

I had flaws.
You had flaws either.
So why wouldn't we do this good?
Talk as a civilized human.

That called team work, my dear fella.
Team. Work.