Showing posts with label indonesia. Show all posts
Showing posts with label indonesia. Show all posts

Thursday, May 12, 2011

E-MAIL = Errr, Mail?


Pertama-tama, anggota dewan kita yang terhormat pergi ke Australia ramai-ramai, trus ngaku ngga punya akun email resmi. Pakenya yahu.

Berikutnya, sang pimpinan bilang sebenarnya punya akun email resmi, dot go dot ai di, tapi karena kurang percaya dengan masalah keamanannya, jadilah si akun resmi terbengkalai.

Such a joke. Terbengkalai, dengan anggaran lebih dari 10 miliar setiap tahunnya?

Lalu modus baru muncul. Sang pimpinan ngga tahu kalau dana buat keperluan IT itu segitu gedenya.

Moral of the story : ngga bermoral sama sekali. Oh, uhm sorry, moral of the story bisa dibaca disini. This is the board of representatives, for God's sake. Dan kalimat yang akan saya tulis selanjutnya cukup klise : Gimana bisa mikirin kepentingan yang lebih esensial kalau dana miliaran bisa dianggarkan untuk sesuatu yang terbengkalai? Gimana bisa bekerja dengan efektif kalau teknologinya obsolete? Apa karena teleconference dengan perwakilan di luar negeri bisa membunuh kesempatan jalan-jalan ke luar negeri? Ke Yunani mempelajari etika? Ke Australia mempelajari kemiskinan? Can we just simply googling it? Dan menggunakan jatah pergi ke luar negeri untuk kepentingan lain yang benar-benar memerlukan tatap muka?

Hari pertama kerja di kantor baru (which is masih probation), saya dibuatkan sebuah akun imel dengan domain berbayar. Nama saya at nama kantor saya. And it works just like that. Uhm, apa kantor saya mesti nyoba pitching buat ngurusin akun resminya bapak-bapak wakil rakyat?

Ah tapi ngga perlu lah ya. Kan ahli telematika nan tersohor itu berkantor disana juga toh?

*mbatin : yea right...

Saturday, February 19, 2011

HOLY cow! HOLLYWOOD's gone?


Dari sekian banyak hal yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini, yuk kita ngomongin film.
Alasannya?

Satu : karena adanya surat edaran dari Ditjen Pajak Nomor 3 Tanggal 10 Januari 2011, yang berbuntut reaksi pihak Motion Picture Association of America (MPAA) dengan menghentikan impor filmnya ke Indonesia.
Dua : karena ini weekend. Mungkin di suatu weekend nanti, dimana biasanya para pasangan atau keluarga berquality time ria di bioskop tapi bakal 'kecelik' karena seluruh film Hollywood sudah lenyap dari lobby-card compartments.
Tiga : because Hollywood movies seen on a cinema's widescreen is a pure bliss for me, and for a lot of people as well.

Berita ini cukup bikin aku kaget, meskipun ngga lantas jadi ngga bisa tidur sih ya. Tapi pemikiran "mau nonton apa aku nanti? bisa ketinggalan film-film bagus aku nanti!" itu penuh di kepala. Ketika membaca bahwa memang sudah sepantasnya pajak film impor dinaikkan karena selama ini pajak film impor lebih murah daripada pajak film nasional, This tiny little mind trying to understand. Karena konon, pajak impor cuma dibebani per satu kopi film, yakni Rp 1 juta per kopi. Rata-rata film impor menyetor lebih kurang Rp 15 juta per judul untuk 15 kopi film. Sementara, film nasional harus membayar pajak untuk beberapa hal, mulai dari bahan baku, peralatan produksi, pajak atas artis, karyawan, pajak saat proses produksi, pajak pasca-produksi, dan untuk penggandaan kopi film.

Walau sedih dan cenat cenut kaya abegeband korea wannabe itu, aku berusaha merasionalisasi, sambil terus berdoa semoga pemerintah dan MPAA memperoleh win-win solution sehingga film Hollywood bisa tetep publish disini, dan pemerintah mendapatkan apa yang menjadi haknya. Jika perlu libatkan pendapat para pekerja film dalam diskusi. Karena dalam kasus yang lalu, sepertinya sineas kita menjadi partai oposisi yang sering dilupakan meskipun lebih mengerti film, sementara pemerintah merasa menjadi big daddy who knows everything. Inget kan kasus RUU Perfilman yang dulu? Semoga sih yang ini engga...

Tapi ketika aku baca pendapat Direktur Perfilman Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Syamsul Lussa untuk menyikapi ditariknya film Hollywood biasa saja, karena momen ini justru harus menjadi pemacu bagi insan film di Tanah Air untuk membuat karya yang jauh lebih baik, i was like "EH?" Karena menurutku pendapat itu tidak relevan. Bukan karena aku tidak menghargai pemerintah dan kebijakannya, atau tidak menghargai para filmmaker Indonesia. Bukan. Tapi menurutku membuat karya sinema yang lebih baik bukanlah merupakan sebuah efek kausalitas dari momen ditariknya film Hollywood.

Sederhananya : kalau kita mau bikin film bagus, ya memang sebuah kewajiban. Seharusnya bisa seiring sejalan dengan whatever foreign movies imported to our country. Dan untuk saat ini, film lokal kita memang BELUM bisa mengisi kekosongan yang ditinggalkan film Hollywood. Entah itu dari segi film lokal yang benar-benar bermutu maupun film-film lokal yang.. ehm.. ecek-ecek. Tolonglah jangan membutakan mata dari kenyataan. Kita memang belum bisa. Bahkan kalaupun nanti industri film kita berjaya, film Indonesia adalah film Indonesia. Film Hollywood adalah film Hollywood. Sinema tiap negara punya karakteristiknya masing-masing. Seperti halnya film Bollywood dan sinema Eropa. Beda, ngga bisa saling substitusi.

Long story short, industri film kita sedang pelan-pelan menggeliat, belajar untuk menjadi eksis. Dan proses belajar yang pertama adalah melihat, memperhatikan, lalu meniru. Begitu pula dengan industri film kita. Kita melihat film Hollywood (dan film-film negara lain), kita memperhatikannya. Lalu kita meniru, bukan untuk menjadi plagiat, tapi meniru efektifitas pembuatan, mise en scene dan lain-lain dari industri film yang lebih establish. Lalu mau belajar dari mana jika film-film itu lenyap dari negara kita. Mau dari DVD bajakan? Download via internet? Ya kita sih oke-oke aja (ehem, biasanya juga suka begitu) tapi bukannya bapak-bapak juga ingin memerangi piracy dan rights infringement? Nah lo.

Win win solution, that's all we need right now.

Monday, January 31, 2011

on MERAPI slope

Merapinya pas tertutup kabut.
Weekend kemarin, Oliph ngajakin ke desa Paten, 6 km dari puncak gunung Merapi. Oliph dan beberapa teman-teman relawan (yang lately menamakan diri mereka Grow!Indonesia) tetap 'nge-pos' di desa Paten sampai sekarang sebagai wujud follow through action dan karena memang sudah 'jatuh sayang' pada warga. Grow!Indonesia dan warga Paten bertemu di pengungsian Bumirejo saat terjadi erupsi Merapi akhir tahun lalu.  

Ketika sampai di Paten, everything's made me felt serene. Merasai dinginnya udara, menyimak diskusi teman-temanGrow!Indonesia, menikmati kesederhanaan, keramahtamahan dan kearifan lokal warga setempat, mendaki ke pos pengamatan Merapi di Babadan (and got overwhelmed by the view, all the way, back and forth) hingga bermain dengan anak-anak dengan energi yang tak ada habisnya. So warmhearted.

Speaking of the kids, yang suka main ke posko itu banyak banget, dan berada disana hampir sepanjang waktu. Tadinya mereka malu-malu karena aku orang asing yang ujug-ujug nongol. But with a bit drawing array as my party trick, the ice's finally break. It's just always work that way, thanks to this practical skill.

As for the babies, it's a far cry from those mailist-mommies' way. Disini bayi-bayi tidak mengenal puree buah sebagai MPASI. MPASI adalah makanan apapun yang ada di rumah, yang cukup lunak untuk disuapkan. Balita berjalan-jalan menyedot ingus tanpa alas kaki. Anak kelas 3 SD belum fasih membaca. Kalau ini semua bukan karena bencana, tapi memang demikianlah kultur disana.

Sementara itu, para pencari nafkah yang nyaris 100 persen berkecimpung di bidang agrikultur masih harus berjuang dengan minimnya modal untuk menghidupkan kembali sawah dan ladang mereka. Singkat kata pemulihan pascabencana inilah yang menjadi sorotan utama teman-teman Grow!Indonesia yang sedang mempersiapkan beberapa program. Yang pasti tindakannya bukan lagi berupa pengumpulan sembako dan sejenisnya, tapi lebih ke program post-catastrophe environment development; sebuah wujud pemberian 'pancing', bukan 'ikan'. Kalo pengen tau info selengkapnya dan berniat membantu, silakan hubungi mba Oliph ya.

Among my random dreams, one of them is contribute to the society. Someday I'll get there. Because this big big world with its big big problem, taught me many things.


PS. sedikit random shots dari Paten :

So puzzled. Siapa sih pemain sepakbola yang surname-nya NAMPOLeon? Nampol banget pasti dah.
Kertas rokok tingwenya bapak2 dan mas2. Segala kenikmatan duniawi tertera disana : manis, istimewa, murah, halus, memuaskan... Tapi mungkin memang agak ndableg dikit. Buktinya namanya "Melawan" :p

Wednesday, November 10, 2010

a DAY for the HEROES

Di Hari Pahlawan ini aku kuliah di UI. Kuliahnya jarak jauh, lewat tivi. Yang ngisi kuliah adalah the POTUS; President of the United States, himself; yang mampir sebentar dari kemarin sampai hari ini, less than 24 hours ke Indonesia.

Harus diakui, kharismanya beliau ini memang luar biasa. Meskipun apa yang disampaikan tidak ada yang baru, (around democracy, diversity, bilateral relations and a bit err.. propaganda, about Iraq and Palestine...) but somehow, the way he connected to our motherland surely brought massive attention. Issuenya masih seputar gimmick-gimmick masa kecil, dan bagaimana hal itu kemudian di blow-up secara lebay oleh media kita. Duh.

What I'm trying to say is... Koneksi POTUS dan Indonesia mungkin akan membawa keuntungan bagi hubungan bilateral kedua negara. Maybe. But, it's just... Agak kurang begitu sreg sama kesan 'reuni' yang tercipta pada kunjungan ini. Ya, ngga ada yang salah sih sama reuninya, justru terganggu sama reaksi orang kitanya sendiri. Well yes this is one special occassion. But not so special above all, sampai yang lain-lain dilupain.

Ah, tapi bagaimanapun juga, marilah kita tidak menjadi sceptical citizen. Pandang optimis semua kesempatan, termasuk datangnya POTUS. At least, all eyes on us. Siapa yang tahu manfaat apa yang akan datang di masa yang akan datang karena hal ini.

Anyway, hari ini tetaplah hari Pahlawan. Di tengah ingar bingar kedatangan POTUS, aku sempet nonton feature khusus hari Pahlawan di sebuah stasiun TV swasta, tentang seorang mantan pejuang yang tinggal di bunker karena ngga punya tempat tinggal. Dan kita tentunya juga sering lihat foto yang sumbernya entah dari mana ini :


Miris. This is also something worth to talk to, to fight for. Yang ter-outshine karena datangnya si mantan anak Menteng. Dulu, di acara ini, aku pernah ketemu veteran, mantan pejuang. Sempet ngobrol sebentar, dan kagum sama wawasan kebangsaan yang masih sangat melekat erat di diri mereka. Betapa mereka suka didengarkan, betapa mereka begitu bersemangat menyanyikan lagu-lagu perjuangan.

And from government, all they need is just a little more attention. Aku ngga tau sih gimana hitungan matematisnya... But if we can afford fancy cars, rings and (sometime useless) overseas trip for our state officials... Tidak bisakah kita menaikkan sedikit lagi tunjangan Rp. 250.000 untuk sekitar 800.000 veteran kita yang sudah sepuh-sepuh itu?

Dear Boss of the Universe, semoga di usia senjanya, para pahlawan kami selalu Kau limpahi kesehatan, kesejahteraan dan kebahagiaan. Amin.

Saturday, October 30, 2010

how are you, MOTHERLAND?


Apa kabarmu pagi ini, ibu pertiwi?

Dini hari Merapi kembali meletus, memuntahkan hujan pasir dan awan panas. Hingga Senin depan Mentawai masih rawan gelombang besar tsunami, dan bantuan belum kunjung merata. Korban jiwa berjatuhan. Jakarta macet terkunci karena banjir dan padatnya moda transportasi. Bapak ketua penyambung lidah rakyat dengan enak menggoyang lidah minim empati.

Di berbagai situs jejaring sosial semua orang ikut angkat suara menanggapi runtutan kejadian tersebut. Sebagian besar memasang profile picture "pray for Indonesia" seperti diatas sebagai simbol rasa simpati. Semua berduka, semua peduli. Sampai kemudian saya mendapati satu pendapat seorang teman di facebook, yang kurang lebih berbunyi seperti ini :

"Sebel sama orang-orang yang baru rame mendoakan bencana lewat status. Emangnya Indonesia kena bencana cuma sekarang? Apa kabar Lapindo? Apa kabar Wasior? Kemarin aja Wasior kena bencana Presidennya malah nonton bola!"

Hanya satu hal yang terpikirkan saat membaca status tersebut : why so sceptical, buddy? Memang benar negara kita tidak hanya kali ini dirundung bencana. Tapi, darimana dia tahu kalau orang-orang itu HANYA peduli pada bencana yang terjadi belakangan? Moga-moga sih mereka tidak hanya latah. Tapi kalau ternyata hanya ikut-ikutan, ada juga hal baik yang bisa diambil kan? At least orang-orang tersebut mengesampingkan keinginannya untuk menulis status "aduh capenya gaul di mall" with a simple prayer dan mengganti profile picture mecucu abege dengan logo pray for Indonesia. So, ada apa dengan mulut sinismu itu, teman? Indonesia tidak butuh orang skeptis. Indonesia tidak butuh pendapat-pendapat yang hanya membuat panas suasana tanpa menawarkan solusi.

Saya akui, saya juga sering berkata sinis terhadap sistem atau mungkin kebijakan-kebijakan di negara kita. Tapi paling tidak saya akan berpikir 2 kali untuk menyebarkan pemikiran saya tersebut, even with a mere facebook status. Menjadi sinis dan berontak itu tidak apa-apa. Tapi pastikan, ikuti dengan solusi. The tense is high nowadays in our beloved country. Jadi kalau mau ngomong ati-atilah.

Contoh yang baik adalah status Hagi Hagoromo. Beliau bilang : "bencana dan tanah yang subur adalah satu paket. Itu konsekuensi kita tinggal di ring of fire." Status ini tidak menyerang siapapun, menyampaikan pendapat dengan lugas, netral, memberikan hint dari solusi dan menarik kita untuk berpikir, ya, kita tinggal di ring of fire. Jadi maintenance kita harus lebih bijak dan siap lagi dibanding negara-negara lain. Status ini tidak skeptis seperti milik teman saya, atau ignorance seperti milik pak ketua penyambung lidah rakyat itu.

Menjadi nasionalis tidak harus menjadi sinis.
Jangan cuma asal njeplak tanpa solusi. We don't need that.
Mari kita berdoa dan bertindak sebisa kita untuk Indonesia.

Monday, August 23, 2010

they're ROCKIN, again

Kakak beradik ini, dulu sekitar Januari, pernah aku preview sepak terjangnya di postingan ini. Mereka sendiri udah sejak lama bikin-bikin video lagu2 cover version gitu. They're singing like breathing. So effortless but turns awesome.

Dan hari ini, aku liat sebuah video link di facebooknya si Ichi..



... Sheesh, really gives me shiver and jitter. Muda dan berbakat. They always put Indonesian flag in their videos so people won't think they are Filipino. Ah. Kalian luar biasa. Check out their youtube channel here.

Tuesday, June 8, 2010

MORNING scribbling

What's wrong with them?

Dana aspirasi? Jago aja nih kajian bahasa dan crafting copynya. Sampe bisa nemu kata 'aspirasi' sebagai manifestasi gelontoran duit 15 miliar setahun. Jadi copywriter aja gimana?

Pardon my French, saya memang cuma orang awam yang ngga super sophisticated dan analitis, pun ngga bisa nulis kata-kata yang pinter. Yang saya tahu, legislatif menyambung lidah rakyat, eksekutif mengeksekusi. Koridornya begitu, kewenangannya disitu. Kalau lidahnya 'tersambung' dengan baik, insya Allah perwujudan pembangunan bla-bla-bla yang mereka tuntut dengan uang aspirasi itu bisa terlaksana lah. Kurang bobol apa sih APBN kita mau ditambahin begituan? Bocor disana-sini, infrastruktur juga belum well maintained kok. Ga inget apa mau renovasi kantor anggarannya nyampe trilyunan? Aduh. Kok ya ga punya sense of crisis.

Lalu ini lagi, Ariel sama Luna Maya. Ups maaf. Harus pake tanda kutip biar ga ada pencemaran nama baik, wong belum terbukti ya. 'Ariel' dan 'Luna Maya'. Kok ya iseng banget sih pake direcord segala. Udah gitu kok rasanya absurd ya kalo infotainment pada pake kata 'video mesum yang mirip Ariel dan Luna Maya'.. Habis nyaris ga mungkin kalo itu bukan mereka sih. Ups :p Untung ybs could take care of theirselves. Kemana-mana masih bisa naik mobil dengan kaca gelap, sewa bodyguard, pergi ke luar negeri... And will end up married. Sebuah keyakinan platonik sejak jaman 3 tahun yang lalu... Tapi kok ini ada lagi yang Ariel sama Cut Tari?? Ups lupa, pake tanda kutip. 'Ariel' sama 'Cut Tari'. Kan belum terbukti :D

Then this news made me sad :'( ...
Immi can't afford to giddy her tour up. Dia ngga bisa meneruskan tour Ellipse-nya sesuai rencana sampai akhir tahun karena biaya. Meskipun jarang sekali ada review jelek soal musiknya dan fansnya sangat devoted, memilih aliran musik yang tidak mainstream memang resikonya berbenturan sama kapital. Tapi beruntung fanbasenya luar biasa. She said : "My biggest asset is not cash - it's a large, growing, devout fanbase. It's not about making tonnes of cash. It's just about being able to go and do a show for the people that really want to see it." Oh it's no bullshit. Dan aku bisa membayangkan dia, orang yang menggadaikan flatnya buat ngebiayain produksi albumnya taun 2005 ini masih ketawa-ketawa ketika tau dia udah ga punya duit lagi. Hehe, sok kenal amat akuh. Tapi rasanya sih dia akan begitu. Because she just love what she has been doing. And that's why I love her :)

Anyway, dari kemaren mau cerita lupa-lupa mulu. Gara-gara browsing Youtube, waktu masih melakukan investigasi soal ini, aku sempet terperosok ke channelnya wildminer, suami istri dengan 2 pasang anak kembar. Yang pertama cewe-cowo, Aiden-Riley; yang kedua cowo-cowo, Peyton-Brennan. Mereka posting video2 aktivitas anak-anak mereka, tapi paling banyak punya Peyton-Brennan, yang sangat sumeh, tambeng dan adorable :D Pertama nemu yang ini trus jadi ketagihan nyari-nyari yg lain.



Ini bocah-bocah emang bikin senyam-senyum ga karuan. Lucu. Bolak balik ditonton, sampe bisa ngebedain, mana Peyton mana Brennan :D



Ngalor ngidul yah.
Habis dana aspirasi, video mesum, Immi, terus P&B..

*garuk-garuk*


Tuesday, June 1, 2010

today's ISSUES

Hari ini 1 Juni 2010. Selain hari Selasa, hari ini juga merupakan :

1. Hari Susu Nusantara.
Dicanangkan oleh Departemen Pertanian sejak tahun lalu. Sudah minum susu hari ini? Aku sudah. Satu kotak separoan sama Zacky yang kebeneran bawa (ngapain coba dia bawa-bawa susu?) Aku ngga suka susu putih, baik yang segar/kental manis/bubuk. Bikin hok. Kalo coklat sih doyan.

2. Hari Kelahiran Pancasila.
Masih hapal 5 sila Pancasila? Apa? "Buat apa?" ..Hmm kalo gitu coba deh rumuskan 5 kalimat sederhana yang applicable untuk semua aspek kehidupan Indonesia yang majemuk ini. Engga bisa? Well, kalo gitu menghormati buah pikir para pelopor kita dengan mengingat setiap sila Pancasila won't bring any harm, right?

ps :
that ambush near Gaza Strip is apprehensive. Since I can't give sharp and intelligent opinions on this matter, I can only hope the best for the humanitarian envoy. Hey mister, combatant and non-combatant is entitled to a different treatment.

Friday, May 14, 2010

SAMSAT (beneran) cepat

*Saking kagumnya, aku merasa harus menuliskan ini :p

Untuk pertama kalinya, mengurus sesuatu yang berhubungan dengan birokrasi, which enhanced by the so-called latest technology, dan.. semua berjalan sebagaimana mestinya.

It's Samsat Online. Yang di DP mall.

Mereka menjanjikan max. 20 menit untuk pembayaran pajak.
Dan aku dilayani selama 15 menit termasuk antrinya.

Mereka bilang buka jam 1 after break.
Dan mereka sudah conditioning 5 menit sebelumnya.

Mereka requiring berkas-berkas fotokopian.
Dan mereka punya unit fotokopi disana.

Mereka menggunakan sistem antrian.
Dan counter, mic, serta monitor statusnya berfungsi.

Plus : petugasnya ramah dan komunikatif.

Okay, you may say, those services which I mentioned earlier looks normal, it was supposed to be like that. But when it comes to govermental thingy, well, let's admit it, things rarely happens as it should. And today, bureaucracy felt really friendly.

Kudos to Samsat Online. Keep up the good work :D

Monday, May 10, 2010

BULUNYA ditangkis

Sedang siaran nyambi nonton tim Thomas Indonesia lawan tim India, and this thought popped up :

seragam Tim Indonesia yang sleeveless a.k.a kutung itu warnanya putih, trus ada aksen blok warna merah, melintang dari leher kiri ke pangkal lengan kanan. Ketika dishoot dari jauh.. Kaya pake' baju one-shoulder, ya? :)

eh bukan melecehkan apalagi ngga ngedukung lho! Just a thought, just a thought ehehe

Indonesia! beg beg beg beg begg!
*mukul2 botol air mineral

Wednesday, April 21, 2010

a woman's worth

.
dear ladies,

SELAMAT HARI KARTINI :)



every woman is valuable,
for every wound, sweat, tears, laughter and dreams they have had.



ps :
Hari ini di radio pake jadwal khusus, yang siaran cewe semua. Yang setengah-cewe doesn't counts. Hihi, just kidding. Saya? Tadi siang siaran dangdut, nanti jam 7 siaran rock. How random. Nyari nutrisari yuk. Ngantuk nih..
.

Sunday, April 18, 2010

Semarang memilih

.
Hari ini Pilwakot. Sebagai warga Semarang yang tidak terlalu idealis tapi juga tidak skeptis, maka..

... Saya nyoblos! TPS dan petugasnya tematik : batik, beskap dan kebaya :D While saya datang habis siaran pake kaos gombrong dan short jeans sobek sobek. So contradictive, huhuhu.

.
.

Wednesday, March 3, 2010

Round of applause? Standing ovation?

.
Salah satu dari banyak drama multi-plot yang kita punya : sidang paripurna yang membahas kasus Century. Saya ini orang awam, tidak tahu banyak soal politik, dan tidak punya ulasan tajam mengenai ini. Satu hal yang saya tahu pasti : Selalu ada cara yang lebih baik untuk menyampaikan pendapat.

Apalagi jika Anda adalah our noble board of representatives. Yang pastinya pintar, intelek, ber-EQ bagus, bijaksana dan tentunya.. berpendapatan layak.

Tidak dengan berteriak-teriak. Tidak dengan berlagak class-clown yang nyeletuk-nyeletuk garing nimpalin omongan orang lain tanpa diminta (it's not a class, though). Tidak dengan melempar pimpinan rapat dengan botol air mineral.

Begitu juga dengan Anda, para mahasiswa. Yang merupakan agent of change, pintar, tajam, terstruktur, kritis dan lain-lain. Pasti ada cara lain yang lebih baik untuk menyatakan ketidaksetujuan Anda pada sistem.

Tidak dengan membakar foto kepala negara Anda. Tidak dengan melempari traffic-light dengan batu. Tidak dengan melempari gedung DPR dengan kaus kaki. Tidak dengan merusak mobil berpelat merah.




Dan semuanya terekam oleh kamera televisi lokal, nasional..
bahkan internasional.
Kalau yang pintar saja bertingkah barbar..
Kami yang bodoh ini harus seperti apa?


de·mo·kra·si /démokrasi/ n Pol 1 (bentuk atau sistem) pemerintahan yg seluruh rakyatnya turut serta memerintah dng perantaraan wakilnya; pemerintahan rakyat; 2 gagasan atau pandangan hidup yg mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yg sama bagi semua warga negara;

(Kamus Besar Bahasa Indonesia)


SO TRUE.
Mungkin mereka lupa bagian 'bebas dan bertanggung jawab'-nya.
.

Friday, November 20, 2009

(sedikit sok tau) Tentang Rasa Keadilan

Elegi Minah dan Tiga Buah Kakao di Meja Hijau...

Jumat, 20 November 2009 | 08:09 WIB

Minah (55) hanya dapat meremas kedua belah tangannya untuk menepis kegalauan agar tetap tegar saat menyampaikan pembelaan atau pleidoi di hadapan majelis hakim di Pengadilan Negeri Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (19/11).

Tanpa didampingi pengacara, ia menceritakan bahwa alasannya memetik tiga buah kakao di kebun PT Rumpun Sari Antan 4, pertengahan Agustus lalu, adalah untuk dijadikan bibit.

Nenek tujuh cucu yang buta huruf ini sesekali melemparkan pandangan kepada beberapa orang yang dikenal guna memperoleh kekuatan. Ia berusaha memastikan bahwa pembelaannya dapat meyakinkan majelis hakim.

Dengan menggunakan bahasa Jawa ngapak (dialek Banyumasan) bercampur bahasa Indonesia, Minah menuturkan, tiga buah kakao itu untuk menambah bibit tanaman kakao di kebunnya di Dusun Sidoharjo, Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas. ”Kalau dipenjara, inyong (saya) enggak mau Pak Hakim. Namung (cuma) tiga buah kakao,” ujar Minah kepada majelis hakim.

Minah mengaku sudah menanam 200 bibit pohon kakao di kebunnya, tetapi ia merasa jumlah itu masih kurang. Namun, belum sempat buah tersebut dibawa pulang, seorang mandor perkebunan, Sutarno, menegurnya. Minah lantas meminta maaf dan meminta Sutarno untuk membawa ketiga buah kakao tersebut.

Alih-alih permintaan maafnya diterima, manajemen PT RSA 4 malah melaporkan Minah ke Kepolisian Sektor Ajibarang, akhir Agustus lalu. Laporan itu berlanjut pada pemeriksaan kepolisian dan berakhir di meja hijau.

Minah sudah berusaha melepaskan diri dari jerat hukum. Tapi usahanya sia-sia. Hukum yang mestinya mengayomi masyarakat dengan menegakkan keadilan, bagi nenek Minah, ternyata tak punya nurani. Hukum kita rupanya tak memberi ampun bagi orang kecil seperti Minah. Tetapi, koruptor pencuri miliaran rupiah uang rakyat melenggang bebas dari sanksi hukum.

Di Jawa Tengah, misalnya, empat bekas anggota DPRD dan aparat Pemerintah Kota Semarang yang menjadi terpidana kasus korupsi dana APBD Kota Semarang tahun 2004 sebesar Rp 2,16 miliar divonis bebas. Mereka bebas dari sanksi hukum setelah Mahkamah Agung (MA) mengabulkan permohonan peninjauan kembali mereka. MA menyatakan keempat terpidana itu tidak melakukan tindak pidana.

Muramnya penuntasan masalah hukum di Jateng masih ditambah lagi dengan putusan hakim yang hanya memberikan hukuman percobaan kepada pelaku tindak pidana korupsi. Salah satunya dijatuhkan kepada Ketua DPRD Jateng periode 1999-2004, Mardijo. Terdakwa korupsi dobel anggaran APBD Jateng sebesar Rp 14,8 miliar ini hanya diberi hukuman percobaan selama dua tahun.

Minah memang tak mengerti masalah hukum seperti para terpidana dan terdakwa kasus korupsi itu. Namun, dengan berkata jujur, ia memiliki keyakinan bahwa ia mampu menghadapi rimba hukum formal yang tidak dimengertinya sama sekali.

Terhitung tanggal 13 Oktober sampai 1 November, Minah menjadi tahanan rumah, yakni sejak kasusnya dilimpahkan dari kepolisian kepada Kejaksaan Negeri Purwokerto. Sejak itu hingga sekarang, ia harus lima kali pergi pulang memenuhi panggilan pemeriksaan di Kejaksaan Negeri Purwokerto, dan persidangan di Pengadilan Negeri Purwokerto.

Rumah Minah di dusun, di pelosok bukit. Letaknya sekitar 15 kilometer dari jalan utama Ajibarang-Wangon. Perjalanan ke Purwokerto masih menempuh jarak sejauh 25 kilometer lagi. Jarak sepanjang itulah yang harus ditempuh Minah setiap kali memenuhi panggilan Kejaksaan Negeri Purwokerto dan Pengadilan Negeri Purwokerto.

Satu kali perjalanan ke Purwokerto, Minah mengaku, bisa menghabiskan Rp 50.000 untuk naik ojek dan angkutan umum. Ditambah lagi untuk makan selama di perjalanan. ”Kadang disangoni anak kula (kadang dibiayai anak saya),” katanya.

Sebelum menyampaikan putusan, majelis hakim juga pernah bertanya kepada Minah, siapa lagi yang memberikannya ongkos ke Purwokerto. ”Saya juga pernah dikasih Rp 50.000 sama ibu jaksa, untuk ongkos pulang,” kata Minah sambil menoleh kepada jaksa penuntut umum Noor Haniah.

Noor Haniah yang mendengar jawaban itu hanya dapat memandang lurus ke Minah.

Elegi Minah tentang tiga kakao yang diambilnya melarutkan perasaan majelis hakim. Saat membacakan pertimbangan putusan hukum, Ketua Majelis Hakim Muslich Bambang Luqmono sempat bersuara tersendat karena menahan tangis.

Muslich mengaku tersentuh karena teringat akan orangtuanya yang juga petani.

Majelis hakim memutuskan, Minah dihukum percobaan penjara 1 bulan 15 hari. Jadi, Minah tak perlu menjalani hukuman itu, dengan catatan tidak melakukan tindak pidana lain selama masa percobaan tiga bulan.

Persidangan ditutup dengan tepuk tangan para warga yang mengikuti persidangan tersebut.

Kasus Minah bisa menjadi contoh bahwa penuntasan masalah hukum di negeri ini masih saja berlangsung tanpa mendengarkan hati nurani, yaitu rasa keadilan....


TAKEN FROM :

http://regional.kompas.com/read/xml/2009/11/20/08094942/Elegi.Minah.dan.Tiga.Buah.Kakao.di.Meja.Hijau...


Membaca artikel ini di pagi hari lantas terbengong-bengong. How could they, the corporate, just did that to the old lady? Atas dasar ingin memberi efek jera? Atas dasar takut rugi? Atas dasar rasa keadilan?

Hey, adil itu bukan berarti sama, bukan?

Lalu aku membaca artikel punya mbak Yenny SW dari ajrc-aceh.org. Disana disebutkan Keadilan dalam Kamus Hukum diartikan sebagai perbuatan, perlakuan yang adil, sementara adil adalah tidak berat sebelah, tidak memihak dan berpihak kepada yang benar.

Untuk penegakan keadilan tersebut, Indonesia menerapkan sistem hukum dengan paham positivisme. Penegakan hukum oleh hakim dalam teori positivisme menurut Hans Kelsen berarti keadilan itu lahir dari hukum positif yang ditetapkan manusia. Hakim terikat dengan hukum positif yang sudah ada, artinya mau tidak mau hakim harus benar-benar menerapkan suatu kejadian berdasarkan konsep hukum yang sudah ada.

Konsep ini ternyata pada beberapa kasus malah jadi jauh dari keadilan, karena sering sekali hukum positif itu ketinggalan dengan perkembangan masyarakat dan kemajuan teknologi, sehingga dalam penerapan teori positivisme tidak bisa serta merta dilaksanakan dengan paham legisme. Hakim boleh menerapkan teori ini pada kasus yang aturan hukumnya jelas, sehingga hakim tinggal menerapkan saja pada peristiwa kongkrit.

Tapi dalam hal peristiwa yang tidak ada aturan hukumnya hakim harus menemukan dan menggunakan analogi untuk penemuan hukum. Bahkan jika peristiwanya tidak diatur sama sekali dalam undang-undang, maka hakim berdasarkan ayat (1) Pasal 28 Undang-Undang (UU) Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman “…… wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat”.

Oke, mungkin mencuri memang bukan kasus tanpa aturan hukum. Matter of fact, kaidahnya sudah jelas. Tapi ada selalu ada special circumstances yang membuat seorang hakim harus duduk disana, dan menggunakan nuraninya. Penerapan hukum positif oleh hakim JUGA HARUS mengindahkan nilai-nilai dan rasa keadilan yang hidup dimasyarakat dengan sebaik-baiknya sehingga putusan yang dihasilkan oleh hakim bisa diterima dengan ikhlas oleh para pihak, dan keikhlasan inilah yang menjadi barometer keadilan dalam penegakan hukum oleh hakim.

Untunglah dalam kasus Bu Minah, majelis hakim sedikit banyak telah menyeimbangkan logika dan nurani. Yang jadi pertanyaan : bagaimana mungkin perusahaan ybs tetap memperkarakan seorang nenek buta aksara yang sudah mengakui perbuatannya bahkan mengembalikan barang buktinya?

Lalu bagaimana dengan kasus uang miliaran bahkan triliunan yang faktanya bisa dipelintir sedemikian rupa? Yang kasusnya ikut bikin pusing rakyat Indonesia? Yang terkadang juga didramatisasi oleh media? Yang bikin miris karena dimana-mana masih banyak rakyat negeri ini yang serba kekurangan? Yang membuat para pemimpin bangsa ini diduga ikut tersangkut juga?

Ah, uang, kuasa dan jabatan memang selalu bisa membuat manusia jadi kehilangan kemanusiawiannya.

Semoga Allah memberi hidayah pada mereka semua yang telah 'dibutakan' matanya.

Tuesday, November 10, 2009

Selamat Hari Pahlawan, Pahlawan!

Pagi ini, pas jeda siaran ngga sengaja aku baca sebuah featurette di Kompas. Tentang sepasukan marinir RI yang ditugaskan di pulau Nipah.

Pulau Nipah adalah pulau terluar Indonesia di sudut Batam yang berhadapan langsung dengan Singapura. Means, pulau Nipah menjadi penanda batas laut teritori Indonesia. Pulau Nipah engga terlalu gede, nyaris ngga ada penduduk disitu. Berjarak 1,5 jam perjalanan laut dari Batam, dengan ongkos sekali jalan nyaris Rp. 500.000. Listriknya dari diesel, air bersih cuma mengandalkan tadah-tadah hujan. Sinyal henpon ada dan tiada. Sehari-hari menu mereka adalah mie instan.

Berikutnya ada sebuah cerita soal seorang marinir yang harus bersusah payah nyari sinyal hape, berjam-jam, demi mendengar tangis pertama anaknya yang lahir tanpa ia dampingi.

Ada juga sebuah cerita tentang keprihatinan mereka, terhadap keadaan di ibukota, tentang segala konspirasi peradilan, perputaran uang miliaran rupiah, dan para pemimpin yang tidak amanah. Sementara para marinir tersebut, disebutkan oleh sang reporter, adalah pihak yang memikul tanggung jawab terbesar jika ada AGHT di sudut teritori Indonesia itu, (termasuk berbagai penyelundupan yang marak disana). Mereka jauh dari keluarga, penuh keterbatasan, tapi tetap berdedikasi buat negara.

Lalu sang reporter mendeskripsikan lagi, mereka sesaat terdiam ketika ditanya mengenai kesejahteraan. Sejurus kemudian mereka berkata : kami ikhlas karena ini adalah tugas negara.

Lalu tiba-tiba bahu saya bergetar. Saya meneteskan air mata.
(kalo lagi ekstra mellow begini, PMS apa ya?)

Selamat hari Pahlawan, pahlawan!

Saturday, November 7, 2009

Musik untuk civitas akademika.. dan seluruh rakyat Indonesia



Tadinya ngga pernah kepikiran, kaya' gimana sih rasanya nonton pertunjukan orkestra. Tapi basically akunya suka nonton musik live, dari sekedar dangdutan promo produk sampe iseng ikutan ke club. Menyenangkan rasanya mendengar musik yang dimainkan secara langsung sama artisnya. Sukur-sukur kalo genrenya cocok.

Alkisah tersebutlah
MUSICADEMIA, event musik annual "memasyarakatkan-orkestra-dan-mengorkestrakan-masyarakat" yang digawangin sama Addie MS and his Twilite Orchestra. Tahun ini mereka dateng ke Semarang, dengan mengusung tema BAGIMU PAHLAWAN. Momennya dipasin sama Hari Pahlawan 10 November, sekalian menggugah wawasan kebangsaan anak-anak muda. Anak-anak studio berencana buat dateng nonton. Kebetulan kita masuk radio partner juga, jadi adalah itu sedikit priviledge yang bisa kita pake. Appointment made, then last nite, kita : aku, Oliph, Zakee, kak Echa, Benny, Ossy, Wulan dan Nyonyo meluncur ke TKP di Horison.

Gedung udah penuh, aku pikir means apreasiasi warga Semarang buat musik orkestra bagus. Ternyata SALAH. Banyaaaaaaaaaaaaak banget abege-abege ganggu ga jelas yang ngobrol dan cekikikan sepanjang konser. Udah di "SHHH!!" berkali-kali masih lanjut aja. Aduuuuh. Malu dong ah sama tampang situ yang anak gaolll getohhh... Eughh.


Ah well. Let's just ignore the intruder. The concert itself gave me SHIVER. Dibuka dengan TVC peristiwa-peristiwa perjuangan kemerdekaan, dilanjut sama lagu Indonesia Raya. Oh ya, yang nyanyi Twilite Chorus barengan sama PSM Undip juga lho.. Hmmm, sudah lama aku ngga denger lagu Indonesia Raya yang dinyanyiin langsung. Merinding abis. Sayang akustik gedungnya ngga begitu mantep. Ngga berasa surround gituh.

Berikutnya tampil berturut-turut Christoper Abimanyu, Afgan dan Lea Simanjuntak. Ada juga principal trumpet Eric Awuy yang main solo trumpet. Oh, tapi habis itu ditemenin sama 2 temennya, Gatut Santoso sama Aubrey Victoria. Buat set lagunya, beberapa ada lagu klasik tapi mostly lagu-lagu perjuangan. Mengingatkanku pada masa-masa SMP-ku, pas (sok-sokan) ikut paduan suara. Wah, kekuatan harmonisasi suara manusia itu memang sangat Subhanallah deh. Oh ya ending theme-nya Final Fantasy VIII dimainin juga disini. Huah! Sangar!

Katanya sih semalem sebenernya si Afgan sakit, jadi ngga maksimal nyanyinya. Tapi dia tetap dielu-elukan sama banyak orang (termasuk abege ganggu yang berisik tadi). Christoper Abimanyu.. mmm, ga tau deh, kok rasanya setting mic dia lebih kecil dari yang lain ya? Suara tenornya jadi kurang menggelegar. Tapi buatku, bintangnya malam tadi adalah Lea Simanjuntak. Suara bagus, pasti, mutlak. Tapi showmanshipnya mbak Lea ini lho.. JUARA! Dia berkomunikasi dengan penonton, walau hanya dengan senyum dan lirikan mata, tapi efeknya luar biasa beda. Gerakan tubuhnya teatrikal. Penghayatannya pas, tidak berlebihan. Belum lagi rambut bob-nya yang ala Gemma Arterton di St. Trinian itu (atau Irina Spalko-nya Indiana Jones)... Sangat berkarakter! Apalagi pas dia nyanyi Indonesia Jaya. Aghhhh. Merindingdingding.

Selesai konser, kita poto-poto dong tentu saja (Ada Ossy sama Zakee gitu lho). Pengen foto barengnya bukan sama artis, tapi sama para veteran perang kemerdekaan yang malam itu sengaja diundang. They're old but proud. Mata mereka berbinar, dan tampak gagah dalam setelan batik mereka.




Kita ngobrol sama seorang dari mereka, pak Soedijono namanya. Satu pertanyaan dan mengalirlah banyak cerita dari beliau. Ya, beliau-beliau para veteran ini memang suka bercerita, dan kita generasi muda memang harus lebih banyak mendengarkan kisah mereka. Di akhir obrolan, aku bertanya mengenai tunjangan kesejahteraan para veteran oleh pemerintah. Menurut pak Soedijono, sekarang sudah jauh lebih baik. Alhamdulillah.


Then kita poto-poto lagi, makan, poto-poto, jalan, poto-poto, then Ossy stayed over nite at my place (membuatku mesti nyapu kamar kotorku itu malem-malem!)...





... dan, ahhh begitulah. I survived another nite (dan merasa senang masih bisa tergetar hatinya mendengar Indonesia Raya) berkat Musicademia (dan Lea Simanjuntak-nya) :D

Friday, October 2, 2009

Hari ini, saya dan teman-teman pakai batik


ps : biasanya kantor kita ngga batikan kalo Jumat :)
click click to enlarge, all rights reserved.

Wednesday, September 30, 2009

Warmhearter in the morning

Pujian bagi SBY di Harvard

Rabu, 30 September 2009 | 07:06 WIB

BOSTON, KOMPAS.com — Sekelompok mahasiswa Universitas Harvard yang dilengkapi spanduk berdiri di luar gedung kampus Harvard di Boston, Selasa petang waktu setempat atau Rabu (30/9) pagi WIB, sesaat sebelum Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tiba di kampus tersebut untuk menyampaikan kuliah umum.

Mereka berunjuk rasa untuk menyampaikan terima kasih atas kepemimpinan Presiden Yudhoyono dan Indonesia dalam memperjuangkan penanganan terhadap perubahan iklim.

Michelle Kissenkoetter, Dominic Maxwell, Michael Blomfield, dan Joel Kenrick, berteriak-teriak sambil membentangkan poster-poster yang mereka bawa ketika iring-iringan kendaraan yang membawa Presiden Yudhoyono dan rombongan melintas untuk memasuki gerbang kampus.

Mereka adalah mahasiswa Master in Public Policy di John F Kennedy School of Government di Universitas Harvard. Poster-poster berwarna kuning dan merah muda yang mereka usung itu antara lain bertuliskan "Thank You Indonesia", "Harvard Says, Indonesia’s Our Climate Change HERO", "President Yudhoyono Climate Change World Leader" dan "The Earth Our Future, Thank You Yudhoyono".

"Kami ini adalah mahasiswa Harvard dari berbagai bangsa. Kami ingin masyarakat Indonesia tahu bahwa apa yang telah dilakukan oleh pemimpin negara Anda sangat kami hargai, dihargai oleh Amerika dan dunia," kata Michelle kepada wartawan.

Dominic, sementara itu, mencatat kontribusi besar yang diberikan oleh Indonesia, yang melalui KTT Perubahan Iklim di Bali dua tahun lalu mampu merekatkan negara-negara untuk melakukan perundingan dalam menangani pemanasan global.

"Apa yang telah dilakukan Indonesia sangat berarti karena negara-negara setelah itu (KTT Bali) mau melakukan perundingan, dan sekarang perundingan telah mengarah ke pertemuan di Kopenhagen, Denmark," kata Dominic.

Kopenhagen pada Desember 2009 nanti akan menjadi tuan rumah pertemuan tentang perubahan iklim yang diharapkan akan menghasilkan kesepakatan global tentang langkah-langkah yang akan dijalankan pasca berakhirnya Protokol Kyoto tahun 2012 tentang penanganan perubahan iklim.

Saat berita ini diturunkan, Presiden Yudhoyono sedang menyampaikan pidato di depan para mahasiswa dan akademisi Universitas Harvard dengan mengangkat ’harmonisasi peradaban’ sebagai tema utama pidatonya. Joel Kenrick mengatakan, dirinya tidak dapat mengikuti kuliah umum Presiden Yudhoyono karena kehabisan tiket tanda masuk ruangan, yang pada Selasa petang dipenuhi sekitar 800 orang.

Pihak Universitas memang mengharuskan para mahasiswa dan akademisi untuk mendaftarkan diri jauh-jauh hari sebelumnya guna mendapatkan tiket mengikuti kuliah umum oleh Presiden Yudhoyono.

"Tapi tidak apa-apa (tidak bisa masuk ke ruangan tempat SBY memberikan kuliah umum). Yang penting kami ingin menunjukkan kepada banyak pihak bahwa kami sangat menghargai peranan Indonesia dalam menangani perubahan iklim," katanya.

taken from :
http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/09/30/07060826/Pujian.bagi.SBY.di.Harvard.


Tidak bermaksud begini atau begitu, tapi saya tidak mau menjadi skeptical citizen... Dan ngebaca artikel ini pagi-pagi, ditengah-tengah segala macam hal yang belum beres di negara ini.. rasanya hati saya jadi hangat..

Oh ya, sebelum kelupaan.. Besok 2 Oktober pak SBY ngajakin kita buat pake batik rame-rame, dimanapun kita berada, berkaitan dengan bakal diumumkannya batik sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009. Yuk rame-rame yuk?