Saturday, October 30, 2010

how are you, MOTHERLAND?


Apa kabarmu pagi ini, ibu pertiwi?

Dini hari Merapi kembali meletus, memuntahkan hujan pasir dan awan panas. Hingga Senin depan Mentawai masih rawan gelombang besar tsunami, dan bantuan belum kunjung merata. Korban jiwa berjatuhan. Jakarta macet terkunci karena banjir dan padatnya moda transportasi. Bapak ketua penyambung lidah rakyat dengan enak menggoyang lidah minim empati.

Di berbagai situs jejaring sosial semua orang ikut angkat suara menanggapi runtutan kejadian tersebut. Sebagian besar memasang profile picture "pray for Indonesia" seperti diatas sebagai simbol rasa simpati. Semua berduka, semua peduli. Sampai kemudian saya mendapati satu pendapat seorang teman di facebook, yang kurang lebih berbunyi seperti ini :

"Sebel sama orang-orang yang baru rame mendoakan bencana lewat status. Emangnya Indonesia kena bencana cuma sekarang? Apa kabar Lapindo? Apa kabar Wasior? Kemarin aja Wasior kena bencana Presidennya malah nonton bola!"

Hanya satu hal yang terpikirkan saat membaca status tersebut : why so sceptical, buddy? Memang benar negara kita tidak hanya kali ini dirundung bencana. Tapi, darimana dia tahu kalau orang-orang itu HANYA peduli pada bencana yang terjadi belakangan? Moga-moga sih mereka tidak hanya latah. Tapi kalau ternyata hanya ikut-ikutan, ada juga hal baik yang bisa diambil kan? At least orang-orang tersebut mengesampingkan keinginannya untuk menulis status "aduh capenya gaul di mall" with a simple prayer dan mengganti profile picture mecucu abege dengan logo pray for Indonesia. So, ada apa dengan mulut sinismu itu, teman? Indonesia tidak butuh orang skeptis. Indonesia tidak butuh pendapat-pendapat yang hanya membuat panas suasana tanpa menawarkan solusi.

Saya akui, saya juga sering berkata sinis terhadap sistem atau mungkin kebijakan-kebijakan di negara kita. Tapi paling tidak saya akan berpikir 2 kali untuk menyebarkan pemikiran saya tersebut, even with a mere facebook status. Menjadi sinis dan berontak itu tidak apa-apa. Tapi pastikan, ikuti dengan solusi. The tense is high nowadays in our beloved country. Jadi kalau mau ngomong ati-atilah.

Contoh yang baik adalah status Hagi Hagoromo. Beliau bilang : "bencana dan tanah yang subur adalah satu paket. Itu konsekuensi kita tinggal di ring of fire." Status ini tidak menyerang siapapun, menyampaikan pendapat dengan lugas, netral, memberikan hint dari solusi dan menarik kita untuk berpikir, ya, kita tinggal di ring of fire. Jadi maintenance kita harus lebih bijak dan siap lagi dibanding negara-negara lain. Status ini tidak skeptis seperti milik teman saya, atau ignorance seperti milik pak ketua penyambung lidah rakyat itu.

Menjadi nasionalis tidak harus menjadi sinis.
Jangan cuma asal njeplak tanpa solusi. We don't need that.
Mari kita berdoa dan bertindak sebisa kita untuk Indonesia.

1 comments:

Setyo said...

yeah3... :D

Post a Comment