Tuesday, November 29, 2011

and they asked me : DO ALIENS EXIST?

9gag helps me answer it for you. 

I know, right?

Monday, November 28, 2011

music MATTERS


Kalau dipikir-pikir (apa deh, baru mulai nulis tau-tau begini) ternyata ada beberapa temanku yang berkomentar  kurang lebih sama soal caraku menikmati musik.

Seorang teman siaran nan hitam manis pernah bilang dia suka melihatku di balik mixer, menyanyikan lagu dan kaya yang meresapi setiap katanya. Lalu ketika muncul lagu-lagu yang danceable, I will ask him to dance with me. Literally dancing, sampe yang naik-naik ke kursi atau apalah. Trus pas saatnya announce, kita ngos-ngosan…

Beberapa waktu yang lalu, teman baruku yang berambut keriting mengatakan hal yang kurang lebih sama. Di sebuah konser musik dimana kami bertugas, katanya caraku menyanyi mengikuti band yang sedang tampil kelihatan keren. Absentmindedly, carelessly, sambil menatap layar laptop. “Tiba-tiba jadi keren,” katanya. Trus aku mikir, fixed, aku ini memang ngga keren… 

Temanku yang sering kutebengi mobilnya juga berpendapat mirip-mirip. Saat berkendara bersama dan aku mulai menyanyi sambil heboh joget-joget atau menerawang ke luar jendela, menurutnya itu khas aku banget. Ekspresif, katanya. Macam aku lagi bikin video klip gituh. Trus udahannya aku diketawain…

Nah. Sebenernya aku sadar sih, kalau caraku menikmati musik suka agak-agak lebay dan ga tau tempat. Main jejogedan atau merem-merem, if I really into it. Habis gimana ya, seperti udah pernah aku bahas di postingan dulu-dulu, aku ini orangnya song-driven banget. If I wanna dance it, so I will dance it. If I wanna sing it out loud, so be it. Rasanya kaya rasa yang dari dalam dada pengennya membuncah keluar. Ada visualisasi yang terbentuk di dalam kepala : aurora di angkasa saat mendengarkan Sigur Ros, negeri utopia saat mendengarkan L’Arc~en~Ciel, grid ala Tron Legacy saat mendengarkan The Prodigy, atau pendar lampu jalan di Paris saat mendengarkan Feist. Semua ada visualnya. And I just want to embrace ‘em all. Apalagi kalau liriknya bermakna. Apalagi kalau audionya bagus. Misalnya di ruang siaran yang kedap suara dan speakernya cangcing. Atau live music, when all the sounds resonant on the air, and you can feel the ground below your feet shaking because  of it.

Aku yakin aku ngga sendirian. Pasti banyak juga yang merespon musik dengan cara yang kurang lebih sama, yang mungkin dilihatnya agak over gitu. Bisa yang mendadak sendu tak menentu mendengarkan lagu tertentu, padahal ngga lagi ada issue apa-apa. Atau mendadak jadi riang gembira ketika mendengar sebuah lagu yang tonenya uplifting, padahal sebenernya lagi bersusah hati. This music thingy’s just… Really affect us so much.

So when I had a bad day, wont need a box of chocolate to boost up my mood. I’ll just put up my headphone and pick the right playlist. Then, I will sing and move, just the way my body tell me. 

Monday, November 21, 2011

i know you HAD IT TOO

Menuruti hasrat angot-angotan untuk menulis memang mahal harganya. Ketika jam 3 pagi kepikiran buat nulis sesuatu dan dituruti, tau-tau ayam berkokok, adzan subuh berkumandang. Dengdeng.

I screwed and late for work but I wont regret it.
Uhm, yeah. Maybe.

Tapi sebenernya, bukan cuma gara-gara nulis sih...




humming : brokenhearted THE SCRIPT


Menjelang Guinness Arthur’s Day beberapa waktu yang lalu, tim ybs buka ‘lowongan’ : siapa yang cukup kenal sama lagu-lagunya sang guest star, The Script? Aku sebagai tenaga kerja hore langsung mengajukan diri. Album pertama aku khatam. Album kedua, bisalah drilling beberapa hari. They buy it, and I get the pass. Hohoho.

Sebenernya dibilang demen banget lagu-lagunya The Script, ngga juga. Cuma dulu pas di radio, single perdana mereka, We Cry, airplaynya lumayan tinggi. Iseng-iseng, coba dengerin 1 album self-titled rilisan tahun 2009 itu. Ternyata lumayan bikin betah. Poppish indeed, but the crisp guitar & drum, the wordplay, Danny’s fast ranting… Sound’s dynamic. Ngga bakal bikin cowo-cowo yang dengerin dijudge lenjeh-lenjeh banget (macam kalo mereka dengerin Justin Bieber gitu lah). Pas dengerin album kedua mereka, Science and Faith, ternyata ngga banyak kesulitan juga. Karena menurut kuping amatirku, ngga ada perbedaan yang begitu mencolok sama album pertamanya. Dari segi musikalisasi dan tema liriknya.

Nah, sebenernya soal lirik inilah yang bikin aku pengen posting. Kebetulan tugasku di event itu berhubungan dengan liriknya The Script. Jadilah selain dengerin lagunya, juga harus baca liriknya kata per kata. See, lagu-lagu The Script kebanyakan nyeritain soal gundahnya seorang cowo yang ditinggal sang kekasih. Like, almost 75% of each album telling so. The Script bertutur secara eksplisit, alurnya maju, seperti orang bercerita. Gamblang banget.

Biasanya, biasanya nih, kalo ada musisi cowo cerita soal patah hati dengan cara seperti itu, sambil menyanyi, di suduuut hati, ada suara kecil yang mencibir bilang : “Dude, seriously. Pfft.” Anehnya, kalo sama The Script ini, si suara kecil itu ngga nongol dong. Alih-alih malah akunya mikir : “Gilak, emang kalo cowo patah hati bisa segitunya ya?” Rasanya believable gitu. Coba itu The Man Who Can’t Be Moved, Breakeven, Talk You Down, Nothing, Long Gone and Move On, Deadman Walking, atau If You Comeback. The Script menceritakan patah hati dengan dramatis, come-n-go cheesy feeling, tapi karena pake bahasa sehari-hari, rasanya kaya sambil nodong : “This happen to you too, right?”

Now, after event, it’s safe to say, saya khatam 2 albumnya The Script :|


pic : doc. Guinness ID

Saturday, November 19, 2011

continue to WRITE POORLY

Sekedar pengingat buat aku sendiri atau siapa aja yang potensial mengalami, uhm, writer's block. This is Seth Godin's advice, i'll recite a bit :

The reason we don't get talker's block is that we're in the habit of talking without a lot of concern for whether or not our inane blather will come back to haunt us. Talk is cheap. Talk is ephemeral. Talk can be easily denied. 
We talk poorly and then, eventually (or sometimes), we talk smart. We get better at talking precisely because we talk. We see what works and what doesn't, and if we're insightful, do more of what works. How can one get talker's block after all this practice? 
Writer's block isn't hard to cure. Just write poorly. Continue to write poorly, in public, until you can write better. 
I believe that everyone should write in public. Get a blog. Or use Squidoo or Tumblr or a microblogging site. Use an alias if you like. Turn off comments, certainly--you don't need more criticism, you need more writing.  

There. I guess all of us already got the point, no? :)

Wednesday, November 9, 2011

maybe it's JUST ME

You know what I regret the most for not being a radiobroadcaster anymore?

Tidak bisa bercerita kepada pendengar tentang sebuah lagu yang sedang menarik hatiku. Bukan, bukan menggalau. Lebih kepada... Bercerita : Aroma, warna dan mood seperti apa yang aku rasakan tentang lagu itu. Menceritakan lirik yang implisit dan twisted. Bukan, bukan menggurui. Lebih kepada... Bertanya : ketika mata dipejamkan, kemana lagu itu membawa? Apakah mereka juga merasakan hal yang sama? Then, sing a line or two and dance with it.  

Ah. Me and my freak-show stuff.

Friday, November 4, 2011

about father. GRANDFATHER

Senin kemarin aku ngga masuk kantor karena flu. Entah gara-gara kehujanan atau keseringan pulang malam, yang pasti di pagi yang mendung itu aku cuma bisa goler-goler di kosan. Jendela terbuka lebar, tapi cahaya sangat redup. Angin dingin berhembus.

Lalu hujan turun.

Kemudian aku teringat eyang kakungku. Yang aku panggil bapak. Yang memang merupakan sosok ayah seumur hidupku. Biasanya juga suka kangen-kangen gitu, tapi entah siang itu, rasanya seperti disergap rasa kangen yang lebih dari biasanya. Aku tak tahu apa namanya. Rasa yang khas tentang eyangku.

Lalu pelupuk mataku menghangat.

Usianya 70 plus plus. Masih kuat main tenis. Dulu aku yang remaja sering meninggikan nada suara jika berselisih paham dengan beliau, padahal seharusnya bukan demikian caranya. Senang mengoleksi kaos sponsor setiap aku habis event. Suka menonton sepak bola lalu heboh bermonolog dan menyumpah serapah. Selalu ikut dalam permainan ketika aku menelponnya dan berkata, "Halo, selamat siang, ini dari Polres Metro Jakarta Selatan.". Suka menggoda cucu-cucunya dengan mimik muka yang lucu. Jika mengecat ulang perabot/dinding warnanya selalu meleset sehingga rumah jadi berwarna-warni. Suka menggoreng ubi atau pisang jika sore turun hujan. Sangat sabar. Sangat baik. Dan aku berharap dia selalu sehat. Dan bahagia. Dan tangis semakin mengguncang bahuku.

Lalu aku meneleponnya.



"Halo, selamat siang, ini dari Polres Metro Jakarta Selatan."