Sunday, May 29, 2011

eyeing : GOOD LUCK MY WAY

Nyaris jam 4 pagi. Udah niat tidur, kebangun lagi.
Sayup-sayup terdengar sorak-sorai penonton final UCL MU vs Barca.
Daripada melek tanpa guna, let's break everything down.
(agak ga valid ya openingnya?)

Satu.
Saya suka manga Fullmetal Alchemist. Apanya yang saya suka? Semuanya. Character building yang begitu kuat (berkaca-kaca sampe ngakak2 ngeliat brotherhoodnya Ed dan Al). Plotnya yang begitu masuk akal eventhough kita tau itu fiksi. Artworknya yang crisp and clean. Penggambaran negeri utopianya yang pas dan not trying too hard. Penggunaan elemen-elemen legendaris yang begitu menarik seperti philosopher's stone, 7 deadly sins, homunculus dan tentu saja the exact trade : alkimia.

Dua.
Saya suka L'Arc~en~Ciel. Bukan karena saya suka manga, trus asal Jepang saya suka. Ndak juga. Saya pernah coba dengerin beberapa band Jepang bergenre alternative rock sejenis Laruku, tapi ndak lantas nyandu ngedengerin 1 album apalagi sampe beralbum-album seperti Laruku. Saya ini ngga ngerti teknisnya musik ya, cuma tiap denger Laruku rasanya tuh... Vivid. Lively. Period.

Tiga.
Ketika tahu Laruku bikin soundtrack buat film kedua Fullmetal Alchemist : The Sacred Star of Milos, I just can't wait to hear the song. Dan nonton filmnya juga. Although, yea, this old conservative me always prefer manga than anime. Aseli dari tangan mangakanya sih :)  

Oh ya, lagunya berjudul Good Luck My Way. Rilis resminya, uhm, 26 Juni 2011. Tapi karena udah bocor, ya tetesannya kita tampung dong ;) Sebenarnya lagu ini bukan kontribusi pertama Laruku buat franchise Fullmetal Alchemist. Ready Steady Go jadi opening serialnya tahun 2004;  sementara Link dan Lost Heaven jadi OST. film pertama Fullmetal Alchemist : The Conqueror of Shamballa (cmiiw).

Ah pardon. I talked too much. Let's just enjoy while it still hot :


Anyway, are they homunculus as well? They don't seem getting older in their forties!

update : 
oops, videonya udah ga boleh diakses sama yang punya hak cipta deh, untung sudah sempat didownload :D anu, ga saya perjualbelikan kok, jadi tolong jangan pidanakan saya...


update part 2 :
aha! sudah ada yg ngaplod lagi di yucub. Itadakimasu! :D

Wednesday, May 25, 2011

SCEPTICAL is normal?

I fully understand that in this mighty capital city we don't need to be too chatty. Semua orang punya masalah dan urusannya masing-masing. Kota ini bukan tempatnya ewuh pakewuh. Bukan tempatnya merasa ngga enakan.

Tetapi bagaimana jika...

... Hujan turun. Pakaian entah milik siapa masih berjajar di tempat jemuran kos yang terbuka. Saya bertanya pada mbak A, "Itu baju mbak?" Bukan, katanya. Lalu saya bertanya pada mbak B "Mbak, itu jemurannya?" Si B mengangguk, dan bergegas menyelamatkan jemurannya.

Beberapa menit kemudian hujan turun semakin deras. Saya teringat, di area jemuran saya masih meletakkan sepatu yang habis dicuci. Di tempat yang pasti terlihat oleh si mbak B yang tadi menyelamatkan jemurannya. No, ini bukan masalah balas budi. Jika dia merasa malas memungut converse kumal saya supaya tidak terguyur hujan, dia tinggal bilang pada saya. Seperti saya yang bilang bahwa pakaiannya nyaris dilibas hujan. As simple as that.

Etapi engga lho.

Dahsyat. Benar-benar dahsyat.

Monday, May 23, 2011

suspectus PLATONICUS

You let your hair down and messy.
You wear your t-shirt loose and effortlessly.
You speak your mind straight and nonchalantly.
You walk your way determined and easily.

Who are you?
What are you?

My midnite mind-escapade, vigorously.

Saturday, May 14, 2011

LONGING. literally.

Lima minggu yang lalu, jam segini, aku lagi siap-siap. Pake jaket tebel, t-shirt gombrong, celana pendek, flatshoes. Menjejalkan sebotol air putih, mp3 player, hp, charger, dompet, cigs ke dalam tas. Pasang earphone, patting bebek's head, matiin lampu kamar, ngunci pintu, nyetater motor, berangkat.

Weekend jam segini, jalanan masih ramai. Rute regulerku : Sampangan, Kaligarang, Kampungkali, Mataram. Karena ini malam Minggu, aku ngga lewat Kampungkali, tapi terus menuju Pahlawan. Klub motor dan mobil, komunitas sepeda, orang pacaran, semua tumplek blek di sana. Muter Simpang Lima, padat merayap karena lapak dagangan dan penikmat akhir pekan yang tumpah ruah. I'm singing and enjoying my ride. Cerah. Langitnya banyak bintang. Masuk jalan MT. Haryono, sebentar kemudian sampai di tujuan. Studio radio.

Minta kunci garasi ke pak satpam, masukin motor, ngejeglek absen, naik ke lantai 2. Ketemu Tata yang bawa banyak jajan dan rame kaya' sempritan, mbak Kania yang lagi siaran, mas Teddy yang siap-siap pulang, mas Tolani yang nonton bola. Ngobrol bentar, tau-tau udah jam 1. Dinihari.

Masuk ke kokpit, aircon dimatiin satu. Duduk di hadapan mixer, pakai headphone, adjusting mic. Bass 4, treble 4. Scroll entries sms sekilas. Nyiapin lagu pertama. Update status fb dan twitter.

A bit sleepy, but I'm willing to awake.
Because there's a taste that I can't shake.

Station id, opening tune.
Then I'm airing.
Slowrock songs playing.
Five weeks ago, but it still tingling.


ps : video ini udah pernah aku posting sebelumnya. Posting lagi boleh ya?
I'm on a needy moment right now. 
I'm longing. To be there. At the time like this.

I'm so SO-SO

Tonight, over a hot tea, I've been thinking :
Everything I considered as my specialities, unique selling points, extra abilities; whatever  it is, that helped me stands out among my previous society...

... is no longer distinctive.

Everybody here can do those stuffs too.
And they do good. Rrrreally good.
See, now I'm just an amateur at my best.
Awkward freshman in uber-cool highschool.

But this is good. This is right.
Means I can't forever pamper this lazyhead and satisfied for nothing.

Realita itu menggigit.
Menggigit, dan menggairahkan.
:)

Beatboxing FIREWORK. Beat that.

A video from Mike Tompkins to cherish your weekend :



Sooo talented. YOU are a firework, Mr. Tompkins, sir :)

Thursday, May 12, 2011

E-MAIL = Errr, Mail?


Pertama-tama, anggota dewan kita yang terhormat pergi ke Australia ramai-ramai, trus ngaku ngga punya akun email resmi. Pakenya yahu.

Berikutnya, sang pimpinan bilang sebenarnya punya akun email resmi, dot go dot ai di, tapi karena kurang percaya dengan masalah keamanannya, jadilah si akun resmi terbengkalai.

Such a joke. Terbengkalai, dengan anggaran lebih dari 10 miliar setiap tahunnya?

Lalu modus baru muncul. Sang pimpinan ngga tahu kalau dana buat keperluan IT itu segitu gedenya.

Moral of the story : ngga bermoral sama sekali. Oh, uhm sorry, moral of the story bisa dibaca disini. This is the board of representatives, for God's sake. Dan kalimat yang akan saya tulis selanjutnya cukup klise : Gimana bisa mikirin kepentingan yang lebih esensial kalau dana miliaran bisa dianggarkan untuk sesuatu yang terbengkalai? Gimana bisa bekerja dengan efektif kalau teknologinya obsolete? Apa karena teleconference dengan perwakilan di luar negeri bisa membunuh kesempatan jalan-jalan ke luar negeri? Ke Yunani mempelajari etika? Ke Australia mempelajari kemiskinan? Can we just simply googling it? Dan menggunakan jatah pergi ke luar negeri untuk kepentingan lain yang benar-benar memerlukan tatap muka?

Hari pertama kerja di kantor baru (which is masih probation), saya dibuatkan sebuah akun imel dengan domain berbayar. Nama saya at nama kantor saya. And it works just like that. Uhm, apa kantor saya mesti nyoba pitching buat ngurusin akun resminya bapak-bapak wakil rakyat?

Ah tapi ngga perlu lah ya. Kan ahli telematika nan tersohor itu berkantor disana juga toh?

*mbatin : yea right...

Monday, May 9, 2011

JUST for NOW : from the SCRATCH

Satu tahun yang lalu, di postingan ini, aku susah payah menjelaskan bagaimana rumit dan indahnya seorang Imogen Heap menciptakan musiknya. Demikian penggambaranku waktu itu :

"...secara real-time me-looping suara yang baru sekian detik keluar dari mulut/alat musik/sumber bunyi-bunyian yang mereka pakai, pakai Monome dan segala macam sequencer yang ribet itu, trus dicombine sama lirik lagunya secara utuh (yang dinyanyikan live) dan alat musik pendukung yang dimainkan secara manual s.a piano, gitar atau drum. Semuanya dilakukan secara live! Real time! Pusing kan? Aku ngeliatnya juga pusing. But the output.. Was so fuckin good."

Nah, kalau masih susah ngebayanginnya, coba lihat video di bawah ini. Somehow kok aku juga kelewat, baru ngeliat kemarin. Padahal aku sempet liat beberapa video dari rangkaian rehearsal Live on Indie 101 ini lho. Oh well. Mari kita simak bersama-sama. 


Neat, eh? :)

another rented ROOM

Malam, uhm, maaf, pagi ini aku ngga bisa tidur. Kadang terlalu lelah memang bikin aku ngga bisa tidur. Kepala pening, leher tegang, mata pedih. Tapi ketika berbaring, tubuh malah terjaga. Lalu aku menyalakan netbookku kembali. Biasanya sih bisa jadi terapi. Jadi, mari, kita mulai saja ceritanya.

Setelah berpanas-panas jalan kaki tiap weekend, berjibaku dengan motor matic (kagok sayah kalo naik begituan) dan merepotkan beberapa pihak, akhirnya hari ini aku pindah kost, jelang sebulan di kost yang sebelumnya. Oh bukan, aku bukan mencari-cari kamar sewa dengan fasilitas premium. Toh kamar asalku di rumah tidak ekstravaganza, sederhana saja. Bujetku pun terbatas. Bukan pula pindah mencari celah supaya bisa beginian dan begituan (apa sih? hihihi). Hanya saja di kost yang dulu itu, apa ya... Saya seperti memakai jeans, converse dan t-shirt lalu datang ke kondangan. Ngga ada yang salah sama outfitku, ngga ada yg salah sama kondangannya. Cuma ga bisa dibarengin, itu saja sih yang bisa aku bilang :p

Kost yang sekarang juga tidak uber-special, tetap ada plus dan minusnya. Tetapi paling tidak disini aku terpikirkan untuk membuatnya menjadi nyaman, menambahkan ini dan itu. Sesuatu yang tidak terpikirkan di kost yang sebelumnya. Karena kupikir apapun yang kulakukan disana... It's just helpless :D  

Anyway, nyari kost nyaman itu ternyata susah banget ya. Terutama kost dengan range harga di bawah 700 ribu, di Jakarta Selatan. Karena yea, seperti pepatah Norwegia menyebutkan (harap dibaca dengan lafal 'R' yang sedikit keriting) : "ono rego, ono rupo". Saat mencari via internet, tanpa foto, kita ngga bisa percaya begitu saja dengan embel-embel 'harga terjangkau, kamar mandi dalam' (fakta : kamar mandi 1x1, sanitasi meragukan), 'dekat mall ini itu' (fakta : di belakang mall iya, tapi jalanannya dilewatin 2 motor aja bisa serempetan), atau 'bangunan baru' (fakta : langit-langit super rendah, eksposure cahaya bikin kaya' dipanggang siang-siang). Intinya, memang harus muter-muter, melihat dengan mata kepala sendiri lalu disesuaikan dengan kebutuhan dan toleransi masing-masing. Manusia memang harus adaptif, di mana pun dia berada. Tapi jika memungkinkan, boleh kan mencari yang opsi yang paling nyaman?    

Yah, semoga kost yang ini aman, nyaman dan bikin betah deh. 

Saturday, May 7, 2011

the sparks REIGNITE

Tenggorokanku tercekat. Dadaku nyeri.
Ketika melewati bangunan ini.
Lingkungan ini.

Terlempar ke waktu itu.
Mengejar sesuatu walau nurani berseru.
"Langkahnya lebar, tidak seperti langkahmu!"
Hasilnya, aku menjadi hitam dan biru.

Aku tidak lekas beranjak, rajam mereka.
Lekas? Tolok ukur lekas itu seperti apa?
Ada alasan mengapa logika dan rasa dibedakan menjadi dua.
Karena mereka memang tidak sama.
Karena mereka tidak selalu senada.

Katanya, cermin yang pecah bisa direkat seperti semula.
Tapi lihat, betapa jelas serpih retaknya.
Kecuali, ya, jika kau gunakan alkimia.

Memang bukan tiap sudut kota.
Bukan tiap sudut ruang dan benda-bendanya.
Tapi kenangan, bisakah kau lepas dan letakkan di atas meja?