Thursday, April 28, 2011

color SENSE

Hari ini aku dapet tugas nyari dan ngereview film pendek. Review singkat banget aja sih. Tapi fun, karena yeah, membuatku jadi harus nonton film. Mencari makna filmnya (yang kebanyakan tersirat, bukan tersurat), lalu mencari kata-kata yang mewakili feel filmnya. Somehow it reminds me of the radioshow I'd once run. Good old time. Dan, film gitu lho. Siapa yang ngga suka?

Uhm, kembali ke tugas mencari film pendek hari ini. Banyak yang bagus, tapi karena tema yang dicari spesifik, jadi begitu gelagatnya ngga sesuai, langsung skip. But then I stumbled upon this film. Bed musiknya langsung ngena. Dan aku berhenti, menontonnya sampai selesai. It's Gong by Sigur Ros! (see, bahkan judul filmnya pun Gong).


Disutradarai sama Eric Lerner, sebenernya si Gong ini adalah film tahun 2008. Premisnya menarik, tentang sebuah alat yang bisa membaca perasaan kita dan menerjemahkannya dalam warna. Gaya handheld kamera dan subtitlingnya juga bikin tambah menarik. Cuma menurutku endingnya kurang witty. Ya kan? Kan? Uhm, maap, mungkin hanya sayah.. :p

Sementara dari segi lagu, Gong tidak menggunakan lirik Icelandic, tapi Hopelandic, yaitu bahasa yang ga punya makna, cuma ngomyang ala Sigur Ros aja. Cuma feelnya lagu ini emang sedih. Some people said it's about saying goodbye. Ah. Whatever it is, Sigur Ros' ethereal, that is.

Monday, April 25, 2011

RUN, myself, RUN

Uhm, seperti apa ya...

Anak SD biasa yang mendadak harus masuk SMP kelas imersi?
Lagi santai naik motor di jalan kampung tau-tau masuk ke jalur cepat?

Apapun analoginya, yang pasti saya harus mulai nyincing sandal dan berlari. Berlari supaya tidak ketinggalan. Tidak boleh berjingkat, karena disini semuanya bergerak cepat. Setidaknya cepat, menurut frame of reference saya sebelum ada disini. Bukan berarti setelah disini saya ngga bisa belajar. Justru supaya bisa belajar, saya harus belajar lari terlebih dahulu.

Yak, stretching dulu biar ngga kram.

Monday, April 18, 2011

from MIDDLE to WEST

Hari ketiga di Jakarta. Dan aku sudah kangen boneka bebekku. Kamarku yg full access ke teras terbuka. Teman-temanku. Keluargaku. Siaran. Naik motor sambil nyanyi-nyanyi di jalanan. Meja bunder studio. Mana kemaren so-called-farewell-nya cukup dramatis pula. Sungguh tidak terduga akan jadi banjir air mata dan badai curahan hati semacam itu. Hihihi. Oh how I love you guys.

Yah beginilah manusia. Ngebet pengen keluar dari satu keadaan, tapi begitu dikasih, eh malah termehek-mehek terus sama yang ditinggalin. Dasar manusia. *ngomong sama kaca*

Just an excess of stepping out from comfort zone I guess. Semoga rasa anxiousnya ngga berlama-lama. Mungkin ini ada hubungannya dengan certain-stuff-withdrawal juga. Soalnya di kost yang ini, secara geografis dan ibu kos-is sungguh tidak memungkinkan untuk lit those sticks. Plus beberapa aturan, yang bahkan di kost eyangku nan konvensional di Semarang bisa dilakukan, disini ngga bisa. Jadilah, sedang merasa asing, jadi semakin asing, karena ngga bisa jadi diri sendiri.

Sementara soal kantor baru, belum bisa ngomong banyak. Baru separuh hari dan belum banyak yang dikerjakan. So far so good. Suasana dan rekan kerja yang dinamis. Jobdescnya sama sekali baru, dan asing buat aku. Agak deg-degan juga. Tapi sepertinya akan memberiku banyak pengetahuan baru. Plus masih menjadi employee with t-shirt and sneakers. Plus cukup jalan 10 menit dari kost (ya, tetap ada kelebihan di tengah beragam kegalauan itu. Tsahh) menuju ke tempat kerja. Ini salah satu wujud kemewahan bekerja di Jakarta bukan?

Baiklah segitu dulu. Wish me luck so I can fit in with this city and this job.
Selamat hari Senin!

Monday, April 11, 2011

rolled-sleeve shirt, vest and SWORD

Pagi-pagi ngeliat timeline, banyak banget yang membahas kemungkinan datangnya beberapa boyband Korea yang jumlah anggotanya segambreng itu ke Indonesia. Saking banyaknya, aku bahkan takjub bagaimana fans mereka bisa membedakan member yang satu dengan member lainnya. No, really. Bagaimana kamu bisa membedakan 1 dari 7, 9, bahkan 13 orang yang mirip secara fisik, menari-nari ritmik dan bermake-up cantik? Sekedar ngingetin : BOY-band lho ini.

Uhm, I have nothing against this asian boyband attack. Kalau mereka mau jejogedan silakan aja, bikin cewe-cewe jejeritan, silakan aja. Bukannya mereka tidak menarik kok. Aku cuma ngga bisa aja ngeliat cowo bergaya unyu-unyu gitu. Ini masalah selera. Dan masalah look. Ambil contoh aktor Korea ya, yang (setahuku, sepenglihatanku) selalu identik dengan baju low v-neck, rambut acak-tapi-stylized, serta senyum manis bibir merekah yang ditujukan untuk mematahkan hati gadis-gadis remaja. It doesn't work for me. Mungkin karena aku memang sudah tidak remaja lagi ya. Hehe. Tapi, uhm, jika pria-pria asia (Japan, Korea, China) ini dikemas dengan tepat, they could made me went fangirling too. Check this one out.



Itu adalah scene dari film The Warrior's Way (2010), scene "Take Me For A Spin". Si cowo adalah aktor Korea Jang Dong-Gun sebagai Yang, cold-hearted assassin yang mulai belajar bahwa dunia itu tidak melulu soal menggorok leher orang dan cewenya Kate Bosworth sebagai Lynne : brave, spunky girl yang ingin belajar martial art demi membalas dendam. Nah scene ini adalah salah satu sesi latihan yang diberikan Yang kepada Lynne. Scene yang, menurutku, membuat Jang Dong-Gun nampak adorable. Singkirkan sweater kerah sabrina pink itu. Dengan pedang, straight-cut pants, rolled-sleeve shirt dan vest (ada sesuatu dengan kombinasi ini, I dunno what, yang membuatku terkesima), he's more like a hot stuff.

Dikombinasikan dengan bukit pasir, langit malam, The Sailor's Hornpipe dan that ass-slapping teasing... Bikin aku senyum-senyum sendiri. This is kinda gushy gushy thingy i like : Rough man going sweet, with his very own way. Oh and btw, di akhir scene itu, setelah Yang berkata "You win after you make sure your enemy's heart stopped", Lynne berkata "Is that so?" lalu serta merta mencium Yang. Si Yang frozen, kaget, dan Lynne berkata lagi : "Is that make your heart stopped?" Muhahaha. Total gusher! See? Korean actor can make me melt too. But not with that dance routine and auto-tune singing.

So, are you gonna take me for a spin, or what?


-----
PS :
Filmnya tidak begitu sukses secara hitungan box office. Scriptnya memang lemah sekali. Padahal menurutku idenya lumayan oke lho. East and west collide. Bandits versus ninjas. Sinematrografinya juga eye-candy lho. Green-screen action galore : leaps, bounds, slow-mo, bullet dodging, and so on. Tapi sayang, chemistry antar tokohnya nyaris tidak terasa. Dramanya mentah (kecuali Take Me For A Spin scene ya, teteup, hehehe). Actionnya aja yang nampol. Yah, lumayanlah untuk melewatkan waktu sembari menunggu siaran kemarin malem...

Tuesday, April 5, 2011

successor PREDECESSOR

Selamat sore!

Aku sedang duduk mengetik di depan laptop, pakai kaos Indonesian Frengers, headphone terpasang melantunkan lagu Mew. Biar matching dong. Ahaha. Ngga lah, bukan karena ngepas-ngepasin. Ini karena moodku lagi ngga beres. And only Mew who can handle this. Not too soft, not too bangin, not too shabby, not too harsh. Just on point. Just perfect. Apalagi That Time On The Ledge. Ooh.

Anyway, kemaren aku mendengar kabar berita yang lumayan ngga asik didenger. Terutama olehku. Ya, karena objeknya adalah aku. Subjek pembicaranya, errr, kebetulan ngga bisa disebut namanya. Bisa-bisa nanti aku kena pasal pencemaran nama baik. Eh lho eh. Lalu bagaimana dengan nama baikku? Hahaha. Sutralah. Biarkan saja. Hari ini aku lagi males mikir yang bikin males. Oke, skip.

*clearing throat* Minggu ini aku udah mulai, uhm, apa ya, menyiapkan pengganti buat posisiku sebagai tukang ketik sekrip. Bukan orang luar, penyiar sini juga, yang dirasa potensial. Ya, sama seperti aku dulu. Ketika predecessor-ku mau hengkang, aku yang waktu itu baru masuk jadi penyiar ditawari buat menggantikan. Selama 2-3 hari diajari teknik radioscript from the scratch bla bla bla yadda yadda yadda, trus ditinggal pergi deh. Hehehe. Kali ini insya Allah ada cukup waktu buat latihan bareng si calon tukang sekrip. Semoga oknum yang belum boleh diungkap namanya ini (kata si Pak PD) bisa lebih baik dari aku yang last-minute person ini  :D

Eh tapi 2-3 hari bersama si mas predecessor waktu itu cukup menyenangkan kok. Meskipun buanyak informasi dijejalkan ke otak dalam waktu singkat, tapi aku jadi lumayan deket sama si mas predecessor. Padahal saat itu, semua orang bilang beliau ini sangat antik. Susah dipahami. Serem kalo editing. Skrip yang diajuin penyiar bisa dicoret dahsyat pake spidol, ditolak mentah-mentah. Sementara kok sama aku ngga galak sama sekali? Setelah kupikir-pikir, ya iyalah, kalo aku ngga 'mentas' kan dia juga yang bingung. Hehehe ngga ding mas, becandaaa. Aku tau situ sebenarnya baik kok. Aku tau karena mungkin kebetulan channel kita sama. Sama-sama aneh. Hihihi.
  
Ah si tukang ketik skrip in training datang minta dikoreksi skripnya nih.
Kalo begitu aku pamit dulu yaw, lanjut lagi kapan-kapan :)

Friday, April 1, 2011

we're ALL in the DANCE

Music video posting time. Kali ini pilihannya diinspirasi oleh si Wildan, yang kemaren nanya, lagu Feist apa lagi yang enak didengerin selain Inside and Out dan One Evening. Lalu aku merekomendasikan La Meme Histoire. Yep, that one. Yang kamu dengar di akhir film Paris Je T'Aime.



Ketika kuputar kembali setelah sekian lama, mendadak aku ingin menyalahkan lagu ini. Dan cuaca Semarang yang begitu basah malam ini. Yang membuat perasaanku menjadi.. uhm, undefinable? (Oke mari pakai kata itu.) Perasaanku menjadi tidak terdefinisi setelah mendapatkan berita itu tadi pagi. I'm going to leave this city since I've got a new job. Bukan, bukan tidak senang. Justru senang sekali. Alhamdulillah. This is what I pursued during the last 2 years, through those loneliness, and downtimes, and downtimes, and loneliness. Aku bersyukur.

Lalu sejenak aku berhenti bergerak. Melihat sekitar, I'm a bit shaky. Jadi ini ya yang dirasakan oleh teman-teman yang sudah terlebih dahulu meninggalkan kantor ini, kota ini?

Shaky. I really am.

Kemudian, ketika terdengar Feist menyanyikan verse yang ini :

Life’s a dance
We all have to do
What does the music require
People all moving together
Close as the flames in a fire
Feel the beat
Music and rhyme
While there is time

We all go round and round
Partners are lost and found
Looking for one more chance
All i know is
We’re all in the dance


... Aku kembali menegakkan kepalaku. Bukan waktunya memikirkan hal-hal yang belum waktunya dipikirkan. Dua minggu lagi. Masih banyak yang harus aku lakukan. Selesaikan semua yang menjadi kewajibanku disini. Mengurus hal-hal yang aku perlu di kota baru. Itu dulu. Head over heart. First thing first.

This is what I want. This is what I need to do.
And I'm going to dance. Just like the music require.