Showing posts with label film. Show all posts
Showing posts with label film. Show all posts

Sunday, August 7, 2011

Harry. Voldemort. END*.


Heboh. Ketika akhirnya Harry Potter and The Deathly Hallows part. 2 akhirnya masuk ke Indonesia. Antrian puanjang. Anak-anak kantor nonton bareng (sponsored by kantor pun) di hari pertama rilisnya. Akunya sih ngga ikut nonton, pas kebetulan ada liputan di jam yang sama, dan... Ugh, I don't feel like it watching movie at the 2nd row from the screen. Aku kan rewel. Mending nunggu euforianya lewat dulu, lalu bisa nonton nyaman. Sendirian kalo perlu, biar gampang nyempil dapet seat. Dan itulah yang aku lakuin kemarin, nonton HP 7 Pt.2 sendirian. Kebetulan massa udah teralihkan ke Transformers 3, jadi lebih gampang dapet seatnya.

So, uhm, mulai dari mana ya? Is it good? Is it bad? I'm not sure. It's kinda in-between for me. I dunno apa yang salah. Bukan cuma filmnya sih menurutku. Dari segi bukunya juga. Banyak hal yang aku pertanyakan, salah satunya yang cukup fundamental : hubungan Harry dan Voldemort. If that noseless villain is THAT evil and powerful, he really doesn't seem like one. Chasing Harry for 7 fuckin years? Assaulting Hogwarts then retreat? Oh dear, Prince of Darkness not supposed to do that. Why don't he just killed them all, if he is THAT evil and powerful? Nah, kausalitas ala PG-nya ini lho yang bikin ngga sreg. Ya gimana lagi, emang PG sih. 

So, IMHO, 7 buku 8 film terlalu banyak. Seperti yang men-saga-kan sesuatu yang seharusnya ngga se-saga itu. Uhm, I dunno (too many I dunnos here). Jadinya uhm, agak ga rela kalo ada yang menyejajarkannya dengan LOTR atau Star Wars. 

Tapi sebagai closing, HP 7 Pt. 2 ini cukup intens. This movie's good. The visual effect, the chemistry of the casts, the whole magical world. Sementara dari departemen plot, favoritku adalah the origin of Severus Snape. Entah ya dari awal banget, aku ngerasa nih orang bakal jadi sesuatu. Ya, klise sih, orang yang keliatan jahat ternyata yang paling care and whatnot. Cuma ugh, Alan Rickman nailed it.

Harus aku akui, yang paling kunikmati dari HP adalah feel magical dari keseluruhan settingnya. Those castles, those scenery, those beasts, those spells. Jauh lebih baik dan menarik dari, Narnia misalnya (yang aku give-up nonton 1 filmnya aja, lainnya engga nafsu.) Paling tidak HP masih menarikku sampai sejauh ini, dari awal sampai akhir. Oh dan, Rupert Grint! Semakin lama semakin hot aja tuh bocah. Not too handsomey handsome, but he's just.. fly. Move away Daniel Radcliffe, saya mah drool over mas Rupert ajah :p   

aaah. the fire rite i like to watch.
Apapun itu, Harry Potter franchise is a depiction of a generation. Dan ketika berakhir, ada rasa sedih juga. See, I always want to enroll Hogwarts :D So, bye Harry, Hermione and Ron. It was a wonderful years.   

*) taken from phrase "lo-gue-end" yang hits itu.

Thursday, June 30, 2011

can i get a BUTTERFLY KNIFE?

On a rigid battle against sleepiness, my playlist jump onto 'Make Me Wanna Die' from The Pretty Reckless, taken from OST. Kick Ass album. At the beginning of the song, you can hear Mindy, the Hit Girl, asked by her daddy, Damon 'Big Daddy', about what she possibly want for her birthday.



DAMON
Hey, why don't you tell a little more about what you might want for your birthday?

MINDY
Can I get a puppy?

DAMON
You wanna get a dog.

MINDY
Yeah. A cuddly fluffy one. And a Bratz Moviestar Makeover Sasha.

DAMON
*flabbergasted*

MINDY
Just fucking with you daddy! I’d love a Benchmade model-42 butterfly knife.

DAMON
Oh child, you always knock me on a loop.

---
Maaan. Chloe Grace Moretz killed it!

Thursday, April 28, 2011

color SENSE

Hari ini aku dapet tugas nyari dan ngereview film pendek. Review singkat banget aja sih. Tapi fun, karena yeah, membuatku jadi harus nonton film. Mencari makna filmnya (yang kebanyakan tersirat, bukan tersurat), lalu mencari kata-kata yang mewakili feel filmnya. Somehow it reminds me of the radioshow I'd once run. Good old time. Dan, film gitu lho. Siapa yang ngga suka?

Uhm, kembali ke tugas mencari film pendek hari ini. Banyak yang bagus, tapi karena tema yang dicari spesifik, jadi begitu gelagatnya ngga sesuai, langsung skip. But then I stumbled upon this film. Bed musiknya langsung ngena. Dan aku berhenti, menontonnya sampai selesai. It's Gong by Sigur Ros! (see, bahkan judul filmnya pun Gong).


Disutradarai sama Eric Lerner, sebenernya si Gong ini adalah film tahun 2008. Premisnya menarik, tentang sebuah alat yang bisa membaca perasaan kita dan menerjemahkannya dalam warna. Gaya handheld kamera dan subtitlingnya juga bikin tambah menarik. Cuma menurutku endingnya kurang witty. Ya kan? Kan? Uhm, maap, mungkin hanya sayah.. :p

Sementara dari segi lagu, Gong tidak menggunakan lirik Icelandic, tapi Hopelandic, yaitu bahasa yang ga punya makna, cuma ngomyang ala Sigur Ros aja. Cuma feelnya lagu ini emang sedih. Some people said it's about saying goodbye. Ah. Whatever it is, Sigur Ros' ethereal, that is.

Monday, April 11, 2011

rolled-sleeve shirt, vest and SWORD

Pagi-pagi ngeliat timeline, banyak banget yang membahas kemungkinan datangnya beberapa boyband Korea yang jumlah anggotanya segambreng itu ke Indonesia. Saking banyaknya, aku bahkan takjub bagaimana fans mereka bisa membedakan member yang satu dengan member lainnya. No, really. Bagaimana kamu bisa membedakan 1 dari 7, 9, bahkan 13 orang yang mirip secara fisik, menari-nari ritmik dan bermake-up cantik? Sekedar ngingetin : BOY-band lho ini.

Uhm, I have nothing against this asian boyband attack. Kalau mereka mau jejogedan silakan aja, bikin cewe-cewe jejeritan, silakan aja. Bukannya mereka tidak menarik kok. Aku cuma ngga bisa aja ngeliat cowo bergaya unyu-unyu gitu. Ini masalah selera. Dan masalah look. Ambil contoh aktor Korea ya, yang (setahuku, sepenglihatanku) selalu identik dengan baju low v-neck, rambut acak-tapi-stylized, serta senyum manis bibir merekah yang ditujukan untuk mematahkan hati gadis-gadis remaja. It doesn't work for me. Mungkin karena aku memang sudah tidak remaja lagi ya. Hehe. Tapi, uhm, jika pria-pria asia (Japan, Korea, China) ini dikemas dengan tepat, they could made me went fangirling too. Check this one out.



Itu adalah scene dari film The Warrior's Way (2010), scene "Take Me For A Spin". Si cowo adalah aktor Korea Jang Dong-Gun sebagai Yang, cold-hearted assassin yang mulai belajar bahwa dunia itu tidak melulu soal menggorok leher orang dan cewenya Kate Bosworth sebagai Lynne : brave, spunky girl yang ingin belajar martial art demi membalas dendam. Nah scene ini adalah salah satu sesi latihan yang diberikan Yang kepada Lynne. Scene yang, menurutku, membuat Jang Dong-Gun nampak adorable. Singkirkan sweater kerah sabrina pink itu. Dengan pedang, straight-cut pants, rolled-sleeve shirt dan vest (ada sesuatu dengan kombinasi ini, I dunno what, yang membuatku terkesima), he's more like a hot stuff.

Dikombinasikan dengan bukit pasir, langit malam, The Sailor's Hornpipe dan that ass-slapping teasing... Bikin aku senyum-senyum sendiri. This is kinda gushy gushy thingy i like : Rough man going sweet, with his very own way. Oh and btw, di akhir scene itu, setelah Yang berkata "You win after you make sure your enemy's heart stopped", Lynne berkata "Is that so?" lalu serta merta mencium Yang. Si Yang frozen, kaget, dan Lynne berkata lagi : "Is that make your heart stopped?" Muhahaha. Total gusher! See? Korean actor can make me melt too. But not with that dance routine and auto-tune singing.

So, are you gonna take me for a spin, or what?


-----
PS :
Filmnya tidak begitu sukses secara hitungan box office. Scriptnya memang lemah sekali. Padahal menurutku idenya lumayan oke lho. East and west collide. Bandits versus ninjas. Sinematrografinya juga eye-candy lho. Green-screen action galore : leaps, bounds, slow-mo, bullet dodging, and so on. Tapi sayang, chemistry antar tokohnya nyaris tidak terasa. Dramanya mentah (kecuali Take Me For A Spin scene ya, teteup, hehehe). Actionnya aja yang nampol. Yah, lumayanlah untuk melewatkan waktu sembari menunggu siaran kemarin malem...

Thursday, February 24, 2011

eyeing : SUCKER PUNCH



This looks sick.

Zack Snyder said this is Alice in Wonderland with machine guns. Smexy badass chicks. Gothic asylum. Magical tritone photography. Stopmotion fighting scenes. Burlesque dancing. 50's war array. Real deal weaponry. Aircrafts. Dojo and katana. Gigantic armored samurai with its infamous kabuto. Star Wars' alike droids. Dragons, castles and other mythical creatures. Futuristic skyscrapers.  

All of those mindblowing fantasies in a pack. Sick.

Saturday, February 19, 2011

HOLY cow! HOLLYWOOD's gone?


Dari sekian banyak hal yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini, yuk kita ngomongin film.
Alasannya?

Satu : karena adanya surat edaran dari Ditjen Pajak Nomor 3 Tanggal 10 Januari 2011, yang berbuntut reaksi pihak Motion Picture Association of America (MPAA) dengan menghentikan impor filmnya ke Indonesia.
Dua : karena ini weekend. Mungkin di suatu weekend nanti, dimana biasanya para pasangan atau keluarga berquality time ria di bioskop tapi bakal 'kecelik' karena seluruh film Hollywood sudah lenyap dari lobby-card compartments.
Tiga : because Hollywood movies seen on a cinema's widescreen is a pure bliss for me, and for a lot of people as well.

Berita ini cukup bikin aku kaget, meskipun ngga lantas jadi ngga bisa tidur sih ya. Tapi pemikiran "mau nonton apa aku nanti? bisa ketinggalan film-film bagus aku nanti!" itu penuh di kepala. Ketika membaca bahwa memang sudah sepantasnya pajak film impor dinaikkan karena selama ini pajak film impor lebih murah daripada pajak film nasional, This tiny little mind trying to understand. Karena konon, pajak impor cuma dibebani per satu kopi film, yakni Rp 1 juta per kopi. Rata-rata film impor menyetor lebih kurang Rp 15 juta per judul untuk 15 kopi film. Sementara, film nasional harus membayar pajak untuk beberapa hal, mulai dari bahan baku, peralatan produksi, pajak atas artis, karyawan, pajak saat proses produksi, pajak pasca-produksi, dan untuk penggandaan kopi film.

Walau sedih dan cenat cenut kaya abegeband korea wannabe itu, aku berusaha merasionalisasi, sambil terus berdoa semoga pemerintah dan MPAA memperoleh win-win solution sehingga film Hollywood bisa tetep publish disini, dan pemerintah mendapatkan apa yang menjadi haknya. Jika perlu libatkan pendapat para pekerja film dalam diskusi. Karena dalam kasus yang lalu, sepertinya sineas kita menjadi partai oposisi yang sering dilupakan meskipun lebih mengerti film, sementara pemerintah merasa menjadi big daddy who knows everything. Inget kan kasus RUU Perfilman yang dulu? Semoga sih yang ini engga...

Tapi ketika aku baca pendapat Direktur Perfilman Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Syamsul Lussa untuk menyikapi ditariknya film Hollywood biasa saja, karena momen ini justru harus menjadi pemacu bagi insan film di Tanah Air untuk membuat karya yang jauh lebih baik, i was like "EH?" Karena menurutku pendapat itu tidak relevan. Bukan karena aku tidak menghargai pemerintah dan kebijakannya, atau tidak menghargai para filmmaker Indonesia. Bukan. Tapi menurutku membuat karya sinema yang lebih baik bukanlah merupakan sebuah efek kausalitas dari momen ditariknya film Hollywood.

Sederhananya : kalau kita mau bikin film bagus, ya memang sebuah kewajiban. Seharusnya bisa seiring sejalan dengan whatever foreign movies imported to our country. Dan untuk saat ini, film lokal kita memang BELUM bisa mengisi kekosongan yang ditinggalkan film Hollywood. Entah itu dari segi film lokal yang benar-benar bermutu maupun film-film lokal yang.. ehm.. ecek-ecek. Tolonglah jangan membutakan mata dari kenyataan. Kita memang belum bisa. Bahkan kalaupun nanti industri film kita berjaya, film Indonesia adalah film Indonesia. Film Hollywood adalah film Hollywood. Sinema tiap negara punya karakteristiknya masing-masing. Seperti halnya film Bollywood dan sinema Eropa. Beda, ngga bisa saling substitusi.

Long story short, industri film kita sedang pelan-pelan menggeliat, belajar untuk menjadi eksis. Dan proses belajar yang pertama adalah melihat, memperhatikan, lalu meniru. Begitu pula dengan industri film kita. Kita melihat film Hollywood (dan film-film negara lain), kita memperhatikannya. Lalu kita meniru, bukan untuk menjadi plagiat, tapi meniru efektifitas pembuatan, mise en scene dan lain-lain dari industri film yang lebih establish. Lalu mau belajar dari mana jika film-film itu lenyap dari negara kita. Mau dari DVD bajakan? Download via internet? Ya kita sih oke-oke aja (ehem, biasanya juga suka begitu) tapi bukannya bapak-bapak juga ingin memerangi piracy dan rights infringement? Nah lo.

Win win solution, that's all we need right now.

Wednesday, December 22, 2010

it takes SOLO to TANGO

Have you ever go to the cinema, watching movie by yourself?

Saya sering. Kata temen saya : ''Ih, itu aneh, kok bisa sih nonton film di bioskop sendirian?'' Tapi saya sering tuh. Mungkin terlihat seperti sebuah me-time yang pathetic atau bahkan hanyalah masturdating (haha nice term anyway) semata, yang jelas saya menikmatinya. Ini bukan pembenaran karena saya single, jadi ngga ada yang diajak berduaan nonton, karena toh ada temen atau sodara yang bisa nemenin juga. Cuma kadang I just feel like it.

Here's the benefit if you going solo to the cinema : ngga perlu nyocokin jadwal sama pihak ketiga, kapanpun saya bisa, tinggal mancal. Nyari seatnya juga lebih gampang, even di film yang lagi full-fullnya, karena fat chance ada nyempil-nyempil satu seat di posisi yang potensial, yang ngga bakal di-book orang yang nonton rombongan. Dan yang terpenting, jadi fokus banget sama filmnya. Kalo ngerti ya ngerti banget, kalo ngga ngerti ya silakan puyeng sendiri hehehe.

Trus temen saya bilang lagi : ''tapi kan aneh kalo nonton sendirian, sepi, ngga seru, ngga ada yang diajak ngobrol!'' err biasanya sih saya kalo nonton ngga banyak ngajakin ngobrol temen nonton saya. Ntar dianya keganggu, lagi. Dan masalah kesepian, well, once I get into the theater, the only thing that matter is the movie. Asal jangan satu gedung isinya cuma saya ya... Itu mah horror namanya :) Saya juga jaranggg banget nonton di bioskop dengan alasan seseruan. Saya nonton ya karena saya pengen nonton filmnya. Kalo nonton cuma buat seru-seruan, seinget saya, adalah jaman SMA nonton AADC dan pas kuliah nonton Kuntilanak. Dua-duanya saya sebenernya ngga begitu pengen. In the name of seseruan, it was. Sisanya, ya emang niat nonton. Ngga pernah yang dateng ke bioskop pengen nonton film A, tapi karena film A full, trus disitu randomly picking film B. Biasanya sih saya pulang aja. Rewel ya saya :D

Tapi ya begitulah, karena itu saya ngga pernah punya masalah nonton film sendirian. Enjoy markenjoy malah *apa sih markenjoy?* Dan bukan berarti nonton bareng-bareng itu ngga asik lho. Saya suka kok nonton dan share the experience pas/habis nonton sama barengan saya. Jadi intinya, sendiri atau barengan, buat saya dua-duanya menyenangkan, in their own way.

Kalo kamu, gimana?

Friday, October 15, 2010

GREED is GOOD

Yesterday I'm out of town and found myself idle for hours while waiting for something. All alone, no friends available, I went to the cinema. Ngapain lagi coba? Sempet bimbang, ada 2 film yang belum ada di Semarang. Eat, Pray, Love atau Wall Street ya?


Eventually, WALL STREET : Money Never Sleeps it is. And in that hollow cinema (where's everybody btw?) it turns out Gordon Gekko's back. In 1987 he performed the infamous monologue :

"Greed, for lack of a better word, is good. Greed is right. Greed works. Greed clarifies, cuts through, and captures, the essence of the evolutionary spirit."

... Now he recites it again. Not entirely, but it was there. I chuckled chew those words. It's not because the whole thing was true, but how Michael Douglas portray Gekko brilliantly once again in 2010. So anti-hero. So bold. So contradictive. Bersetting ketika Gekko akhirnya dibebaskan setelah dipenjara 8 tahun karena insider trading dan securities fraud. Hubungannya dengan sang putri, Winnie, fucked up karena suatu sebab di masa lalu. Winnie sendiri saat ini punya relationship dengan Jacob, seorang investment bank trader di Wall Street, dunia yang notabene dibenci Winnie karena mengingatkan pada ayahnya dan paham 'Greed Is Good'-nya.

Belum sampai di tengah cerita, somehow aku tahu arah filmnya akan kemana. Jelas terbaca, tapi tidak menghilangkan unsur entertainmentnya. Karena meskipun aku ngga ngerti soal saham dan bursa efek dan lain-lain yang jadi root film ini, with all the quick pace, flashy sequence numbers, rapid cut-to-cut editing, graphic and digital tricks, just like blackjack-based movie 21, rasanya tuh chop chop chop, keren dan 'mudeng' aja gitu :D

Michael Douglas keliatanlah kelasnya sebagai aktor watak kawakan. Pertentangan hati seorang ayah dan ego seorang mogul tergambarkan dengan supple. Josh Brolin mainnya bagus dan meyakinkan. Shia LaBeouf doin good too. It's good seeing him playing annoying brat no more. With a suit, he looks even more fit. And Carey Mulligan, the sweetheart, dengan pixie-look dan mimbik-mimbik nahan tangisnya itu lho. Aktingnya memang tidak terlalu standout but she's just too adorable. Tjantik!

Verdict : pure drama, not to thrilling, but entertaining. And pleases our eyes too. Traders, no traders, everybody could enjoy this movie. Oh dan satu lagi : banyak quote (yang menurutku) bagus dan awakening disini.

Not the 'greed is good' thingy for sure :)

Thursday, September 30, 2010

JAI guru DEVA om*

Lagi sering ngedengerin lagu ini, (lagi)...



... gara-gara nonton I AM SAM (lagi), dan (lagi-lagi) meler meler sambil sesenggrukan (lagi). Bedanya, at the time aku nonton I Am Sam kemaren itu, right after that aku nonton THE RUNAWAYS. Rasanya agak mengejutkan, seeing Dakota Fanning like this..

... becoming this.
Super. No doubt, berhasil melakukan transisi dari bintang masa kecil hingga dewasa dengan halus, hidup normal, bersekolah and not being Lindsay Lohan ver. 2.0. But still I'm squinting saw her smoke and show some skin in that movie. Kaget aja gitu.

Anyway let me tell you what I thought about THE RUNAWAYS. I think Miss Fanning already do her best trying to 'save' this movie, but apparently she cannot. The script itself isn't fierce enough, and many of the band's fan said it's a bit unfair only Cherrie and Joan standing on the spotlight. But I have to admit the parts when the band singing song are cool enough.

And about Miss Stewart playing Joan Jett? Which Jett herself pick K-Stew to portray Young Jett? Well err... She's playing Bella. Still. Seriously. Mouth a bit opened, stammered, blank eyes, scoffing. Pardon me for asking but... What is wrong with her and that stammered-act?



*) Jai Guru Deva Om :
The Sanskrit phrase is a sentence fragment whose words could have many meanings. Literally it approximates as "glory to the shining remover of darkness," and can be paraphrased as "Victory to God divine", "Hail to the divine guru", or the phrase commonly invoked by the late Maharishi Mahesh Yogi "All Glory to Guru Deva." --- wikipedia.

Friday, September 24, 2010

the ILLUMINATOR

Once upon a time, there's one simple and warmhearted night. Nothing urgent to do, hujan rintik-rintik, makan nasi goreng ikan asin, main Hangman, dan ditutup dengan nonton SANG PENCERAH. Buat yang terakhir ternyata cukup beyond expectation. Sang Pencerah tidak jelek sama sekali, matter of fact, diatas rata-rata tipikal film-latah Indonesia yang menjamur belakangan ini. Kalau satu bikin horor, yang lain ikutan. Satu bikin film remaja, yang lain mau juga. Satu bikin film religi, yang lain ngga mau ketinggalan.

Sang Pencerah beda. Kapan sih terakhir kita nonton film biopik? Cut Nyak Dien? Atau apa? Kalaupun ada setelah era Cut Nyak Dien, I barely remember saking jarangnya. Then, et voila, Sang Pencerah karya Hanung Bramantyo tampil jumawa. Mengangkat kisah KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, Sang Pencerah dalam kacamataku nampak effortless, tidak preaching, pacenya padat dan dialognya tidak picisan. Masing-masing karakternya juga begitu stand-out, terutama Lukman Sardi yang memerankan Ahmad Dahlan. Lagi laris si Mas yang satu ini. Emang aktingnya bagus sih, tapi khawatir aja kalo ntar beliaunya jadi muncuuuul terus dimana-mana. Biasa kan gitu, penyakitnya produser kita. Menurutku yang begituan ngga bagus juga buat personifikasi si aktor yang bersangkutan kedepannya.

Ah, yang gitu biarlah begitu. Yang pasti aku sangat menikmati film ini. Dengan bersetting di Jogja, para pemeran pendukungnya juga fasih bener bahasa Jawanya. Luwes pula. Sinematografi dan editingnya juga tegas, ngga buang-buang durasi. Sayang alur yang menanjak naik agak kendur di paruh akhir cerita. Well, mungkin karena biopik, jadi jalannya realita tidak melulu seperti drama 3 babak kali ya.

Kalo masalah fakta-faktanya, konon sih menurut yang tahu, sudah cukup presisi, meskipun detil-detil kecilnya mungkin tetap didramatisasi. Oh ya, aku juga kadang mikir, kalo ada film yang pemerannya ngga takut didandanin jelek, bajunya ngga melulu licin kaya baru keluar dari mall... Biasanya itu film bagus. Hihi analogi ngawur ya. But so far it works on me. Liat Pasir Berbisik. Atau Arisan. Hehe.

Verdict : menurutku ini film Hanung Bramantyo yang paling bagus (dari film-filmnya dia yang udah aku tonton at least). Tapi sorry to say pak Hanung, menurut saya Nyonyah Hanung ngga begitu cocok disini. Dia terlalu muda, aktingnya tidak begitu stand out, sehingga aku ngga bisa ngeliat angst dan pertentangan batin istri KH Ahmad Dahlan yang menemani perjuangan dan jatuh bangunnya sang suami. Mbak Zaskia sendiri selama ini aktingnya bagus kok, tapi bukan berarti dia harus main di film suami kan? I guess not everyone can be Tim Burton's Helena Bonham Carter...

Wednesday, September 8, 2010

before HOLIDAY

Heya there. Random thoughts aja nih, nyempet2in nulis sambil nyelesaiin kerjaan beberapa hari kedepan, sebelum kantor libur lebaran. Hooray. Tapi tetep siaran sih...

First of all, mau cerita : I slept for couple of minutes when i watched THE EXPENDABLES. Yes it's a wham bam kinda movie indeed, with bunch of muscle man, rough talk, weaponry, explosion, suicidal mission, blood, scattered body parts, dangerous stunt, car chasing... you name it. EXCEPT one well-written screenplay. It's such a waste putting Jet Li, Bruce Willis, let alone Mickey Rourke in this movie. Seriously Mr. Stallone, you don't have to push yourself, took all those job : producer, director and actor, like you're still in your golden age. You are not. I even found it scary when you sporting those muscles, at your sixties, AND have a young lady as a fling in this movie. By the way, do you.. err have a facelift? Or any lip-job? Because if you do, you better sue the surgeon.

But there's NO COUNTRY FOR OLD MAN as the antidote. Best picture for Oscar 2007 really has its quality. And Javierrrr Barrdemhhrrrr. Though he got silly haircut there, he did one helluva good job. And that weapon he use? The captive bolt pistol? No projectiles. No ricochet. So deadly. So match with his sosiopathic hitman character.

*exhale*
And above everything : I'm anxious. No, nothing to do with the movies. It's another thing in my mind : Why is she called me only when she's in need? how can I pull a happy face and positive thought, having this thing happens over and over again? *sob*

Oh well. Enough speak gibberish. Now I have to pack my bag and heading somewhere else.

See ya around folks.
Happy mudik. Happy holiday.

Thursday, August 26, 2010

the ANNOYING apprentice

Last night, me and friends went out for a movie while waiting the sahur radioshow. Ambil jam nonton yang paling malem, maksudnya biar kelar nonton film langsung siaran gitu. Sebuah langkah yang kurang taktis. Karena itu artinya setelah selesai siaran jam 5, pulang, tidur sebentar jika beruntung, jam 8 harus udah balik studio lagi, dan seharian bakal ngantor sambil ngantuk. Tapi anak-anak hore ini memang kadang ngga realistis dan ngga inget umur...


Anyway, semalem kita nonton THE SORCERER'S APPRENTICE. Lagi-lagi sebuah film yang potensial bagus tapi jadi mentah gara-gara beberapa hal sepele. Ehm, ini berdasarkan selera dan sok taunya aku aja ya, semua hal sepele itu numpuk pada Dave sang pemeran utama. Yea, flaw terbesar film ini si remaja nerd yang ternyata mewarisi kemampuan sihir hebat. But he's so annoying! Inget jaman Shia LaBeouf as Sam di Transformers lari-lari bodoh, teriak-teriak dan ngga kunjung percaya sama para Autobot? Waktu itu aku udah mikir : ini orang gengges (baca:ganggu) banget sih? But Sam end up melakukan hal2 heroik. Transisi from loser into somethingnya juga alus dan jelas 5W1H-nya.

While Dave, OMG... Ini karakter JAUUUHHHH lebih menyebalkan dari Sam di Transformers. Character buildingnya ngga lovable dan mentalitasnya ngga digambarkan cukup decent hingga dia bisa jadi seorang hero. Bahkan ketika akhirnya dia menjadi pahlawan di akhir film, i was like : Meh. Gak tersentuh hatiku sama sekali, saking nyebelinnya. Dave diperanin sama Jay Baruchel yang tone suaranya lumayan ganggu (padahal pas dia jadi dubber Hiccup di How To Train Your Dragon ngga segitunya lho). Ternyata kegangguan tone suara ini bertambah ketika dia mulai jejeritan kesana kemari. (Phew banyak kata "ganggu" dalam postingan kali ini ya?) Dan aktingnya, euh, sorry to say, not that good either. Menurutku chemistry-nya si Jay ini juga ngga masuk ke karakter Dave, pun ngga masuk juga ke karakter lain, misalnya ke Balthazar (Nicolas Cage), the master himself. Padahal Nicolas Cage mainnya lumayan lho, acuh-acuh caring sejenis kaya di Kick Ass gitu deh. Dan ketika dibilang Balthazar punya soft-spot buat Dave, aku mikir : why should him, for Dave is such a prick? Dikandhani ngeyel dan ganggu, dalam taraf yang unbelievable. Yak another kata "ganggu" spotted.

Di luar Dave, meskipun banyak summer-movie cliche di film ini, everything's just fine. Menghibur tapi tidak nailed too deep. Soal spesial efeknya, errr when it comes to Walt Disney and Jerry Bruckheimer and Jon Turtletaub, rasanya kita bisa duduk dan enjoy saja menikmatinya. Yah begitulah. For me, it's just average, but better than Narnia Saga lahh.


ps :
di acara nonton film ini, aku menjadi saksi mata transaksi pertukaran nomor telepon 2 total strangers. Well one of them is my friend, exchanging number with someone on the next seat. It all happened in within 111 minutes' movie length. Mereka silently berkomunikasi menggunakan layar HP layaknya agen rahasia yang bertukar informasi secara incognito. Oalah, bisaaaa aja =)

Saturday, August 14, 2010

DRAGON, sit! Roll!

Sedang agak malas menulis, yang ingin ditulispun sebenarnya basian berhari-hari yang lalu, tapi sungguh ingin berbagi : that HOW TO TRAIN YOUR DRAGON is a true relish.

Awalnya aku agak underestimate sama film animasi ini. Kupikir akan sama saja seperti Despicable Me. Banyak yg overrate, tapi ternyata bagiku gitu aja. Apparently this movie is a complete package when you need a relaxing moment. Lightweight but not shallow. I laughed so hard for most of the movie, my eyes lit up seeing scenes when Toothless fly with Hiccup thru the sky, my heart sank when Stoick the Vast set standards that are too high on his son, those comical faces of the dragons, tense aerial battle between Red Death -the gigantic dragon- and Toothless, from zero to hero formulae, the little burst of romanticism. It's just.. Complete.

And just like UP, semua karakter di film ini 'jelas', dan ngga ada yang terbuang sia-sia. Minute to minutenya rapat, setiap scenenya punya 'spark', that could hold my 4 y.o. sister sat still when she saw it another day. Sayang di Semarang, ngga ada satupun bioskop yang memutarnya dengan format 3D. Proyektor 3D-nya dipake The Last Airbender kali.

All in all, film yang diadaptasi dari buku ini membuatku sangat senang. Dan nyengirnya semakin lebar ketika credit title muncul dan aku mendengar suara yang familiar bernyanyi. It's Jonsi. Sigur Ros' Jonsi. Wah, jeli aja nih music directornya, karena buat aku lagunya jadi sangat pas capturing nuansa Viking film ini. Because everytime I hear his voice, I couldn't help not to think about thin layer of ice, avalanche and aurora :D

Now, Dila over and out. Have a kickin weekend folks.

Wednesday, August 4, 2010

i'm not CHEESY. i'm SALTY.

I'm speaking on behalf of Angelina Jolie. Yang berperan sebagai agen CIA Evelyn Salt. Yang filmnya, SALT, aku tonton beberapa hari yang lalu tapi belum sempet nulis, because some things kept me distracted and busy. Errr, kept US here in the office distracted and busy, precisely. I hope this shi.. eh.. stuff will turn good at the end.

Oke kembali pada SALT. Action, check. Thriller, check. Semua memenuhi faktor serunya sebuah film action dan thriller. Pace yg cepat, car chasing, guns shotout, explosions, disguise, you name it. Seru banget lah. Secara "mata" emang seru banget. But somehow i felt a big hole on it. Rasanya film ini seperti stoples kecil dimana dijejalkan begitu banyak hal-hal yg klise seputar 'American spy'. Pengkhianatan seorang espionage, Amerika versus Rusia, program cuci otak anak-anak kecil untuk dijadikan spy handal, nuclear war, destroying Moslem's holy city and ignite American vs moslem terrorist. Wew. That's too much for 100 mins length movie. Jadi terasa agak shallow.

About Mrs. Pitt, our incredible Angelina Jolie... She's great, as always. Doing some stunts by herself. Tapi entah kenapa, mungkin karena karakternya di dunia nyata sudah terlalu kuat sementara penggambaran karakter si Salt malah kurang mantap, jadinya all I see is Angelina Jolie. Not Evelyn Salt. Dan meskipun bibirnya masih sangat tantalizing, kenapa dia jadi kurus sekali?? Tiap kali dia jatuh atau dipukul, rasanya sendi-sendiku ikut nyeri, for she's waaaay toooo thin.

Konon film ini akan dijadikan trilogi seperti Bourne. That's one hella good idea. Kita punya James Bond, Jason Bourne, Indiana Jones, Ben Gates, tapi kita belum punya 1 jagoan cewe yg handal. Evelyn Salt bisa jadi kandidat yang sangat keren. But please. She really need a good screenplay too...

Monday, July 19, 2010

complexion INCEPTION

Ketika akhirnya punya kesempatan buat nonton INCEPTION di suatu weekend yang mendung, aku inget banget sama pesannya sang Jagoan Movies :

1. Bekali diri dengan sesedikit mungkin informasi
I did it. Biasanya sebelum nonton aku bakal melakukan research kecil terhadap filmnya, buat asal tau aja. Misalnya buat film yg diadaptasi dari komik/novel, trus pengen tau aja kaya gimana sih wujud media aslinya. Atau ngintip2 boxofficemojo, imdb, roger ebert, atau apalah. Sementara buat Inception, semenjak liat trailernya, aku ngga nyari tau apa-apa. Aku cuma tau DiCaprio bakal berperan sebagai pencuri mimpi, that's it. Dan hasilnya : a two-hours jawdropping. Film ini memang sinting. So many twist, so many surprises. so yes, the less you know, the better.

2. Jangan telat datang ke bioskop, konsentrasi pas nonton.
Kalau nontonnya di bioskop ya, dimana ngga ada tombol rewind atau fastforward. Kalau telat, pemahaman kita bakal berantakan semua. Sementara konsentrasi dibutuhkan bukan karena film ini begitu sulitnya dipahami. Hanya saja semua aspek dalam film ini penting buat disimak baik-baik. Every word spoken, every move made. Dan sepanjang film tuh kepala rasanya ngga berhenti recalling things : "where were we? oh! okay" Gituuuu terus sepanjang film. Sebenernya ngga bikin kewalahan karena yg direcall juga cepet ketemu jawabannya. Cuma ya itu, butuh konsentrasi dan screen-gazing, as for the movie took 'multiverse' background. Makanya aku ngga habis pikir sama orang2 yg pada mondar-mandir keluar masuk atau malah sibuk mainan HP/BB. Ngga cukup menarik apa ya? Uwahh, padahal seru. Seru banget!

Castnya mantap : Leonardo DiCaprio yg makin bold, Joseph Gordon-Levitt as a sidekick figure i love, Marion Cotillard yg terasa seperti 'asap', Ken Watanabe yg sangat powerful, Ellen Page yg nampak pintar dan lovable, Cillian Murphy yg selalu kelihatan cold as ice. Pacenya cepet, twistnya memperparah nuansa thrillernya, adegan action dan special effectnya worth to see, dan unsur sci-finya debatable. Aku suka mise-en-scenenya yang peculiar dan dreamy (ya iyalah dreamy, wong ngubek-ubek mimpi orang)... gedung terlipat, gravitasi yg kacau balau.. Ah. Love it. Kudos to Christopher Nolan sang sutradara. Dia berhasil membuat film ini horrified yet fun. Dan score bikinan Hans Zimmer disini, as you heard on the trailer, nuansanya 'mimpi' sekali. Mimpi yang buruk. Dimana kamu mendengar suara yg seperti lolongan, mendengung di kepala makin lama makin kencang. Have you ever had that kind of dream? Aku pernah.

Banyak referensi yg bilang, jangan ngasih spoiler film ini. Ah kebetulan aku ngga pernah menuliskan plot sebuah film secara runut di sini. Itu mah jatahnya wikipedia (padahal karena males hehe). Aku cuma bakal nulis kesan yg aku dapat setelah nonton, atau apalah sepengennya. And as for Inception, i have to say : this is the best movie i've ever seen in 2010, this far. Euh, berbagi sama Kick-Ass deh, kan genrenya bedaaa.

So, ready to have a deep, deep, deep, and.. deep, sleep? :)

Saturday, July 17, 2010

got KICKED in the ASS

KICK ASS. Lent the DVD sometime ago, but just got the chance to watch it last nite, during a midnite-break working this so-called internal-magazine. Verdict : Definitely. Being. My. New. Favourite. I loooove the rudeness. The fighting scene. The awkwardness. The popular-culture hanging around it, the soundtrack, the scene's cut-to-cut, the satirical comedy, the comical mise-en-scene. Ah. And the weaponry. Lots of weaponry! So fun!

The character? They're all fit in. Aaron Johnson doing good, as a common teenager wanted to be a superhero, and represented himself as Kick-Ass. Plus, he got fine green eyes :D The villains are being bold too, Mark Strong and Christopher Mintz-Plasse : mogul-daddy and the spoiled-son. They're really got the thing. Oh speaking of daddy-kiddo thingy, the depiction of Big Daddy and Hit Girl is the most awesome of all. Picture this : Nicolas Cage called Chloe Grace Moretz -playing his 11 y.o daughter- 'baby doll' while shot her in chest to test the kevlar! Or or, giving her a butterfly knives as a birthday present. Gee, so odd, but somehow it's just sweet. Not to mention the almost final scene when *spoiler alert* Big Daddy's got killed. Ugh that's touching.

Extra kudos for Chloe Grace Moretz. This little girl is sooo adorable. She's playing Mindy a.k.a Hit Girl so cool. Wearing tartan skirt upon a leather suit. Purple wig, combat boots and filthy mouth. Choosing who's gonna be killed first by eenie-meenie. She's gonna be the next big thing, I suppose :)

To sum it up : I'm entertained. In an awkward way, but still, very very entertained. Makes me want to be a superhero, and kick some ass :D



ps :
Akhirnya majalahnya selesaiii *jogetjoget* Biar cuma 12 halaman, taskworking tahun ini lebih berat dari tahun-tahun kemarin, mulai dari sesi fotonya, editingnya sampai layoutnya. Maklum amatiran. Dan sangat terbantu karena dipinjemin laptopnya mas Daniel. One lesson learned : intel Atom tidak diciptakan untuk program grafis.

Saturday, July 10, 2010

in DEVELOPMENT, they said.


The Hobbit. Director Guillermo Del Toro. Producer Peter Jackson. Cate Blanchett. Hugo Weaving. Ian McKellen. Shooting begin this July at New Zealand. Release 2011 (1st part) and 2012 (2nd part). In 3D.


*crossing fingers*

Monday, July 5, 2010

kickin with SMITH

Ketika aku datang ke bioskop 2 minggu kemaren (yep, judulnya telat nulis) buat nonton THE KARATE KID, aku tidak punya harapan yang berlebihan. Cuma buat killing time nunggu siaran. And what I've got is beyond expectation : Jayden Smith sungguh bisa berakting.

Bukan akting yang asal, tapi cukup natural. Sebagai seorang anak Amerika-pada-umumnya yang mengalami krisis identitas dan merasa insecure saat dia dan ibunya harus pindah ke Beijing. Apalagi saat harus bersinggungan dengan Cheng (si bocah oriental ganteng! :p) dan kroni-kroninya gara-gara cewek. Juga penggambaran hubungan surrogate father-son dengan petugas maintenance flatnya, Mr. Han, yang akhirnya menjadi pelatih beladirinya. Jayden juga sungguh bisa melakonkan adegan martial art itu dengan luwes. Ngga malu-maluin papa Will dan mama Jada deh. Dan six-packs samar-samar itu.. Oh wow, way to go, kiddo.

Tapi ketika Karate Kid versi 2010 ini mentahbiskan dirinya sebagai remake dari versi 1984, tiba-tiba aku merasa ngga sreg. Karena menurutku, versi 2010 tidak berhasil menjadi remake yang baik. Well, yea, versi remake memang tidak harus menjadi sama persis dengan versi aslinya. Tidak apa-apa jika sang pemeran utama pindah ke Beijing dan berguru pada pada si warga lokal, bukannya sang pemeran utama tinggal di US dan berguru pada seorang imigran. Tapi memberi judul karate untuk sebuah film martial art kung fu rasanya seperti... unscratched itch.

Pihak filmmaker bukannya tidak menyadari inkonsistensi ini. Sadar banget malah. Sampe-sampe dimasukin ke dialog dalam film dimana Dre, karakter Jayden, emphasizing bahwa yang dia pelajari itu kungfu bukan karate. Saking sensitifnya issue ini; di Cina, asal beladiri kungfu, film ini diubah judulnya jadi Kungfu Kid; sementara di Jepang, asal beladiri karate, judulnya jadi Best Kid. Sebuah kerepotan yang janggal dan ngga perlu sebenarnya. Meskipun, yea, alasan sang filmmaker cukup klasik : membuat remake dengan warna baru, dare to be different and whatnot. Tapi buat aku, hal ini begitu fundamental dan ngganjel banget. I wish this thing didn't happened. Mending bikin Kung Fu Kid sekalian (bolehlah ditambahin inspired by Karate Kid), atau sekalian terjemahkan Karate apa adanya.

But regardless that thing, this movie is a good one. Sangat menghibur, seru dan lucu. Film yang pas buat keluarga, dengan timing yang pas buat anak-anak yang lagi libur sekolah. Pesannya juga bagus buat adek-adek : from zero to hero, good boy won over bad boy, begitulah. Pacenya cukupan, ngga terlalu cepat, ngga terlalu lambat juga. Buktinya anak-anak yang nonton pada betah dan ketawa-ketawa melulu. Cuma, ati-ati ya biar adek-adeknya ngga jadi suka berantem-beranteman. Buat plotnya, dia setia sama film versi lama, dengan sedikit penyesuaian pastinya. Salah satunya adalah sebuah kissing scene yang... errr a bit weird. Not just because they're precocious, the scene's just.. didn't fit in.

Oh and about Jackie Chan as Mr. Han, Dre's mentor... Hmm, beliaunya tidak tampil terlalu menonjol karena memang bukan dia pemeran utamanya. Dia jago kung fu, kita semua tahu. Jurusnya yang selalu memanfaatkan benda-benda non-senjata, kita juga tahu. He perform good, as always. Yang baru adalah... Aktingnya yang begitu mencengangkan dan bikin dada sesek di satu scene : Ketika dia mabuk, menangis tersedu-sedu dan menghancurkan mobilnya tepat di malam kecelakaan yang mengambil keluarganya bertahun-tahun yang lalu. Kenyataan bahwa dia membetulkan mobil itu sepanjang tahun, menghancurkannya tepat di tanggal itu, lalu dibetulkan lagi, berulang-ulang, setiap tahun; karena rasa bersalahnya, karena benci pada dirinya sendiri, karena rasa rindu pada keluarganya... Uwaaah, nyesek banget rasanya. I've never seen Jackie Chan brought his acting that deep before. Kebanyakan becanda kali ya dianya, hehe.

So, doubt no more. Jayden Smith berhasil membuktikan : acting runs in his genes. Seperti dalam rap routinenya di Never Say Never : "I can handle him, hold up, 'aight? I can handle him."

Thursday, July 1, 2010

decision to make : THRILLED or BORED

Watch ECLIPSE last night, and..
Please somebody enlighten me : who to blame?
The screenwriter? The director? Or the author? For making Bella Swan such a selfish girl and ungrateful and unfriendly, on screen? Note that : on screen, because i haven't read the books.

Selfish, because, she always argued she didn't want to hurt Edward or Jacob. But somehow, the depiction leads that Bella was the one who doesn't want to hurt. And when Edward said to Bella in that cute flower meadow scene : "you sacrifice too much.." I was like, HEH?! Sacrifice dari hongkong?

Bella also remains ungrateful and unfriendly (which, no equal with 'cool', if that's the true intention), to everybody. Jadi, sebelah mananya yang lovable dari ini orang siiiiihhh? Ini bukan histeria atas nama pria-pria yang memperebutkan Bella ya. It's just... bugging me! Dalam film kan harus selalu ada alasan untuk semuanya, harus ada efek kausalitas. But this girl, Bella, everybody loves her, though she constantly kickin everybody out. With her bleak and flat face. Ngga relevan toh.

Or maybe this is something to do with the way K-Stew's act as Bella? Because, IMHO, there's no progression from previous movies. She just stares blankly. No matter whether she's happy, thrilled, sad, suspicious, threathened.. She just stares blankly. Bahkan ketika harusnya ada pertentangan besar dalam batinnya, antara memilih Edward atau Jacob, ga berasa aja.

And the camera keep zoom her face in. And Edward's melancholy-pale face. Time to time, till it made me dizzy, though I'm sitting in seat A. Ditambah dengan perasaan bosan karena pacenya lambat dan plotnya flat. Aku bahkan udah ngga bisa peduli lagi sama premis kenapa Victoria dikenal sangat vicious tapi sampe harus nunggu film ketiga baru menyasar Bella, pake ngerekrut vampire baru segala pula.

Maybe that is me to blame. Karena masih ngotot aja nonton installment ketiganya setelah garuk-garuk kepala melihat film-film sebelumnya. Bahkan di hari pertama pemutarannya di Semarang, oh how devoted I am. Engga euforia yaa.. kan diajakin Via, diantriin pula sama dia :p Haha, engga lah, regardless mau nonton hari pertama atau ntah kapan, aku memang pengen nonton. Sedikit penasaran karena sutradaranya ganti lagi, kira-kira bakal jadi berkurang.. ehm, kadar picisannya atau engga. Karena menurutku Twilight Saga potensial jadi film bagus. Karena katanya novelnya kan bagus ya?

Tapi ternyata, on screen, Bella tetap tidak lovable, Edward tetap mencureng menye-menye, dan screen interpretationnya tetap terasa picisan. Kalau ada orang yang mengungkapkan cintanya dengan sedikit masuk akal, mungkin hanya Jacob? But those tossing-kissing scenes.. Awkward.

Good thing about this movie : spesial efek buat serigalanya jauh lebih baik dari New Moon. And that "face it, i'm hotter than you!" line and the brokeback-mountain-ish moment were hilarious, thank you :)) Lalu ada Bryce Dallas Howard dan Dakota Fanning yang berakting cool disana. Bedanya sama Kristen Stewart, we still could see the inner-conflict inside them, meskipun tampangnya lempeng. Not just stares blanklyyyyyaaarrgghh.

Jadi penasaran gimana Kristen Stewart main bareng secara lebih intimate sama Dakota Fanning di The Runaways.
Dan tetep penasaran sama Breaking Dawn *ngga kapok*

Monday, June 28, 2010

alpha, mike, FOXTROT!*

*) baca : Adios, motha fucka!

Ups. Bukan pembuka yang sopan buat sebuah postingan ya sepertinya. Cenderung kasar dan blak-blakan. Ya gimana dong, soalnya THE A-TEAM dibuka dengan quote tersebut, dan premis-premis yang begitu to the point. In less than first 30 minutes, yang sudah pernah mengikuti TV seriesnya akan mudah recalling and seize the the-a-team nuance, tapi dengan warna baru.

Sementara para penonton baru akan langsung dapat ringkasan yang padat tentang frame of referrence film ini. That John "Hannibal" Smith is the leader, loves cigar, so well-planned and sharp minded. Templeton "Face" Peck is such a overconfident cassanova, but damn good with weaponry. Bosco "B.A" Baracus is one hella badass (well yea since B.A stands for Bad Attitude), notorious, but easily tamed by coconut curry made by H.M "Howling Mad" Murdock. Oh and who's Murdock? He's the team's clown, with on-off insanity, but managed to flew anykind of aircraft like riding a bicycle (ps: yang meranin Murdock versi film ternyata adalah pemeran Wikus Van Der Merwe di District 9. Sepanjang film penasaran buanget soalnya, berasa familiar tapi ga nemu-nemu namanya)

Yak, selamat bernostalgia bagi Anda-Anda yang sempat hidup di era 90-an (like meee) dan menonton seri TV The A Team. Kalo aku sih, ingatannya lamat-lamat aja. Satu yang kuingat dengan pasti : the A-team adalah seri TV action dengan bumbu komedi, dimana mereka berempat selalu bisa menemukan jalan keluar atas situasi paling kejepit sekalipun, perencanaan yang matang untuk menyelesaikan misi, ledakan dimana-mana, gunfights, and car-chasing. Surprisingly, di tengah semua ramshackles itu kamu tidak akan menemukan sosok korban bersimbah darah :)) paling cuma.. blegedarrr dar der dor mobil kebalik orang jumpalitan.. Udah. family friendly banget deh.

Nah, di filmnya aku juga merasakan atmosfer yang sama. Bedanya, I see blood shed. Cuma sedikit sih, and it's normal. Kupikir TV seriesnya lah yang ngga wajar :)) But seriously, this movie really work the adaptation out. Cita rasa The A Teamnya terjaga, tim yang terlihat seperti sekelompok begundal, tapi punya prinsip dan rasa hormat yang kuat satu sama lain. Durasinya pas, fast pace, tidak terlalu bertele-tele. Cast pemerannya pun phisically lumayan mirip sama yang dulu. Iya ngga sih? Liat cast originalnya dibawah deh. What say you?

Don't go to cinema seeing this movie if you want some serious matter, or you'll going "What the heck!?" :D So many impossible (almost silly) thing when the A-Team pulled off their job. Like my favorite scene.. *spoiler alert*.. when four of them are trapped on a tank falling from massive Hercules jet. Basically the tank attached with parachutes, but the parachutes ripped off, firing by two unmanned aerial vehicle. Oke, sampai sini sudah terdengar extravagant. But you haven't heard everything. While falling, the tank is firing rounds to reduce the momentum, manage to falls on a lake, and minutes later the tank come out from the lake safely :)) That's hilariously epic!

All in all, enjoy the adventure within this movie. And at the end, you'll know which team to contact if you have an unsolved problem :D