Wednesday, September 30, 2009

Warmhearter in the morning

Pujian bagi SBY di Harvard

Rabu, 30 September 2009 | 07:06 WIB

BOSTON, KOMPAS.com — Sekelompok mahasiswa Universitas Harvard yang dilengkapi spanduk berdiri di luar gedung kampus Harvard di Boston, Selasa petang waktu setempat atau Rabu (30/9) pagi WIB, sesaat sebelum Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tiba di kampus tersebut untuk menyampaikan kuliah umum.

Mereka berunjuk rasa untuk menyampaikan terima kasih atas kepemimpinan Presiden Yudhoyono dan Indonesia dalam memperjuangkan penanganan terhadap perubahan iklim.

Michelle Kissenkoetter, Dominic Maxwell, Michael Blomfield, dan Joel Kenrick, berteriak-teriak sambil membentangkan poster-poster yang mereka bawa ketika iring-iringan kendaraan yang membawa Presiden Yudhoyono dan rombongan melintas untuk memasuki gerbang kampus.

Mereka adalah mahasiswa Master in Public Policy di John F Kennedy School of Government di Universitas Harvard. Poster-poster berwarna kuning dan merah muda yang mereka usung itu antara lain bertuliskan "Thank You Indonesia", "Harvard Says, Indonesia’s Our Climate Change HERO", "President Yudhoyono Climate Change World Leader" dan "The Earth Our Future, Thank You Yudhoyono".

"Kami ini adalah mahasiswa Harvard dari berbagai bangsa. Kami ingin masyarakat Indonesia tahu bahwa apa yang telah dilakukan oleh pemimpin negara Anda sangat kami hargai, dihargai oleh Amerika dan dunia," kata Michelle kepada wartawan.

Dominic, sementara itu, mencatat kontribusi besar yang diberikan oleh Indonesia, yang melalui KTT Perubahan Iklim di Bali dua tahun lalu mampu merekatkan negara-negara untuk melakukan perundingan dalam menangani pemanasan global.

"Apa yang telah dilakukan Indonesia sangat berarti karena negara-negara setelah itu (KTT Bali) mau melakukan perundingan, dan sekarang perundingan telah mengarah ke pertemuan di Kopenhagen, Denmark," kata Dominic.

Kopenhagen pada Desember 2009 nanti akan menjadi tuan rumah pertemuan tentang perubahan iklim yang diharapkan akan menghasilkan kesepakatan global tentang langkah-langkah yang akan dijalankan pasca berakhirnya Protokol Kyoto tahun 2012 tentang penanganan perubahan iklim.

Saat berita ini diturunkan, Presiden Yudhoyono sedang menyampaikan pidato di depan para mahasiswa dan akademisi Universitas Harvard dengan mengangkat ’harmonisasi peradaban’ sebagai tema utama pidatonya. Joel Kenrick mengatakan, dirinya tidak dapat mengikuti kuliah umum Presiden Yudhoyono karena kehabisan tiket tanda masuk ruangan, yang pada Selasa petang dipenuhi sekitar 800 orang.

Pihak Universitas memang mengharuskan para mahasiswa dan akademisi untuk mendaftarkan diri jauh-jauh hari sebelumnya guna mendapatkan tiket mengikuti kuliah umum oleh Presiden Yudhoyono.

"Tapi tidak apa-apa (tidak bisa masuk ke ruangan tempat SBY memberikan kuliah umum). Yang penting kami ingin menunjukkan kepada banyak pihak bahwa kami sangat menghargai peranan Indonesia dalam menangani perubahan iklim," katanya.

taken from :
http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/09/30/07060826/Pujian.bagi.SBY.di.Harvard.


Tidak bermaksud begini atau begitu, tapi saya tidak mau menjadi skeptical citizen... Dan ngebaca artikel ini pagi-pagi, ditengah-tengah segala macam hal yang belum beres di negara ini.. rasanya hati saya jadi hangat..

Oh ya, sebelum kelupaan.. Besok 2 Oktober pak SBY ngajakin kita buat pake batik rame-rame, dimanapun kita berada, berkaitan dengan bakal diumumkannya batik sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009. Yuk rame-rame yuk?


I am afraid

I don't have to;
but still.

I just need a little sign;
and that's it.

Ya Allah, Ya Robbi;
please give me those strength and patience...

Tuesday, September 29, 2009

She's leaving


To stay in Jogja. Untuk mengikuti sebuah artsy internship. Yah, dunia yang sangat dicintainya itu. Good for her. Tapi rasanya kok jadi kehilangan temen maen? Hihihi, padahal kan sebelom di Jogja dia sempet berbulan-bulan tinggal di Jakarta juga. Dan dia emang selalu hoppin everywhere, kinda manusia nomaden. Cuman we've hang out quite often lately, jadi rasanya agak kehilangan.

Dia temen SMA-ku, yang.. apa ya? Aku ngga pernah menyebutkan seseorang sebagai 'sahabat' sih. Whenever me and him/her get along so well, so it is. Dan si Bebek ini adalah salah satunya, yang bertahan cukup lama, sejak SMA. Kita ngga terlalu sering ketemu, tapi kalo ketemu, ya udah aja. Dia ngerti sesuatu yang kadang ngga dingertiin orang lain. Teman sharing saat jenuh dan bete sama orang yang itu-itu aja. Dengan pola pikirnya yang kadang ajaib, tapi bisa membalikkan semua logika yang aku yakini. Hahaha. Ntar maen-maen kesana ahhh. Asik ada tumpangan nginep :)

Anyway, previous day she gave me this little present as a belated bday gift. Lucu ya?


See you soon my dear comrade!

Monday, September 28, 2009

Meskipun kelakuan labil kaya' abege...

... Tapi gaya bahasa SMS ala abege agak-agak unacceptable bagiku. Humm mungkin karena usiaku yang emang udah ngga abege lagi. Buatku, bahasa SMS yang diketik not with the way how it used to spell, lumayan irritating. Bukan dalam artian singkatannya atau kaidah EYD-nya lho ya. We're talking SMS, ngga mungkin segitu sempurna EYD-nya kan? Tapi lebih pada effort si pelaku untuk membuat kata-kata dalam SMS menjadi lebih 'gimanaaa gitu.'

Nah, 'gimana gitu'-nya, menurut versi-ngawurku, ada beberapa tipe :

Pake huruf kapital-normal-kapital-normal-kapital..
KaLo YanG iNi no fuRTheR expLaNatiON Ya. SuDAh jaMaK aDa bBeRpa taHun siLaM.. KaDaR kEgangGuanNyA rinGaN Lah...

Dibikin menjadi 'imut'
Misalnya dengan mengganti penggunaan 'S' dengan 'Z', atau 'K' dengan 'G' atau 'Q'.. Or anything! Kaidahnya ngga ada. Yang penting kedengeran semacam babytalk.

Misalnya : kenapa jadi nupu; he eh jadi hu um; kalo jadi lok; lagi jadi ge; kok jadi kug; terus jadi teuz; etc etc. Contoh rangkaian kalimatnya : "hu um, ini no.qw. nupu iq kug mizkol2? qmuw ge dmn? "

Wuaduhh. Apalagi kalo laki-laki dewasa yang pake' gaya bahasa kaya' gini. Dobel waduh. Kesan apa sih yang mereka pengen dari gaya SMS kaya' gitu? Ga paham deh.

Didramatisir dengan menggunakan lebih banyak huruf
Oh, ya. Ini sekarang sedang populer dikalangan anak SMP dan SMA. Yaitu dengan menambahkan banyak, bahkan sebanyak mungkin huruf vokal atau konsonan, yang sebenernya ngga makna juga... Apakah sejatinya biar keliatan imut juga kaya' poin diatas? Ga paham juga.

Contoh : kalian jadi qliandt; kamu jadi qmuww; siaran jadi cyarann; etc etc. Atau sekedar memvisualisasikan keluhan "huh" jadi "huuufth"..




Now, bayangin kalo 3 aspek diatas digabung dalam satu SMS

Imagine this :
"hai kakak, kemana aja? kok ngga pernah keliatan? iihhh pasti main terus ya?"

Becoming this :
"Hi kKaa, kMna 'aj? kuG ggA prNa qLiaTand?? iiyyH pZti maEnd teuZ eaa?"





Euhh. No offense for the user, but... I. Just. Don't. Get. It.



PS :
Maap kalo contohnya ngga terlalu bagus nor masuk akal.. Can't really think any of it actually. Cuma seingetnya aja, beberapa kali sempet dapet SMS kaya' gitu, entah dari temen atau dari pendengar. Dan lumayan mikir ngebacanya. Apalagi ngebikinnya ya? Eh ngga tau So I wonder, how could those teens and adult-act-teens did it so often, everytime they texted??

12:16 AM

Cuci muka, ganti kaos, solat Isya;

Ngolesin Counterpain ke dengkul yang misteriously aching;

Ngegulung kabel-kabel : earphone, mini usb, kabel power laptop, kabel data, charger hp;

Lipet polo shirt seragam buat dipake besok, mindah barang dari slingbag ke backpack;

Browsing, chatting, blogging, fb-ing;

Staring the quiet-yet-unflashed cellphones;

Gelinding sini, gelinding sana;

Sebatang, dua batang...






I really need to get sleep. Besok mesti bangun buat siaran subuh, jangan sampe telat kaya' tadi pagi. Mesti ngantor juga.





But this troublesleeping oh so killing me.

Saturday, September 26, 2009

Tujuhbelas lagi



Kaya' judul filmnya Zac Efron ceritanya, Seventeen Again. Itu kali ya, yang dirasain sama temen-temen angkatan 99-00 SMA-ku yang pada reuni semalem. Dari sekitar 500an jumlah angkatan kumplit, yang dateng emang cuman 150an orang, tapi hadeuuu ramenya... Pada rumpi aja semua kemana-mana. Kalo mengutip katanya si Kodok : "yang cewe-cewe tambah cantik, yang cowo-cowo tambah gendut". Hihihi. We'll take that as a compliment!

Timing libur lebaran ini emang ngebawa para perantau dari seluruh penjuru Indonesia (even Germany and Japan like Afri and Afrio) balik ke Semarang, then ke reunian ini. Ada yang bawa suami, istri, bahkan heboh ngejar-ngejar anaknya yang lari-lari kesana kemari. Ada yang udah di level manajerial, ada yang siap jadi orang sukses karena bekerja di instansi dengan jenjang karir yang manstap.

Jujur kemaren emang sempet cemas ngga jelas pas mo reunian ini. Buat orang-orang belom mapan seperti aku emang reuni suka bikin gatel-gatel ga juntrung. Hmmm, sebenernya memang mapan atau engga itu relatif ya, aku cuman males aja mesti 'dinilai' sama orang-orang yang engga tau. Soalnya sering kejadian kaya' gitu.

Tapi ternyata hal-hal kaya' gitu emang ngga perlu diributin. Gampangnya : Who cares anyway? Just walkthrough, have fun, mingle with the right clique :D Oh yes indeed. Right clique. Kalo bukan clique yang tepat, ujung-ujungnya 'peres-peres' doang.

Semalem ketika mencari clique yang tepat, ternyata aku sadar : aku kaya'nya kurang banyak temenan deh pas SMA. Asal ngobrol bisa, tapi not going further. I've got several clique, but that's it. Lalu aku berusaha memperbaikinya semalam. Misinya ngga lagi looking for certain clique, tapi berusaha get along sama sebanyak mungkin orang.

And thanks God, karena disuruh ngemsi pula, aku punya kesempatan nemplok sana-sini. Tidak pula terlalu invisible. Matter of fact malah mungkin nyolok mata.. Dan kuping, karena terlalu berisik. Ready or not, temanmu ini sekarang memang semacam emsi orkes melayu pantura. Tadinya sempet cemas. Ngemsi biasa aja kepikiran gimana kalo garing, apalagi didepan temen sendiri. Ternyata lagi-lagi, yang begituan mah ngga usah dipikirin. Wis pokoknya hajar aja. And Bebek said, they enjoyed what I've blab and done. Sukur deh kalo emang bener begitu.


Habis reunian, karena Bebek home alone, dia ngajakin aku buat nginep. Ternyata kita malah sempet makan nasi ayam dulu, dan take a little walk keliling Simpanglima sama beberapa orang yang bahkan di SMA dulu ngga aku kenal dan ngga kenal aku. And we've get along so well ternyata.

Lucu ya, betapa kehidupan mengajari banyak hal. Dalam kasusku, mungkin mengajari berteman. Bersyukurlah mereka yang sudah pintar berteman sejak jaman dulu kala. Soalnya aku dulu sangat canggung dan peragu. Yah, sekarang juga masih sih, tapi insya Allah ada sedikit peningkatanlah. So next time, pengennya aku ngga mau menyia-nyiakan kesempatan buat berteman dengan banyak orang. Berteman, bukan sekedar tau muka.

Kudos buat panitianya yang udah kerja keras. Aku bukan panitia sih, cuman dimintain tolong beberapa hal disaat terakhir. Semoga semalem acaranya menyenangkan semua orang. Yah, ngga mungkin semua orang dipuaskan sih... Tapi semoga, semua senang dan bisa keingetan reunian ini sampe ntar kita ketemuan lagi.

See you when I see you!

Friday, September 25, 2009

Masuk kantor, masuk kantor...

Nuansanya tetep nempel di hati, tapi ingar bingar lebarannya udah lewat. Saatnya ngantor lagi. Saatnya duduk lagi disini, di ruangan berlapis karpet ini, mengetik, browsing (swadaya, karena wifi lagi-lagi wafat), mencoba memberikan sumbangsih berupa ide-ide segar pada perusahaan yang menggajiku setiap bulan.

Tapi pagi ini aku sungguh mengantuk. Total. Tidur baru jam 4 pagi, and God knows why. I didn't regret it. In fact, aku malah bersyukur. Atas semua yang aku dengar, aku rasa, aku pahami. Ah, malam hari memang membuat manusia jadi lebih sensitif dan sentimentil yah?

Kalo minggu ini bisa lewat dengan baik, alhamdulillah banget. Ntar sore ada acara reunian SMA, besok sore ada acara sama anak paski SMA. I've always got issues with those reunion-thingy. Sesuatu yang berhubungan dengan rasa inferior slash ngerasa belom jadi seperti mereka slash keganggu kalau 'diukur' secara subjektif sama temen lama. Padahal rasa kaya' gitu sebenernya engga perlu. Just me and my suspicious mind. So I crossed my fingers. Buktinya kemaren reunian sama anak-anak sekelas ipa6 ngga ada masalah kan? Tenang aja, good deed will never goes wrong.

Terussss, apalagi ya... Mmmh, ada beberapa hal yang mesti aku beresin sampe akhir bulan ini. Kamar beres check. Cucian check. Nge-sol-in sepatu check. Beli sabuk kulit check. Apa lagi ya? Ahh, ngabisin beberapa bacaan. Moga-moga bisa selesai tepat waktu. Amiin.

Okay, enuff for now. Nanti disambung lagi.
Have a great (back to work) day efribadeh!

Random shot : It takes two to 'tangtop'

Where : sekitaran traffic light Karyadi
When : di suatu hari H-minus-sekian Idul Fitri
What : info penting buat eloh yang pengen tampil gaol geto dehhh :D
Personal note : hardsell abeissss!! laris manis pasti!

Wednesday, September 23, 2009

turn back time

Everybody's screaming : "Ya engga bisalahhhh..."

Yah, namanya juga pertanyaan teroris.. eh.. erotis.. eh retoris! gara-garanya sore ini siaran, form entriesnya pake used paper. Begitu aku balik, ternyata itu kertas bekas absen manual penyiar tahun 2006. Bentuknya kaya' tabel, dan kita tanda tangan di situ, sesuai jam dan acaranya. Kita ada mesin absen sih, but manual back-up won't goes wrong, rite?

Nah, balik lagi ketika aku ngeliatin tabel tahun 2006 itu.. Oh how I missed the old time. Ngeliatin nama temen-temen yang sekarang udah cabut dari sini... Ngeliat kombinasi partner siarannya... Dan aku jadi inget, betapa hidup disini ketika itu tidak secomplicated sekarang... ya dari kerjaan, ya dari urusan pribadi... kalopun waktu itu ada burden, palingan masalah kuliah aja sih (yang tertunda 2 taun hihihi)

Bukannya aku ngga cherish the present time ya... No, aku bahagia the way I am sekarang. Meskipun masih ngesot-ngesot ngurusin ini itu, tapi ada juga kok impian yang accomplished. And I won't trade it with anything. Friends, love, experiences.. Meskipun engga serba sempurna, tapi aku bersyukur.

Tapi ngga tau nih, lagi sentimentil aja bawaannya. Nginget masa lalu gitu. Harusnya sih bisa sekalian jadi ajang introspeksi ya?

Then I did. Lalu aku sadar, kadang aku bertingkah 'lebih menuntut hak daripada kewajiban', being such a selfish-ignorant-bitch, ngga sabaran, suspicious mind, suka ngga fokus etc etc.. you name it. Dan karena itu, terkadang, aku kehilangan hal-hal penting dalam hidupku. Karena aku engga berkaca sama masa lalu. Karena aku mengulang kesalahan yang sama.

Aku ngga mau mengulang kesalahan yang sama. Kalau aku hari ini masih berdiri disini, satu hari lagi, itu artinya Si Boss of the Universe ngasi aku kesempatan. Kesempatan satu kali lagi. Dan lagi. Dan lagi. Dan lagi. Berkali-kali. Dia ngga pernah berhenti ngasih aku kesempatan. Dan buat kamu juga. How great is that?

Masa lalu itu ada, bukan untuk membuat kita menyesalinya.
Masa lalu itu ada, biar kita engga ngulang kesalahan yang sama.

I'm on my bended knees, praying.
Then rolled my sleeves, struggling.




Let's do it. Together.

Sunday, September 20, 2009

Siapa sih saya?

.. cuma seorang manusia.. kalo bukan karena rahmat-Nya, petunjuk-Nya, saya ngga bakal bisa ngapa-ngapain..

Dan pagi ini saya bersujud, di hari dimana Beliau menjanjikan saya dan seluruh umat manusia akan diampuni dosanya, dilahirkan kembali, dicurahi rahmat-Nya.. kurang sayang apa sih Beliau sama kita?

Selamat Idul Fitri, my dear fellas..
Semoga amal ibadah kita diterima oleh Beliau;
diampuni dosa-dosa kita dan;
tahun depan kita bisa kembali bertemu Ramadhan.

Khusus saya, dalam hati saya berdoa tahun ini seorang teman saya mau memaafkan saya dan beberapa anggota keluarga yang selalu memandang saya dengan sebelah mata mau berlapang hati menerima uluran tangan saya... Amiin.

Btw pagi ini saya telat bangun, nyaris telat solat, trus jam 8 pagi udah nyampe studio buat siaran... Belom sempet ketemu sama seluruh keluarga.. Ngga papa deh, yang penting saya udah bermaafan sama orang-orang terpenting dalam hidup saya : orang-orang yang namanya ada dalam daftar teratas halaman persembahan skripsi saya; yang saya sayangi dan juga sayang sama saya.

Sekali lagi selamat Lebaran semua. Semoga Lebaran ini membawa kebaikan buat kita semua. Termasuk buat saudara-saudara kita yang kena musibah, yang kekurangan, yang lagi punya masalah dalam hidupnya. Yakin aja, Allah sayang kok sama kita. Yang penting kita jangan berhenti berdoa dan berusaha..

*Ahhh, denger takbir bawaannya pengen nangis mulu nih. Sentimentil abis. Hiks*

Saturday, September 19, 2009

deru dan debu.. uhuk uhuk!

Akhirnya sodara-sodara, the good side of me win : SAYA BEBERES KAMAR! yee-Ha! *koprol*

Yang aku maksud 'beberes kamar' disini judulnya beberes kamar yang MASSIVE! Yang mesti ngebongkar sesuatu, ngebuang sesuatu, mindah-mindah sesuatu. Soalnya kamarku sudah sangat helpless kotor dan berantakannya. Penuh banget, dimana-mana ada barang, sampe kegerahan sendiri dalam kamar.

Acara beberesnya dimulai jam 9 pagi sampe jam 1 siang, ngga pake break. Berkutat sama debu, sapu, spiderweb, lap pel, obeng, alteco, sampah dan laen-laen. Yah, salahku sendiri sih, jarang nyicil beberes...

Sekitar dua bulan kemaren aku juga sempet ngebongkar kamar, dan hasilnya aku berhasil ngebuang 2 plastik gede barang-barang ngga penting yang menuh-menuhin kamar, such as : kertas, majalah, koran, suvenir nikahan, brosur, dan buanyak lagi barang ngga penting lainnya. Begitu 2 plastik itu kebuang, aku pikir, oh fine, berarti sekarang dalam kamarku sekarang cuma ada barang-barang esensial doang.

Nah, tadi pagi aku beberes, -means baru berselang 2 bulan dari beberes yang kemaren- ehh.. tiba-tiba aja udah 3 plastik gede barang yang mesti dibuang! Itu semua barang bukan barang baru semua, tapi barang yang sempet aku pertahanin ketika beberes 2 bulan yang lalu, yang waktu itu aku anggap masih penting, dan sayang buat aku buang. Nyatanya, semua barang itu ngga kepake juga.. Semuanya berdebu dan ngga pernah aku sentuh sama sekali. Ada diktat kuliah, ada name tag event-event, ada rundown-rundown lama, majalah dan koran, brosur entah apa (again), label-label barang...

Lalu aku heran.. Anjrit, naluri nyampahku bener-bener gede ya? Kok bisa ya aku hidup berbulan-bulan dengan total 5 plastik gede barang berdebu yang sama sekali ngga aku pake? (and still counting maybe, secara hari ini aku juga sempet ngga tega ngebuang beberapa barang). Euhh, tapi mengingat aku masih mampu ngebuang-buang, dan masih bisa nyapu-ngepel, moga-moga perilakuku ini bukan compulsive hoarding..

Tau compulsive hoarding kan? Yang sempet ditayangin di Oprah itu lho. Yang berupa perilaku ngga mampu ngebuang barang-barang ngga berguna dalam jumlah besar, yang akhirnya ngeganggu aktivitas sehari-harinya. Soalnya 'barang-barang ngga berguna dalam jumlah besar' ini jumlahnya bener-bener BESAR. Rumah tuh jadi kaya' TPA, seriously. Dan para hoarder ini truly ngga sanggup ngebuang barang-barang itu, even itu adalah sekaleng sarden setengah kebuka yang udah jamuran atau kardus-kardus ngga makna yang numpuk sampe ke langit-langit rumah. Mereka membiarkan semuanya numpuk, kotor, berantakan selama bertahun-tahun.. dan ngga sanggup ngebuang itu semua.

Tapi karena aku sadar dan mempertanyakan ini, Insya Allah aku bukan hoarder lah ya *lega* soalnya buat seorang hoarder, mereka ngga sadar kalo itu kesalahan. Bahkan ada satu hoarder bilang, rumahnya yang penuh sesak sama barang itu cuma "small problem that mushroomed". Whew. Buat lebih jelasnya, klik sini deh.

Pokoknya malam ini bisa tidur di kamar yang (sedikit) lebih lega dan bersih. Kita lihat aja, kamarku bakal stay clean berapa lama :D

*berjanji dalam hati bakal rajin bersih-bersih*

Friday, September 18, 2009

Me versus Priority

The result is : rarely worked well.

Ada apa sih dengan saya dan prioritas??? Sejak jaman duluuuuuu kala, saya tuh sangat ngga jago ngejalanin prioritas. Bukan ngeset. Ngesetnya mah jago, tapi ngelakuinnya itu. Saya sangat mudah meleng ke kiri dan ke kanan, left the priority behind, dan menyesal di kemudian hari. TELAT!

Dulu jaman sekolah, tradisi belajar kebut semalem adalah budaya saya. Saya tahu saya harus belajar ini atau itu. Saya duduk di meja belajar.. Tapi bukannya belajar, saya malah ngegambar komik! Dan parahnya, dalam hati saya terus memberi excuse : "ah, entar aja, ini kan jam 10, mulai belajar jam 11 deh".. Sampe jam 11, saya nemu kegiatan baru, such as baca majalah. Dan hati saya berkata "oke, ntar jam 12 aja mulai belajarnya". Gituuu terus sampe lewat tengah malem. Then I ended up ketiduran dan kelabakan pagi harinya. Bodoh ya?

Kemaren, saya niatnya mo beberes kamar. Saya nyalain laptop, mo nyalain winamp. Ceritanya buat nemenin beberes, biar semangat gitu. Tapi akhirnya saya malah nyolokin modem dan blogwalking. Dan saya terus mengulang kebiasaan 'snoozing excuse' saya. Saya mikir "ngenet sampe jam 5, ntar mulai beberes deh." Sampe jam 5, saya bilang "Ntar deh jam 6." Dan seterusnya, dan seterusnya sampe akhirnya ngga jadi.

Atau tadi pagi. Habis saur bareng anak-anak kantor, nyampe rumah itu sudah subuh. Tinggal ngambil air wudhu doang kan? Tapi saya malah glinding-glinding di kasur cuddling sama boneka bebek saya. Saya mulai snoozing : "Lima menit lagi, eh.. sepuluh menit lagi." Dan voila! Saya bangun jam setengah 9!! Udah ngga subuhan, ngantor telat pula. Iiihh.

Kebiasaan jelek banget. Entah berapa kali saya dirugiin dan kehilangan kesempatan-kesempatan baik karena ini. Susah fokus; udah tau yang dikerjain tuh bukan prioritas, tapi tetep dijabanin; udah tau eksesnya kalo si prioritas itu ngga cepet dikerjain, tapi masiiih aja di-pending. Saya mudah terdistract dengan hal-hal yang 'remeh tapi menyenangkan' instead of mengerjakan sesuatu yang 'urgent tapi rigid'. Anak kecil sekali yah? Unresponsible i must say...

Satu dua kali sih saya bisa menuhin target. Kalo saya berencana "do this first!", kadang saya bisa menjalaninya dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab *hayah* Tapi most of all... Yah, you know lah ya..

Saya masih mencoba buat berubah. Tapih.. tapih.. look at me now : skrip yang mesti digarap numpuk tapi saya kok malah ngeblog dan blogwalking? Oh my.

Kalo gitu udahan yuk. Saya ngetik-ngetik dulu yaa.

Be right back.


*Oh anyway, ini beberapa potonya pas kita saur bareng*



Thursday, September 17, 2009

Ngintip sebentar...

Ahhh. Hello there. Apa kabar semuanya?

Saya? SNAFU. Situation Normal : All Fucked Up.

Really. Can't put my head through anything. Rasanya udah kaya' keranjang cucian di rumah : penuh sesak sama baju. Baju yang harus dicuci = masalah yang musti diberesin. Ahh. I wish i wish.

Ramadhan juga udah hampir berlalu. Tinggal 3 hari lagi (though masih ada kemungkinan lebaran jatuhnya Minggu atau Senin). Tapi sedih. Sama seperti ketika aku merasa sangat merindukan Ramadhan. Kalau tahun-tahun kemarin terus terang aku sangat skeptis. Cuman lewat aja gitu sebulan. Tapi tahun ini...

Kok rasanya sedih banget ya begitu tahu Ramadhannya mesti berlalu. Ramadhan tahun ini rasanya luar biasa, both in joy and pain. So, aku ngerasa bulan ini bakal jadi semacam self-healing buat aku. Dan benar. Meskipun belum sembuh sepenuhnya, I'd feel better. Dan meskipun masih mengais-ngais ngeberesin ini itu, alhamdulillah datang hal-hal yang sangat aku syukuri, tanpa aku sangka-sangka. Si Boss-of-The-Universe emang Maha Baik. The best is yet to come. Iya ngga Boss? :)

Mmm apalagi ya?

Oh ya, mesti ngemanage kebutuhan lebaran. Buat rumah terutama. Jangan sampe splurge ngga makna lagi kaya' tahun kemarin. Lebaran ini aku juga ngga beli-beli buat diri sendiri. Mau beli apa coba, kok kaya' anak kecil lebaran mesti beli-beli? Mending buat nambahin kebutuhan di rumah.

*But i've already order another shawl. Kali ini yang fringe* :)

HEIIII. Mesti beberes kamar jugaa!!! Udah kaya' gudang ituuuu. TOP URGENT!!

Haduhh. Anyone? Bantu saya? Yuk?

Monday, September 14, 2009

walking contradiction

'Rasa' yang seperti ini, rasanya udah lamaaaa banget...

Meskipun kepala dan hatiku kebingungan ngga menentu;
tapi 'rasa' ini begitu irresistable.

"Earth to Dila. Earth to Dila.
Get back to the ground. I repeat, get back to the ground.
This is not a test"

My hands' shaking;
My heart's throbbing;
My mind's pondering;

But this lips, oh God, smiles ear to ear.

Saturday, September 12, 2009

Malam minggu = Yay!

Sorry. Slipped fingers. Not 'YAY'. But 'NAY'

I mean, this is another lousy saturday night. Well, am not so alone. Accompanied with headache. Stomachache. Pile of Panadol. Cigars. Coffees (no Nutrisari tonight, I've mentioned the 'stomachache', right?). Richeese Ahh. Dusty-lovey bebek.

Such a racket, eh?

Semarang panas sekali akhir-akhir ini. Apa cuma kamarku yang semakin sumpek ya? Harus segera diberesin nih. Super urgent. (UPDATE : ternyata ujannn! Pantesan panas) Si motor juga kotor. Mau nyuci sendiri lagi ah. Demi kedekatan batin ibu dan anak. Seperti inisiasi dini (crap, lupa beli sabun-cuci-motor!)

Those scripts bikin kepala penuh, siaran agak jenuh. Tapi aku ngga mau ngeluh. Keep telling myself : Ahhh baru segini doang. Baru segini doang. I'll let the bigger one come. Come on, come on. Chop chop.


Barusan nonton SIN CITY. Frank Miller's SIN CITY. Dari duluuu nyari DVDnya barusan ketemu sama si Momma Nunce. Dan ternyata beyond expectation. Indah sekali. Tokoh favoritku, ummm, Kevin and Miho I guess. Seperti biasa, tipe sidekick. Bahkan wajah mereka ngga ada di posternya. But they're the coolest notorious silent killers. Jrat jrot jrat jrot. No wonder, secara Mr. QT jadi special guest director pula. Kaya'nya bakal bikin aku mimpi buruk tapi film ini indah sekali. Warna merah darah diatas hitam, putih dan abu-abu. Dan narasinya yang sinis itu. Aduh aduh. Indah sekali. Sekaligus gory sekali. Aduh aduh.

Pemuja karya-di-atas-kertas sepertiku cuma bisa melongo selama 2 jam di depan laptop. Demi menyadari bahwa apa yang direfleksikan lewat gulungan film itu tadinya adalah guratan pensil dan tinta, membuatku lebih respek dibanding nonton film yang biasanya. Seperti ketika nonton 300. Atau The Spirit. Tapi 300 tetap yang nomer satu. Habis itu Sin City. Baru The Spirit. Ketiganya punya sentuhan sadisme yang sama, tapi selera humornya juga sama. Gayanya Frank Miller kali ya. Soalnya belom pernah baca novel grafisnya. Anyone yang mau minjemin?

Okay. Mau beberes-beberes dulu ya. Catch you guys up later.

(Euh. Denger kata 'guys' jadi keingetan mba Widhi Vierra yang gemar mengucapkan kata 'guys' dengan gaya yang annoyingnya unbelieveable. Sigh. Kids nowadays. No offense, mungkin karena sayanya yang sudah tua. Ouch!)

Positive Mental Attitude?

Yeah I wish. The truth is I'm mentally ILL.
Huhuhuhuks.
  1. Kondisi tempat ini yang sedang tidak kondusip buat ngapa-ngapain.
  2. Dunia persilatan yang tidak ramah. Padahal umur sudah segini. Setres.
  3. Psikosomatis. Selaluuuu begini. Jadi mulai ngga enak badan.
  4. Longing. Longing. Longing
  5. The worst thing is.. Sedang tidak boleh sholat. Jadi rasanya ngeganjel. Sangat sangat sangat ngeganjel.
Karena aku bukan Cinta, ngga mungkin kan kulari ke hutan kemudian teriakku?

Losing grip. Asli. Pengen nangis rasanya.
Huhuhuhuks.

Friday, September 11, 2009

At the rooftop, with that song resonant in my head




Thursday, September 10, 2009

Sabar, sabar...

Ini bukan konfrontasi yang pertama.
Sepertinya, kali ini saya bisa menjalaninya dengan cukup baik.
Tapi tetap saja rasanya...

ARGHH.

Merasa disudutkan.
Merasa jengkel, emang 'situ' doang yang punya masalah?
Emang semua bisa diselesaikan dengan..
Frowning?
Gebrak sana sini?
Soto kali ah digebrak.

I had flaws.
You had flaws either.
So why wouldn't we do this good?
Talk as a civilized human.

That called team work, my dear fella.
Team. Work.

Ngebatin di pagi buta

Rasanya baru aja balik ke rumah.
Mata rasanya lengkettttt banget.
Tenggorokan agak sakit.
Ngomong masih belibet.
Di luar drrrrddddingin.

...
...
...

Kok udah jam 2 aja?
Ke studio lagi.
Sambil merem gapapa deh.
Hayoh, ngga boleh ngeluh.
Tapi sedih nih. Udah hari ke-20 ajah.
Andai bisa di-extend.
Huks.

...
...
...

Moga-moga doa saya sampai hari ke-20 ini didenger,
Dan dihijabah sama Beliau.

Amiin.

...
...
...

Baiklah.
Back to the mic.
Let the show begin.
*hoahmm*

Wednesday, September 9, 2009

Random shots 9/9/9

Pertama-tama saya mau woro-woro dulu.
Foto-foto ini memang diambil tanpa izin.
Tapi sungguh ngga bermaksud buat melecehkan atau mendiskreditkan siapapu.
Just to put a little smile on everybody's face.


Random shot #1
Where : traffic light Karyadi
When : perjalanan berangkat ke studio
Who : mas-mas yang berenti depan motorku persis (plat nomor di-crop kok mas)
Personal note : bentar lagi pasti ada "BBF Forever"

--------


Random shot #2
Where : Jagalan
When : ondewey ke Simpang Lima, nunggu siaran Rock In, naek becak sama mas Nuno
What : MMT yang menawarkan "bungkus yang jelek" :)
Personal note : padahal deket situ ada les-lesan bahasa Inggris deh kaya'nya..

--------


Random shot #3
Where : sekitar Jalan Gajah, disebuah warung bakso..
...merangkap pangkalan LPG...
...merangkap administrasi outsourcing satpam dan..
...merangkap usaha fotokopian.
When : taken by mas Nuno's camera, ketika dia makan disana
What : sebuah papan pemberitahuan yang..
cuma salah nge-pilox atau ini adalah petunjuk dari Robert Langdon?
umm.. elipgi.. egilpi.. elpigi.. egilpi..
Personal note : ownernya terlalu banyak diversifikasi tempat usaha, jadinya bingung kali ya

Sedikiiiiiiit aja soal RUU Perfilman

Setelah dibilang salah jurusan karena kuliah di Fakultas Hukum tapi malah kerja di radio dan punya radioshow soal film, hari ini ngga sengaja aku baca soal RUU Perfilman yang akhirnya disahkan.

Alisku naik. Finally! Ada sesuatu yang mempersatukan dua latar belakangku yang ngga nyambung itu. Atau sebenernya nyambung cuma akunya ngga ngeh? Well, sebenernya sih semua hal pastinya nyambung sama hukum. Negara kita kan negara hukum? Akunya aja yang SH-allow (baca : Sarjana Hukum tapi shallow) ... Humm, tidak bermaksud bangga sama itu sih. Makanya belajar! *berkata pada diri sendiri*

Baiklah kembali soal UU Perfilman.

Jadi ya, sebuah RUU garapan Komisi X DPR yang rencananya ngegantiin UU nomor 8 tahun 1998 tentang Perfilman, akhirnya kemaren (8/9) disahkan sama DPR. Reaksinya orang film, terutama para filmmaker yang bisa dibilang mastermind kebangkitan film Indonesia (bermutu) seperti Riri Riza, Mira Lesmana, Slamet Rahardjo, Jajang C. Noer dan Nia Dinata, adalah menentang keras. Mereka nganggep UU itu justru bakalan nyusahin orang film, karena segala sesuatunya diatur dengan intensitas yang berlebihan. Mereka juga bilang kalau RUU itu disahkan dengan terburu-buru, tanpa minta pendapat orang-orang yang bener-bener ngerti (bikin) film. Secara, Riri dkk baru ngasi masukan tanggal 1/9, eh tanggal 8/9 RUU-nya udah disahkan... Hasilnya ngga sesuai harapan, pula. Alhasil pas RUU disahkan, Riri dkk menolak keras, bahkan datang ke Gedung DPR bawa rangkaian bunga bela sungkawa.

Lebih ekstrim, para tokoh senior perfilman seperti Slamet Raharjo dan Dedi Mizwar berkata, dengan UU Perfilman yang baru ini, para insan film diperlakukan seperti penjahat. Kesana kesini dikekang. Padahal, menurut mereka lagi, dulu pemerintah ngga pernah ngurusin soal film. Film Indonesia bangkit, ya bangkit sendiri. Sekarang giliran sudah menuju-ke-arah-settled-walau-belom-settled-bener, baru diatur-atur.

Hmm, begitu kata beliau-beliaunya.

Tapi kalo kata pak Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, UU ini udah diusahain buat mengakomodir semua aspek perfilman. Kalo ada yang ngga puas, ya itu wajar dalam kehidupan berdemokrasi. Kata pak Jero Wacik lagi, ngga bener kalo dibilang UU Perfilman itu bakal mematikan kreativitas kaya' yang dikhawatirin masyarakat perfilman. Trus lagi, UU ini sudah dirancang sedemikian rupa untuk memudahkan masyarakat menyelenggarakan jenis usaha perbioskopan, biar ngga ada dominasi. Ini refers to chain-cinema yang itu tuhh..

Biar tambah meyakinkan, katanya pak Jero Wacik lagi, UU Perfilman itu udah dibahas sebanyak 12 kali sama tim panitia kerja, tim perumus, tim sinkronisasi, bahkan udah nglewatin rapat dengar pendapat barengan para pemangku kepentingan film dan tokoh perfilman. Ngga cukup gitu aja, sempet dibikinin uji publik di empat provinsi segala lho!

Tapi kok kenyataannya para dedengkot perfilman itu ngga dilibatin ya? Tau-tau begitu jadi UU, banyak pasal yang menurut para kreator film (bermutu), malah jadi nyusahin. Yah, bukannya ngga percaya sama para anggota dewan kita yang terhormat dan seluruh sistematikanya, tapi emang bener kan? Siapa sih yang bikin film Indonesia bermutu, yang mengharumkan nama bangsa sampe ke luar negeri kalo bukan mereka-mereka itu?

Nih ya beberapa pasalnya yang dibilang 'bermasalah' :

Pasal 6 misalnya, mengatur secara rinci sejumlah larangan isi yang boleh ditampilkan dalam film. Film dilarang mendorong khalayak umum melakukan kekerasan, perjudian, penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif, menonjolkan pornografi, memprovokasi pertentangan kelompok, antarsuku, dan atau antargolongan, menistakan agama, dan merendahkan harkat martabat manusia.

Wew, berarti film Berbagi Suami yang fenomenal itu udah ngelanggar pasal 6 dan ngga boleh tayang dong. Dan film itu ngga bakal dapet Golden Orchid Award sebagai Best Foreign Language Film dalam Festival Film Hawaii dong. Pathetic dong.

Trus pasal 13 mengatur pengedaran film impor tak boleh melebihi 50 persen. Pada pasal 32, diatur pula pertunjukan film Indonesia sekurang-kurangnya 50 persen dari seluruh jam pertunjukan film, kecuali dalam hal sediaan film Indonesia tidak cukup.

Waduh. Apakah kuantitas itu lebih penting dari kualitas? Apakah kita harus maksain bikin buanyak film kalo idenya kebanyakan masih seputar klenik dan teen-flick ngga jelas? Di Semarang aja deh, bioskop cuma 2. Each studionya cuma 3/4. Kalo dari 4 studio, 2 diantara-nya diisi film lokal tapi setan-setanan semua atau komedi porno semua, males kan? Trus film-film macem District 9 sama Inglorius Basterd jadi telat masuk? Argh. Padahal menonton film luar juga jadi proses pembelajaran buat kita kan?

Oh ya, kedua aturan tadi juga dilengkapi sama sanksi pidana pasal 75 yang menyatakan : Setiap orang yang mempertunjukkan film hanya dari satu pelaku usaha pembuatan film atau pengedaran film atau impor film tertentu melebihi 50% jam pertunjukannya yang mengakibatkan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 bulan atau denda paling banyak Rp100.000.000.000. Ngga usah bingung ngitung nolnya. Itu dibacanya 'seratus miliar rupiah'. Njrit.

Yang lebih heboh lagi ini. Pasal 18 mengatur pembuatan film harus mengajukan pemberitahuan kepada menteri disertai judul, isi cerita dan rencana pembuatan film. Wah. Pasti pak menteri akan sibuk sekali dan badan sensor jadi setengah nganggur nih.

Kemudian Pasal 23 mengatur, pembuatan film oleh pihak asing yang menggunakan lokasi di Indonesia dilakukan dengan izin Menteri. Pasal 42 mengatur pula, pemerintah wajib mencegah masuknya film impor yang berpengaruh negatif terhadap nilai-nilai agama, etika, moral, kesusilaan, dan budaya bangsa. Oke, kalo ini masuk akal, tapi pasalnya pasal karet, dan agak ambigu...

Terakhir, pasal yang paling ditolak sejumlah penggiat film, adalah Pasal 49. Pasal ini berisi ketentuan insan perfilman berkewajiban memenuhi standar kompetensi dan memiliki sertifikat profesi dalam bidang perfilman. Lebih jauh detilnya di pasal 68 yang menyatakan : kompetensi dilakukan melalui sertifikasi kompetensi. Sertifikasi kompetensi dilakukan oleh organisasi profesi, lembaga sertifikasi profesi, dan/atau perguruan tinggi.

What tje fuk?! Bukankah para pegiat film kebanyakan mendapatkan ilmunya dari 'sekolah alam'? Dari kecintaan mereka terhadap film? Dari pengalaman dan segala pembelajaran informal? Dan belum banyak pilihan di negeri ini untuk kita 'bersekolah' film...

See? Ngga heran Mira Lesmana sampe nangis-nangis di Metro TV gara-gara UU ini. Ini bukan semata-mata masalah gampang enggaknya buka bioskop. Pasal karetnya banyak. Ntar begini dibilang ngelanggar itu, begitu dibilang ngelanggar pasal ini. It's an art, my dear government... Based in my humble opinion, mereka yang tidak setuju itu bukannya ngga mau diatur. Hanya saja pengaturannya overreacted. Ini seperti hukum pasir dalam genggaman. Semakin erat digenggamnya, pasir yang lolos malah semakin banyak...

Konon Riri Riza dkk bakal mengusahakan judicial review. Kita lihat sajalah hasilnya bagaimana. Moga-moga dapet win win solution. Karena dari kacamata penikmat film, kita kan cuma pengen nonton film-film bagus. Apalagi yang bikinan negeri sendiri...

Tuesday, September 8, 2009

Belated bday gifts..

... but that's totally fine!

Ulang taunnya sih 28 agustus kemaren. Mau posting soal kado tapi lupa-lupa mulu.

Tapi pagi ini sesuatu membuatku akhirnya pengen posting. Kelar siaran, pas naro barang-barang ke ruang miting, mataku tertumbuk pada sebuah bungkusan berkertas kado yang isinya...

...Mukena dan sebuah life-skill book. That gipsy-girl-lookalike on the right, she's Oliph, the one who gave me those. And I just cried when I saw it. Ga tau deh kenapa. Might be because what written in the card.

Aku emang lagi butuh mukena yang bukan buat bepergian (ada 1 yang 'micro-lipet-able' buat pergi, taon kemaren kado dari Via, sama 1 yang 'medium-lipet-able' buat ditaro studio).. Nah yang aku pake dirumah itu punya almarhumah eyangku. When she passed away, I devoted not to use another mukena but hers, until it faded. Berarti itu udah 6 tahun yang lalu, dan sekarang melihat kondisinya, mukena itu udah saatnya diganti.

And Oliph remembered that I need a new one :) Makasi ya cinn.

Nah, sementara kemarennya lagi, beberapa hari lewat setelah ulang taunku Via and his husband-to-be gave me this thing :


Apakah ini artinya aku bau badan kak Hvi? Hihihi. Tengkyu ka Hvi dan mas Yo.

Dan, yang paling dahsyat adalah yang berikut ini :


Dipersembahkan oleh duo hedon mba Meisya dan Ully yang on the spot pas aku ultah. Eh salah, akunya yang on the spot di tempat mereka, kebetulan pas tanggal 28-nya. Ngotot banget deh mereka pengen ngasi baju yang 'cewe' buat aku. Niatnya sih ngasi dress gitu, tapi berhasil kubelokkan jadi top sajah. Heuheu.

Makasi teman-temanku..

Monday, September 7, 2009

Unidentified


sungguh tidak mengerti perasaan ini yang meraja di dalam hati.

aman. terancam.

tak jelas.
tak jelas.
tak jelas.

Ya Allah. jangan bosen ngedengerin umatmu yang labil ini ya...

yang masih terus berdoa setengah berbisik.
yang masih terus berharap hanya yang terbaik.

dan,

yang masih punya cahaya untuk menunjukkan jalan setapak menuju rumah.

Beads and Shawl

Quickies yukk.

Jadi kemaren nganterin si Via nyari baju buat ngemsi. Huah hari gini mall udah penuh kaya apaan tauk. Udah berasa musafir di tengah badai pasir tuh kita menyibak gerombolan ibu-ibu kalap yang pada ngacak-acak cart isi baju diskonan.

Untung bajunya si Via cepet ketemu. Lah iseng, aku ikutan nyoba baju juga. Berhubung rame, kita akhirnya bereksibisonis ria, satu fitting room bedua. Ini dia fotonya pas kita ganti baju.

Wee, ya ngga mungkin lahhh.


After ganti baju maksudnya. Please mind baju yang aku cobain ya. Agak tidak indah dipandang memang. Bukan takdirku pake baju-baju manis begitu sihhh.



Kelar nyobain (Via beli, aku kagak), siap-siap mo keluar, ehhh kalung yang aku pake putus. BYARR bubarlah itu semua manik-manik. Sampe yang lagi ngantri di luar fitting room, sama yang di fitting room sebelah ikutan heboh. Setelah bermaap-maap sama semua orang, kita langsung ngabur. Takut ketauan mbak-mbak pramuniaganya, ntar suruh mungutin satu-satu manik-maniknya kan repot...

Trusss... Pagi ini pas dateng siaran kotkit, pak satpam bilang ada paket buat aku. Ternyata convertible shawl Cotton.ink-nya udah nyampe! My first online shopping ever. Kalo para pemake syal tubular laen mah pada kreatip and fashionable ya. Shawlnya bisa jadi capuchon, tube, etc etc.. Kalo aku sih emang tujuannya buat dikalungin doang. Oh ya sama jadi kerudung. Hihihi ga kreatip banget. Ntar deh coba dieksplor lagi.



Yang pasti sih shawl ini aku sukaaaa. 'Jatohnya' materialnya sangat effortless, persis kaya' yang aku pengen. Sayang warna inceran, yang maroon sama lapis lazuli sold out semua. Jadi ini pesen warna netral seadanya dulu. Laen kali kita pesen lagi.

Oh ya, kudos to cotton.ink for being such helpful buat online shopper amatiran kaya' saya. Mba Carline-nya informatif banget. Makasih yaaa.

Sunday, September 6, 2009

If I were dreaming, please somebody pinch me wake up

wadehel em ai duwin?

udah tau besok bangun saur, siaran jam 8 kok jam segini masih melek sambil ngisep2 seadanya?
sepertinya troublesleeping kembali menyerang saya. Kebanyakan nikotin ato kebanyakan nasi? Rasa-rasanya tadi buka puasa secukupnya aja ah. Cukup 1 gentong.

dan ditengah malam buta begini kadang-kadang hal-hal tidak terduga kerap terjadi. bisa hal yang indah, bisa engga, bisa juga abu-abu : kita ngga tau hal itu indah atau engga. karena baru bisa keliatan wujud aslinya ketika matahari bersinar besok.

seperti pagi ini. rasanya seperti mimpi. mimpi yang abu-abu.

seorang teman bilang : "bermimpi itu ngga ada salahnya". (Kalo mimpi basah pas bulan puasa kesalahan kali ya. bisa masuk angin gara-gara sebelom sahur mandi wajib)

saya ingin bermimpi. saya punya mimpi. tapi banyak sekali mimpi saya yang gugur berantakan bahkan sebelum saya sempat membayangkannya dengan imaji yang lebih solid. saya jatuh berkali-kali, dan terkadang saya belum bisa sepenuhnya berdiri tegak

tapi bukankah kita tidak boleh berhenti bermimpi?

menakutkan memang karena terkadang mimpi membuat proses jatuh kita berkali lebih sakit. makanya, saya termasuk orang yang takut bermimpi.

tapi bukankah kita tidak boleh berhenti bermimpi?

karena mimpi juga akan menjadi sebentuk pecut penyemangat, seteguk air saat usaha mendatangkan dahaga, secercah dian saat kebingungan, seperangkat GPS saat sedang tersesat, sebuah rumah tempat melepas semua penat dan lelah.

dreams and guts comes in a whole package.

karena kita hanya mampu menafsirkan mimpi tersebut secara random. Artinya yang hakiki cuma milik Dia. Sang Storyteller Agung yang telah memegang bedtime stories kita semua.

Saturday, September 5, 2009

Harsh Monologue

Semarang, September 5th, 2009


To : me
From : myself



With all my respect,


Kan aku udah bilang : JANGAN!
Ngapain sih pake dilakuin? Ngga ada manfaatnya kan buat kamu?

Kan aku udah bilang : JANGAN!
Are you happy now? NO? I've told you so! Don't even try!

Kan aku udah bilang : JANGAN!
Bisa ngga sih pikiranmu dikontrol, biar ngga ngelakuin hal tolol?

Kan aku udah bilang : JANGAN!
Apa kamu ngga kasian sama dirimu sendiri? Bisa sakit jiwa kamu lama-lama.

Kan aku udah bilang : JANGAN!
Itu destruktif. Ngga ada kegiatan konstruktif lain yang bisa kamu lakuin?

Kan aku udah bilang : JANGAN!
Karena kamu sudah janji. Janji pada dirimu sendiri.

Kan aku udah bilang : JANGAN!
Bener ya? Jangan diulangi lagi ya? Ya? Ya?


Now, hush... Jangan.. jangan nangis di kantor. Oke? tahan ya? ditahan ya? Ke kamar mandi aja sana. Oh jangan, ke mushola aja. Ya? Ya? Buruan! Keburu netes airmatanya. Good girl. Ya, ya. Good girl. Oke? Kita ketemu nanti ya? Ya?


See you later, darling.



myself

Friday, September 4, 2009

Quite decent lah :)

Tiga keinginan duniawi akhirnya accomplished untuk sementara waktu ini : hp, kamera dan modem. Meskipun engga dengan spesifikasi yang paling juara, these are my babies. The best that i can afford this far.

Well, sebenernya sih item 'hp' dan 'kamera'-nya belom accomplished amat sih. Secara yang baru bisa aku beli adalah 'hp berkamera'. Bukan 2 barang yang berbeda. Paket hemat :) Yaa, at least si nokiah 3120 klasik ini kameranya lumayan adequate-lah kalo sekedar buat blogging dan foto lucu-lucuan. Not for professional usage. Hapenya sendiri juga lumayan worth to buy, dengan harga segitu bisa dapet koneksi 3G, eksternal memori dan tetek bengeknya. Tapi jangan diadu sama smartphone jaman sekarang : kalah telak! hehe. But for now I'm already pleased with it.

Kalo si hape mah bukan barang baru ya. Si modem ini nih yang baru. Eh, ngga baru juga sih. Aku ngebeli handset haier d1200p-nya si mba Arin. Dia beli baru 2 minggu tapi ngga bisa dipake. Gara-garanya ada satu rumah gede yang barusan dibangun di lingkungan rumahnya, yang menjelma jadi barrier sinyal. Akhirnya daripada mubazir, dijual murahlah padaku. Separo harga baru! Oh mba Arin, musibahmu, anugerahku :)


Sebenernya sih paket bundling haier sama smart ini sempet mau aku beli 3-4 bulan yang lalu. Tapi kasusnya sama, di rumahku sinyalnya ngga ada. Tapi Si Boss-of-the-Universe emang maha baik ya. Pas aku pinjem modem mas Nuno (yang tipenya sama) buat dibawa ke luar kota, sesampeinya di rumah, iseng aku nyalain : eh sinyalnya ada! cuma 2 bar tapi lumayan. Akhirnya mantep tuh mo beli yang baru.. Ehhhh tiba-tiba ada si mba Arin yang mo ngejual murah. ya pastinya dihajar saja tho pakdhe.

Si smart ini juga kepake banget since wifi di studio super-ble'e ngga pernah dimaintain. Sumpah deh ini keluhan sejuta umat. Remember Mr. X yang aku ceritain di postingan ini? Dialah yang seharusnya bertanggung jawab memaintain koneksi internet di studio sejak webmaster kita yang dulu hengkang. Tapi oh apa yang terjadi, ketika dilaporin wifinya mati.. ehhhh.. malah balik nanya : "lho kok bisa?? lho tadi bisa lho! Wahhh payah ini!" Tapi ngga ada actionnya sama sekali. What tje fuk?

Daripada setres, si smart inilah solusinya. Yang pertama beli si mas Nuno. Dan aku sering merepotkannya dengan minjem-minjem punya dia mulu. Oh mas Nuno, mulianya hatimu (warning : pujian ini by request) hehhehe ga lah. I truly heart your kindness dear mas Nuno. Trus kemarenan Radith si bencongfesbuk juga beli. Ngga tahan dia musti ngendon di studio dengan wifi mati dan ngga bisa fesbukan gratisan.

Dan akhirnya aku, yang hari ini menerima paket dari mbak Arin lewat kurir kak Eicha. Secara kerjaan tukang bikin skrip itu sangat butuh browsing-browsing ya. Jadi kalo seharian internet mati, jadi engga produktiflah aku (tapi kalo nyala, semakin ngga produktip lagi, soalnya blogwalking mulu.. hihihi). Sempet pake handset gsm+simpati buat ngenet tapi jatohnya lumayan nampol! Kalo buat interface mobile si simpati ini okelah capcus dan murah. Tapi kalo 'dicolok' ke laptop? hummm kalo ngga kepepet, engga deh :)

Sempet juga ditanyain, kenapa engga pake speedy ato im2? Jawabannya sederhana saja : anggaran buat beli modemnya ngga sampe segitu. Ngga mau juga kalo musti pake sambungan kabel lewat telpon rumah. Pengen yang USB-an ajah. Kalo ngomongin pengen mah im2. Yah, someday kita upgrade lagi semua-muanya. Yang ada dulu dinikmati, oke beibi?

Heuu biar jalannya ngga sekenceng buroq, pokoknya sekarang ada modem. Bisa ngeblog real time. Ngga lagi nulis malem, tapi mostingnya besok paginya, sambil berharap : "moga-moga wifinya nyala, moga-moga wifinya nyala".... dan ternyata ngga nyala...

Becak Fantasi

Tadi pagi telat bangun, telat berangkat deh jadinya. Bukannya buru-buru, malah pasrah.. Naek motor santai. Masih agak ngantuk juga, jadinya males mo buru-buru.

Udah deket studio, udah siap pasang sein kiri mo belok tuh, tiba-tiba melintaslah becak dengan penampakan yang 'extraordinary'. Aku sampe ngga jadi belok, ngambil hape, ngejar tuh becak dan ngambil potonya. heuheu. Dan inilah becak 'fangki' tersebut :


Ga begitu paham juga artinya apa. Anyone?

Upside Down

From our conversation the day before, I wonder, why'd you keep thinking that you are the casualty of all this? Even this horrid thing was caused by you. And the total control for not doing this is in your hands. So it's quite a paradox. You're doing this in purpose and feels like a victim?

I'm the one whose losing everything. And you've just losing nothing.
I'm the one whose holding on until the end. And you've just walkaway so easily.

I never refused you. I never abandoned you. So please, don't treat me like other whose ever doing that to you. And please don't say about your disability for doing this and that. We both know, this is about unwillingness.

You know, whenever it comes to me, you always got the power to choose. Because I never refused nor abandoned you.

And you've already choose.
And I'm standing still, here, exactly at the same place.

Thursday, September 3, 2009

Rise and Fall, in sudden

Bangun kemudian jatuh;
Dipercaya kemudian berdusta;
Tertawa kemudian menderita;
Nyaman kemudian insecure...


Ya Allah, kalau bukan padaMu, kemana lagi saya musti minta tolong? Ketika mereka semua tidak mengerti, tidak tertolong, tidak berdaya... Saya cuma bisa bersembunyi di mushola, menangis di balik mukena...


Kalau memang ini yang terbaik, Ya Allah, maka jadikanlah. Jika masih ada yang kami -manusia lemah ini- bisa usahakan... Tunjukkan jalan yang mudah. Petunjuk yang kecil saja juga ngga papa deh Ya Allah... Karena saya sungguh sedang tersesat...

Wednesday, September 2, 2009

u n t i t l e d

I've got myself this slice of breadtalk's cheese cake. A whole slice only for me. Tasted good, as always. Halfway to go, and am starting overwhelmed. How come? It's just a tiny little piece of cake!

And I realized
-as tears suddenly started flowing down from my eyes- this cake should be shared, like it used to be.

But the sharing should be equal. I can't take the lion share and the other just nudge the cake lighty. Just like that thing called love, and any kind of relationship as the consequences. Whenever it no longer equal, it's helpless, unquestionable, and won't get you everywhere.

Just like savoring a whole slice of breadtalk's cheesecake by yourself : You're full but the amount doesn't fit you good.

Tuesday, September 1, 2009

Random Gossip in the Afternoon

Ga sengaja nonton infotainment pas siaran pagi, dan bengong. Kemaren Ahmad Dhani-Maia Estianty. Sekarang KD-Anang. Baru tau deh. Ketinggalan banget yak?

I wonder. And ponder.

Emang yang namanya kenikmatan duniawi itu segitu beratnya ditolak sepasang manusia untuk melupakan masa-masa susah mereka bersama, kemudian giving up into separation? Apakah segampang itu juga melupakan jatuh bangun mereka bersama? Apakah mereka lupa bagaimana dulu mereka berjuang untuk tetap bersatu, whatever it takes, karena hanya satu sama lain yang mereka punya? Apakah mereka lupa bagaimana cara memandang satu sama lain sebagai manusia yang rapuh jika pasangannya tak ada?

Dan kalaupun ada (so they said) another person, apakah si another person ini akan menerima mereka, jika mereka tidak di posisi mereka sekarang? Dan untuk meraih posisi yang sekarang, bukankah mereka struggle bersama?

Million dollar question, indeed...