Saturday, December 31, 2011

three hours to 2012

Sedang duduk selonjoran di kantor Vint8, baru dateng dari Jakarta langsung dicuplik kesini. Tadinya sih mau ngobrol-ngobrol sekalian taun baruan, tapi lagi pada sibuk ngejar desain buat batch baru yang bakal dilaunching besok, yowis... Saya duduk manis saja. Ngeblog.

Speaking of ngeblog, ternyata December doodleku terbengkalai dengan sadis. Tapi aku bakal... Ah sudahlah. Ndak berani janji-janji. Sumpah aku ini payah bener deh. Tapi kan aku sibuk. AH ALASAN KAMU.

Etapi bener deh. Akhir-akhir ini ada beberapa hal yang lagi coba dikerjain selain kerjaan kantor. For the sake of new experience and new friends and.. learn new thing, as well. Ada Vint8, ada Travel In Seven juga ada beberapa teman baru yang menyenangkan . Sedang berusaha menjejalkan banyak hal ke dalam kepala. Agak protes si kepala, tapi biarkan sajalah. Biar ndak manja.

Eh besok taun baru lho. Setaun kemarin aku ngapain aja? Errr, ada di blog semua sih. Tapi kalo boleh direview, Alhamdulillah, target besarnya tercapai :') Kerjaan baru, kota baru, teman-teman baru : check, check, check. Oh pacar baru sih belum. Ah deim, berarti, targetnya belum tercapai semua. Hah, masih ada waktu 3 jam, sebelum 2011 berakhir! YAKALI :))

Buat tahun depan, uhm, apa ya. Maintain yang dari tahun kemarin dulu deh. Sama mau merbaikin hubungan sama Boss of The Universe. Sama mau nabung yang bener. Sama mau olahraga. Sama mau belajar nulis yang lebih bener juga. 

Selamat +/- 3 jam menjelang tahun baru!

Thursday, December 15, 2011

humming : CICADAS and GULLS


Feist - Cicadas And Gulls by Interscope Records

Currently listening to Metals, Feist's newest album, dengan si Cicadas and Gulls ini sebagai track favoritku. Mungkin karena cuacanya juga lagi sering hujan jadi in the mood sama yang ngeindie folk begini. Efeknya, lumayan meredakan badai yang menderu-deru di kepala kalo lagi ngerjain ini itu. Rainymood banget deh.

ps : audionya cuma preview, track aslinya 3:16. 

Monday, December 12, 2011

JB stands for JONAS BJERRE


No spesific reason why I put this picture of him here.

Maybe because it's rain outside.
Maybe because there's a cloud in my brain.
Maybe because of that little pout on his lips.
Maybe because he's singing in my playlist with his falsetto voice right now.

Maybe because I just miss something I don't even know what it is.

Sunday, December 11, 2011

quickie APOLOGY

Maafkan saya. 

Karena December doodlenya tersendat. Aku janji buat mengejar ketertinggalannya, segera. Mana tadi ada yang nanyain pula. Hiks. Senang. Because it's suppose to be fun, no?

Maafkan saya.

Karena saya kembali bermain-main dengan penjagaan pada benteng, fortress, stronghold, bulwark, citadel, atau apa pun namanya ini. Akan saya tambah 1 peleton lagi di sana, sekarang juga.

Maafkan saya.

Karena banyak bicara, tapi kurang rajin bekerja. Nah, ini pun aku malah sibuk berbicara. Harusnya kan saat ini aku sedang bekerja? Ah. Kalau begitu kita sudahi sajalah ini semua.

Sekali lagi, maafkan saya ya?

Wednesday, December 7, 2011

doodle #7 : HYBRID ANIMAL


This is, uhm, I'm not sure... A hybrid of... Sheep, lion, and bird. 
I'll call him... Shliord. 
Yea. That will do :D

Tuesday, December 6, 2011

doodle #6 : WHAT'S IN YOUR BAG?


Tsahh, ini doodlenya ala ala thread fashion dan kecantikan nih. Soal isi tas. Tapi biasanya sih kalo thread-thread itu isinya keren-keren, tasnya branded, make-upnya branded, bahkan sekedar agendanya pun LV :D 

Nah, yang sehari-hari aku bawa dalam tas sih kaya gambar di atas. Nih legendanya :

  1. Sling bag. Atau postman bag, atau apalah. Semacam faux leather warna ijo, hadiah dari Via. 
  2. Payung. Soalnya lagi musim ujan ya pemirsa. Dan aku kemana-mana jalan dan ngebis, jadi ini penting.
  3. Pouch. Warna merah, beli di toko asesoris cewe gitu. Isinya, the so-called grooming kit : parfum, body butter, petroleum jelly. Udah. Iya. Ngga ada sisir dan bedak.
  4. Headphone. Sennheiser usang sejak jaman dulu. Buat nemenin kerja, karena somehow kalo ngga mengisolasi diri dari bunyi-bunyian di luar pake playlist sesuai mood, aku ngga bisa fokus.
  5. Handphone. Bukan BB. Nokia, the one once they called the BB killer. Yang lately suka kill itself. Mati-mati sendiri gitu.
  6. Pouch (lagi). Warna coklat, gimmick dari Telkomvision. Isinya pensil, pulpen, penghapus, thumbdrive, kabel data, dan earphone. 
  7. Notes. Gimmick dari Acer. Gunanya buat nyatet-nyatet atau doodling apa aja.
  8. Kunci kosan. Pagar, pintu luar, pintu kamar.
  9. Dompet. Buluk bahan jeans, penuh sama nota dan koin. 
  10. Cigs and lighter.
Biasanya ya cuma bawa ini aja. Sama sampah-sampah kertas sih biasanya, yang randomly suka masuk. Sama netbook kalo diperlukan. Tapi jarang aja dibawa, soalnya di kantor pake desktop PC. Oh plus sweater atau jaket, conditionally.

.... Isi tas aku ngga menarik gini ya ternyata :))

Monday, December 5, 2011

doodle #5 : CHILDHOOD MEMORY


Rumahku dekat dengan salah satu anak sungai Kaligarang, Semarang. Mungkin hanya sekitar 50 meter jaraknya. Menjelang aliran sungai, dataran akan melandai 10 meter ke bawah membentuk semacam tebing yang ditahan dengan talud. Turuni 'tebing' itu maka kita akan mencapai secuil pelataran pasir dan batuan, trus langsung deh ketemu sungai. Sungainya sendiri ngga terlalu gede sih, mungkin 5-6 meter lebarnya, tapi orang dewasa yang menyeberang paling ngga akan basah sampai sebatas paha. Arusnya, uhm, dalam keadaan normal sih ngga deres. Tapi jika hujan dan si sungai induk (ada ngga sih istilah sungai induk?) meluap, jadilah sungai dekat rumah ikut bergejolak.

Me as a kid... Loves to play in that river. Mungkin pas aku periode kelas 3-4 SD. Eyang sudah berkali-kali melarang, tapi Dila kecil suka ndableg. Pulang sekolah, pamit main ke rumah teman, tapi diam-diam malah menuruni 'talud' menuju sungai. Baca komik sambil duduk-duduk di batu besar tengah sungai, ngumpulin batu-batu kali yang polanya aneh-aneh, sampai mencoba menyeberangi sungai (yang end-up kecebur beberapa kali, dan dimarahi habis-habisan sama eyang). Udah gitu aku lebih suka main ke sungai itu sendirian. I dunno what's on my mind at that time, tapi sepertinya sih... Semacam petualangan :D Padahal kalo aku sekarang ngeliat anak kecil main di sungai itu, bawaannya khawatir. Kotor lah, nanti kebawa arus lah, nanti ada uler kali lah, apa lah. Pokoknya ngeri gitu. Pantesan dulu eyangku segitu hebohnya. 

Aku pilih kebiasaanku main di sungai sebagai tema doodle hari ini karena ingatan ini lumayan nempel di kepala sampai sekarang. Soalnya rasanya waktu itu memang menyenangkan sekali. Merasakan gemericik air sungai,  menikmati embusan angin, menghindari sampah yang ikut aliran air... Wait, what?! 

Ah, mungkin si Dila kecil just wants to live her life to the absolute fullest. :)

Sunday, December 4, 2011

doodle #4 : REDESIGN BOOK COVER


Jadi ceritanya, aku lagi short trip ke Bandung, mau nonton Mogwai bersama teman-teman. Pas lagi ngaso di penginapan remang-remang (karena mendung), mba Tere ngingetin : ''Lo udah doodling belom hari ini?'' Aaa, aku diingetin :') Trus dikasih notes dan pulpen, karena (bodohnya) aku ngga bawa media apapun. Thanks cici :D 

Oke, so today I have to redesign a book cover. Aku bawa Ptolemy's Gate sih, tapi jiper euy bikin cover buku fantasi. Akhirnya pilih buku non fiksi yang dibawa mba Tere. Tuh, bahkan bukunya pun dipinjemin. Buku ini judulnya The Dip, karangan marketing guru Seth Godin. Isinya kurang lebih tentang ajakan untuk rethink : dalam sebuah situasi kuldesak, are you going to stick or quit? Pick your shots carefully, and success is upon you.

Desain yang aku bikin, ceritanya seseorang yang terjebak dalam sebuah 'dip', legokan, dan dia harus memutuskan : apakah akan memanjat keluar, berhenti di tengah-tengah atau bahkan berhenti sebelum masuk ke legokan. Baru baca sinopsisnya aja sih, tapi beberapa temen yang udah baca bilang bukunya bagus.

Karena dalam kluyuran mode, doodlenya seadanya, ngga pake retouch segala. Cuma ditambahin signature seadanya pake picture editor hp. Semoga cukup representatif.

PS : yg di belakang itu buku aslinya.

---
sent from my mobile device.

Saturday, December 3, 2011

doodle #3 : MOST RECENT DREAM


Aku pernah baca, katanya tidur sampai bermimpi adalah tidur yang berkualitas. Karena mimpi muncul pada fase REM; fase deep sleep setelah kita tertidur selama 60-90 menit.

NAH. Aku termasuk orang yang suangat juarang tidur sampai mimpi. Mimpi yang berjalan cerita gitu apalagi. Paling banter kalo mimpi, biasanya adalah mimpi tentang.. tekstur. Gimana ya depictionnya... Uhm, jadi rasanya   di seluruh jarak pandangku aku cuma melihat sebuah tekstur. Seperti sesuatu yang grainy dan berwarna gelap. Rasanya dekat sekali dengan mata. Trus kadang ada suaranya juga. Seperti... tau film Inception? Sumpah mati ini bukan mau sok nyama-nyamain. Tapi suaranya mirip seperti scorenya Hans Zimmer di awal film. Seperti suara cello yang rendah, resonant, semakin lama semakin kenceng. Hhhh, kalo udah ada begituannya, rasanya nightmare banget.

Gambar di atas itu aku berusaha menggambarkan mimpiku semalam. Euh, lumayan susah juga menggambarnya. Lagi-lagi mimpi tekstur. Seperti parit di medan perang. Berlekuk dan berpasir. Dan gelap. Seperti negeri utopia. Kali ini tanpa audio. Dan... uhm, cuma itu aja sih yang diingat.

Mungkin ada yang tau artinya? :D  

Friday, December 2, 2011

doodle #2 : IMAGINARY FRIEND


Imaginary friends and imaginary companions :
a psychological and social phenomenon where a friendship or other interpersonal relationship takes place in the imagination rather than external physical reality. Imaginary friends are fictional characters created for improvisational role-playing. They often have elaborate personalities and behaviors. They may seem real to their creators, though they are ultimately unreal, as shown by studies. -- Wikipedia.

Sepertinya sih aku ngga pernah punya teman imajinasi dimana aku berinteraksi secara verbal, yang kemudian nampak oleh orang lain aku lagi ngomong sendiri. Nope. Never. 

Tapi ketika aku inget-inget lagi, sepertinya waktu kecil aku pernah punya sebuah gambaran di kepalaku, yang kemudian jadi role playing di dalam sana saja. Misalnya ketika aku main lari-larian, dia bakal lari bersamaku. Ketika aku main petak umpet, dia bersembunyi bersamaku, melindungiku. Aku tahu pasti dia tidak nyata, tapi bayangannya selalu ada di kepala saat aku sedang 'berpetualang' : laki-laki, pake kevlar, goggle, combat boot, jago dengan segala macam weaponry dan martial art. Dia tidak bernama, kasar tapi baik hati. Hubungannya kami bukan hubungan romantis (iyalah, waktu itu kan gw masih kecil!), tapi kami partner. Dan semenjak aku berhenti main lari-larian di kampung, aku lupa ada dia. Sampai hari ini :D

So is that count as imaginary friend?   

Thursday, December 1, 2011

doodle #1 : SELF PORTRAIT


Gambar pertama buat December doodle : self portrait. Baru sadar, iya yah, ngga pernah kepikiran buat ngegambar muka sendiri.

Dan ya, mukaku memang maskulin. Tiap kali ada yg bilang, "Eh kamu tuh mirip si Anu lho!" Bisa dipastikan yang bersangkutan adalah seorang pria. Kalau dandan tipe heavy make up, dan yang ngedandanin gak pinter, et voila... Saya jadi semacam drag queen :|

So, uhm, beginilah mukaku. More or less, with messy hair and panda eyes.



december DOODLE

Bertahun-tahun yang lalu, mungkin sekitar kelas 2 SD, aku mendapatkan komik pertamaku. Manga terbitan Elex Media tentu saja, yang saat itu sangat berjaya melampaui genre lainnya, dengan harga sekitar 3000 rupiah. Judul komik pertama itu adalah Min-Min. Tentang boneka penyihir yang pindah dimensi ke dunia manusia. Sebagaimana anak kecil yang mudah terpukau, waktu itu aku langsung memutuskan : aku mau jadi komikus. Trus mulai urek-urek di kertas. Suka nyimpenin duit jajan, trus diem-diem beli buku tulis buat nggambar. Soalnya kalo ketahuan, langsung dimarahin eyang : "Buku bagus-bagus kok dicorat-coret!" kata beliau.

Semakin gede, minat corat-coretnya ngga surut. Mulai jatuh cinta sama shonen-manga, komik Amerika dan Eropa, bikin eksibisi komik tingkat sekolahan di SMA, sempet gabung sama studio komik dan jadi ilustrator koran kampus. Ketika tes pekerjaan; setelah semua psikotes, analogi, kraeplin dan lain-lain itu; sesi menggambar orang dan pohon di akhir selalu jadi favorit. Seperti refreshing rasanya. Padahal konon kan itu butuh spontanitas sebagai penggambaran diri sendiri gitu ya? Tapi aku gambarnya suka-suka tuh. Pernah sekali menggambarkan sosok cowok dekil habis main futsal. Hasilnya? Ya jelas ngga keterima lah :))        

Pada dasarnya acara corat-coret ini ngga pernah jadi keahlian yang menonjol banget. Mediocre, pas-pasan saja, tapi aku menikmati melakukannya. Nah, makanya kemarin ketika lagi nyari-nyari ide buat 30 days challenge di blog, aku tertarik sama yang ini :


Rencananya, medianya bakal bebas aja. Mungkin pensil, mungkin spidol. mungkin vektor. Mungkin discan, mungkin difoto. Mungkin diwarna, mungkin BW. Mungkin akan dikasih excerpt, mungkin engga. Just wanna have some fun and challenge myself : bisa ngga komit melakukannya selama 30 hari, bahkan untuk sesuatu yang Dila kecil langsung tau dia suka.

Jadi demikianlah, saya mulai ya :D 

Tuesday, November 29, 2011

and they asked me : DO ALIENS EXIST?

9gag helps me answer it for you. 

I know, right?

Monday, November 28, 2011

music MATTERS


Kalau dipikir-pikir (apa deh, baru mulai nulis tau-tau begini) ternyata ada beberapa temanku yang berkomentar  kurang lebih sama soal caraku menikmati musik.

Seorang teman siaran nan hitam manis pernah bilang dia suka melihatku di balik mixer, menyanyikan lagu dan kaya yang meresapi setiap katanya. Lalu ketika muncul lagu-lagu yang danceable, I will ask him to dance with me. Literally dancing, sampe yang naik-naik ke kursi atau apalah. Trus pas saatnya announce, kita ngos-ngosan…

Beberapa waktu yang lalu, teman baruku yang berambut keriting mengatakan hal yang kurang lebih sama. Di sebuah konser musik dimana kami bertugas, katanya caraku menyanyi mengikuti band yang sedang tampil kelihatan keren. Absentmindedly, carelessly, sambil menatap layar laptop. “Tiba-tiba jadi keren,” katanya. Trus aku mikir, fixed, aku ini memang ngga keren… 

Temanku yang sering kutebengi mobilnya juga berpendapat mirip-mirip. Saat berkendara bersama dan aku mulai menyanyi sambil heboh joget-joget atau menerawang ke luar jendela, menurutnya itu khas aku banget. Ekspresif, katanya. Macam aku lagi bikin video klip gituh. Trus udahannya aku diketawain…

Nah. Sebenernya aku sadar sih, kalau caraku menikmati musik suka agak-agak lebay dan ga tau tempat. Main jejogedan atau merem-merem, if I really into it. Habis gimana ya, seperti udah pernah aku bahas di postingan dulu-dulu, aku ini orangnya song-driven banget. If I wanna dance it, so I will dance it. If I wanna sing it out loud, so be it. Rasanya kaya rasa yang dari dalam dada pengennya membuncah keluar. Ada visualisasi yang terbentuk di dalam kepala : aurora di angkasa saat mendengarkan Sigur Ros, negeri utopia saat mendengarkan L’Arc~en~Ciel, grid ala Tron Legacy saat mendengarkan The Prodigy, atau pendar lampu jalan di Paris saat mendengarkan Feist. Semua ada visualnya. And I just want to embrace ‘em all. Apalagi kalau liriknya bermakna. Apalagi kalau audionya bagus. Misalnya di ruang siaran yang kedap suara dan speakernya cangcing. Atau live music, when all the sounds resonant on the air, and you can feel the ground below your feet shaking because  of it.

Aku yakin aku ngga sendirian. Pasti banyak juga yang merespon musik dengan cara yang kurang lebih sama, yang mungkin dilihatnya agak over gitu. Bisa yang mendadak sendu tak menentu mendengarkan lagu tertentu, padahal ngga lagi ada issue apa-apa. Atau mendadak jadi riang gembira ketika mendengar sebuah lagu yang tonenya uplifting, padahal sebenernya lagi bersusah hati. This music thingy’s just… Really affect us so much.

So when I had a bad day, wont need a box of chocolate to boost up my mood. I’ll just put up my headphone and pick the right playlist. Then, I will sing and move, just the way my body tell me. 

Monday, November 21, 2011

i know you HAD IT TOO

Menuruti hasrat angot-angotan untuk menulis memang mahal harganya. Ketika jam 3 pagi kepikiran buat nulis sesuatu dan dituruti, tau-tau ayam berkokok, adzan subuh berkumandang. Dengdeng.

I screwed and late for work but I wont regret it.
Uhm, yeah. Maybe.

Tapi sebenernya, bukan cuma gara-gara nulis sih...




humming : brokenhearted THE SCRIPT


Menjelang Guinness Arthur’s Day beberapa waktu yang lalu, tim ybs buka ‘lowongan’ : siapa yang cukup kenal sama lagu-lagunya sang guest star, The Script? Aku sebagai tenaga kerja hore langsung mengajukan diri. Album pertama aku khatam. Album kedua, bisalah drilling beberapa hari. They buy it, and I get the pass. Hohoho.

Sebenernya dibilang demen banget lagu-lagunya The Script, ngga juga. Cuma dulu pas di radio, single perdana mereka, We Cry, airplaynya lumayan tinggi. Iseng-iseng, coba dengerin 1 album self-titled rilisan tahun 2009 itu. Ternyata lumayan bikin betah. Poppish indeed, but the crisp guitar & drum, the wordplay, Danny’s fast ranting… Sound’s dynamic. Ngga bakal bikin cowo-cowo yang dengerin dijudge lenjeh-lenjeh banget (macam kalo mereka dengerin Justin Bieber gitu lah). Pas dengerin album kedua mereka, Science and Faith, ternyata ngga banyak kesulitan juga. Karena menurut kuping amatirku, ngga ada perbedaan yang begitu mencolok sama album pertamanya. Dari segi musikalisasi dan tema liriknya.

Nah, sebenernya soal lirik inilah yang bikin aku pengen posting. Kebetulan tugasku di event itu berhubungan dengan liriknya The Script. Jadilah selain dengerin lagunya, juga harus baca liriknya kata per kata. See, lagu-lagu The Script kebanyakan nyeritain soal gundahnya seorang cowo yang ditinggal sang kekasih. Like, almost 75% of each album telling so. The Script bertutur secara eksplisit, alurnya maju, seperti orang bercerita. Gamblang banget.

Biasanya, biasanya nih, kalo ada musisi cowo cerita soal patah hati dengan cara seperti itu, sambil menyanyi, di suduuut hati, ada suara kecil yang mencibir bilang : “Dude, seriously. Pfft.” Anehnya, kalo sama The Script ini, si suara kecil itu ngga nongol dong. Alih-alih malah akunya mikir : “Gilak, emang kalo cowo patah hati bisa segitunya ya?” Rasanya believable gitu. Coba itu The Man Who Can’t Be Moved, Breakeven, Talk You Down, Nothing, Long Gone and Move On, Deadman Walking, atau If You Comeback. The Script menceritakan patah hati dengan dramatis, come-n-go cheesy feeling, tapi karena pake bahasa sehari-hari, rasanya kaya sambil nodong : “This happen to you too, right?”

Now, after event, it’s safe to say, saya khatam 2 albumnya The Script :|


pic : doc. Guinness ID

Saturday, November 19, 2011

continue to WRITE POORLY

Sekedar pengingat buat aku sendiri atau siapa aja yang potensial mengalami, uhm, writer's block. This is Seth Godin's advice, i'll recite a bit :

The reason we don't get talker's block is that we're in the habit of talking without a lot of concern for whether or not our inane blather will come back to haunt us. Talk is cheap. Talk is ephemeral. Talk can be easily denied. 
We talk poorly and then, eventually (or sometimes), we talk smart. We get better at talking precisely because we talk. We see what works and what doesn't, and if we're insightful, do more of what works. How can one get talker's block after all this practice? 
Writer's block isn't hard to cure. Just write poorly. Continue to write poorly, in public, until you can write better. 
I believe that everyone should write in public. Get a blog. Or use Squidoo or Tumblr or a microblogging site. Use an alias if you like. Turn off comments, certainly--you don't need more criticism, you need more writing.  

There. I guess all of us already got the point, no? :)

Wednesday, November 9, 2011

maybe it's JUST ME

You know what I regret the most for not being a radiobroadcaster anymore?

Tidak bisa bercerita kepada pendengar tentang sebuah lagu yang sedang menarik hatiku. Bukan, bukan menggalau. Lebih kepada... Bercerita : Aroma, warna dan mood seperti apa yang aku rasakan tentang lagu itu. Menceritakan lirik yang implisit dan twisted. Bukan, bukan menggurui. Lebih kepada... Bertanya : ketika mata dipejamkan, kemana lagu itu membawa? Apakah mereka juga merasakan hal yang sama? Then, sing a line or two and dance with it.  

Ah. Me and my freak-show stuff.

Friday, November 4, 2011

about father. GRANDFATHER

Senin kemarin aku ngga masuk kantor karena flu. Entah gara-gara kehujanan atau keseringan pulang malam, yang pasti di pagi yang mendung itu aku cuma bisa goler-goler di kosan. Jendela terbuka lebar, tapi cahaya sangat redup. Angin dingin berhembus.

Lalu hujan turun.

Kemudian aku teringat eyang kakungku. Yang aku panggil bapak. Yang memang merupakan sosok ayah seumur hidupku. Biasanya juga suka kangen-kangen gitu, tapi entah siang itu, rasanya seperti disergap rasa kangen yang lebih dari biasanya. Aku tak tahu apa namanya. Rasa yang khas tentang eyangku.

Lalu pelupuk mataku menghangat.

Usianya 70 plus plus. Masih kuat main tenis. Dulu aku yang remaja sering meninggikan nada suara jika berselisih paham dengan beliau, padahal seharusnya bukan demikian caranya. Senang mengoleksi kaos sponsor setiap aku habis event. Suka menonton sepak bola lalu heboh bermonolog dan menyumpah serapah. Selalu ikut dalam permainan ketika aku menelponnya dan berkata, "Halo, selamat siang, ini dari Polres Metro Jakarta Selatan.". Suka menggoda cucu-cucunya dengan mimik muka yang lucu. Jika mengecat ulang perabot/dinding warnanya selalu meleset sehingga rumah jadi berwarna-warni. Suka menggoreng ubi atau pisang jika sore turun hujan. Sangat sabar. Sangat baik. Dan aku berharap dia selalu sehat. Dan bahagia. Dan tangis semakin mengguncang bahuku.

Lalu aku meneleponnya.



"Halo, selamat siang, ini dari Polres Metro Jakarta Selatan."   

Monday, October 31, 2011

the WILD world of ROBOTS

Picture surely speaks a thousand words. 
Well, in this case : big portion of pictures and a bit words. Super-fun! 



Friday, October 28, 2011

shaping the DREAM

Sepertinya issue tentang mimpi lagi in nih. Well at least for me :D

Bermula ketika suatu sore, dalam sesi rehat tidak resmi, aku duduk sama Om Unjul, seorang rekan kerja. Om Unjul ini di mataku orangnya sangat serba bisa in art-wise. Rasanya semua hal sudah pernah dia coba : seni instalasi, video-making, mural, musik, komik, lukisan... Yang belum dicoba, teater, katanya. Trus obrolan menjurus ke betapa uneasy-nya ngelakuin sesuatu setengah-setengah. Karena dengan menguasai banyak hal jadi ngga bisa fokus pun. Karena Om Unjul kemudian bilang sambil ketawa, "Gue sendiri bingung mau merefer diri gue ini apa." Kemudian apa yang akan dilakukannya di masa depan pun dia belum tahu. Di akhir obrolan, dia berkata padaku -kurang lebih- : find out what do you want to do in life.   

Beberapa hari kemudian, kantor 'bedol desa' sehari pindah ke Rumah Solo, sebuah resto dengan lay-out yang njawani, di tengah-tengah Kemang :D Which is, nice. Di tempat itu pak bos kami menceritakan mimpinya, visinya, tentang perusahaan yang dibangunnya ini. (ps : yes, he's the founding father. Co-founder, karena kami juga punya mbak bos yang tak kalah cangcing) Kemudian kami diajak ReThink (tema besar acara ini, actually) memikirkan kembali, what do you want to do in this company? "In this company" first, then, "to this company". Pada akhir acara, sebuah kertas dibagikan. Kami diminta menulis -kurang lebih- : what do you want to do in life.

What am I want to do in life?

Banyak. Aku belum bisa define 1 hal, yang semacam : jadi dokter, punya usaha sendiri, dan sejenisnya. Tapi bukan berarti aku ngga punya mimpi. Aku pernah menuliskannya beberapa waktu yang lalu, dan semacam itu juga yang kemudian aku tulis di ReThink. Lumayan kemajuan sih itu, karena sebelumnya aku cuma tau apa yang aku "ngga mau", bukan apa yang aku "mau". Dengan bekal "aku mau" itu, aku bergerak. Mengarah ke apa yang kulakukan hari ini. Tapi sepertinya tugasku belum selesai, mimpiku itu harus diberi wujud, karena sekarang bentuknya masih sangat abstrak, general. Pelan-pelan aku harus cari tahu bentuknya, jadi aku tahu kemana, apa, bagaimana selanjutnya aku harus melangkah.

What do you want to do in life?     

Tuesday, October 4, 2011

down & STREAM DOWN


They said :
"Guys will always be able to make girls cry. 
But if a girl can make a guy cry, she must really means something to him."

She had seen him cried once.
She, as his friend.
At that time he spilled his tears, badly, for other girl.

She had cried for him every now and then.
She, as his special friend.
Or she thought so.

But she never saw him cried for her.


---
pic from here

Thursday, September 29, 2011

humming : Jonas Bjerre for SKYSCRAPER

Ada sebuah album yang, kalau orang Jawa bilang sih : tombo kangen, obat kangen gitu. Kangen sama Mew dan materi barunya. Meskipun semua lagunya juga ngga ngebosenin buat diputer lagi dan lagi, sih. Cuma kalo ada yang baru kan intriguing juga.



Nah karena itulah, hadirnya album ini, album OST. Skyscraper ini 15 Agustus lalu, ditunggu-tunggu banget sama para frengers. Ditunggu-tunggu soalnya single pertamanya, Kids Don't Fight, udah nongol sejak Februari. Skyscraper adalah sebuah film Denmark (yang sepertinya tidak rilis worldwide), yang seluruh lagu dalam album OST.-nya ditulis dan dinyanyikan sama Jonas Bjerre himself. Mbak Becky Jerret yang dulu ikut nyanyi di lagu Symmetry, kali ini ikut duet lagi di lagu berjudul Edith. Miss Agnete Hegelund, the so called pacarnya Jonas (KRAK! *suara patah hati*) juga ikut sumbang suara di lagu Twins. Oh ya, yang di atas itu adalah videoklip pertama dari si album. Si Kids Don't Fight entah kenapa malah belum dibikinin videoklipnya.

Tentang albumnya, menurutku semua lagunya enak. Enjoyable. Dreamy seperti Mew, tapi dengan mood yang jauh lebih ringan dan ceria. Seperti berjalan di padang rumput sehabis hujan, mendung masih menutup matahari, tanah basah di bawah kaki, tercium petrichor, sambil makan gula-gula kapas. Plus, kebetulan sekali nama filmnya Skyscraper. SKYscraper. SKY. SKY. Well, uhuk, oke saya mulai lepas kendali. Kembali pada albumnya. My personal favourite is : Colours (Slide version). Cuma instrumental 1 menit 25 detik. Tapi saat mendengar itu, rasanya... Everything is just possible. Mas Jonas, kamu gila. Kamu bikin saya gila.

Oh ya speaking of mas Jonas going solo, kemarin seorang teman membandingkan Jonas dengan Jonsi, vokalis Sigur Ros yang juga punya proyek-proyek solo. Katanya, Jonas lebih jenius dari Jonsi. Di situ aku ngga setuju. Man, itu bukan comparison apple to apple. Mew and Sigur Ros, Jonas and Jonsi, they perfectly fit for different kind of mood. Agak sotoy? Biarin. Namanya juga fangirling. Fufufu.

Now if you will excuse me, saya ada janji buat berjalan di padang rumput sehabis hujan, mendung masih menutup matahari, tanah basah di bawah kaki, tercium petrichor, sambil makan gula-gula kapas :D 

swing with me, MOOD


Disclaimer : tidak bermaksud memproklamirkan diri sebagai orang paling bener. 
Just a thought, really.

Menjadi orang yang membahagiakan orang lain adalah salah satu tujuan hidupku. Serius. Membahagiakan, as in… Membahagiakan. Ngga bikin mereka susah, ngga bikin mereka sedih, ngga mengecewakan. Ya gitulah. Klise memang, tapi begitulah. Well, yea, wise people said : we just can’t have it all. Tapi ngga ada salahnya nyoba kan?

Itulah sebabnya, merusak mood orang saat moodku sendiri sedang rusak adalah big no-no. Tahu kan, once in a while, pasti akan ada suatu masa dimana kita harus bersosialisasi, padahal satu-satunya hal yang kita pengen adalah… mukulin sansak. Nah, pada saat-saat seperti itu, sebisa mungkin, saat bersama dengan orang-orang ‘tidak bersalah’, sebesar apapun keinginanku untuk bermuka masam, sinis, dan lain-lain, akan aku tekan sekuat tenaga. Mood diri sendiri yang lagi kacau bukan alasan buat merusak mood orang lain.

Ya, ngga semulus itu juga sih jalannya, I mean, pasti tetap akan ada perubahan sikap. Mungkin aku akan lebih pendiam atau memilih menyepi di suatu tempat, dealing with my own problem. Tapi act like a bitch saat menanggapi orang ‘tidak bersalah’? Jangan sampai deh. Soalnya aku ngerasain ngga enaknya kecipratan atmosfer negatif saat seseorang lagi punya masalah yang –celakanya– ngga ada hubungannya sama aku. It ruins my mood too. Oh and the whole environment too.

Mungkin aku yang terlalu perasa? Mungkin sebenarnya lingkungan juga ngga akan peduli kalo aku bermuram durja dan sepa sana sini? Maybe. I don’t know. Aku cuma berusaha memperlakukan orang sebagaimana aku pengen diperlakukan. Dan berusaha mengerti, kalau ada orang yang tidak melakukan seperti apa yang aku lakukan. Karena setiap orang punya caranya sendiri untuk mengatasi masalah. Karena setiap orang punya batas toleransinya masing-masing. Begitu bukan?

Begitulah.  

repeated EXCUSE

September! Hampir kelar! Dan aku belum nulis apapun di sini!

Padahal ada beberapa film menarik yang pengen aku ceritain, my current playlist, cerita ini cerita itu. Hal-hal sepele yang biasa, tapi oh my God, my procrastination side really take the best in me. Bukannya mau ngejar target apa gimana-gimana, cuma ya, ya ampun, nulis buat diri sendiri aja kok ya malesnya pol. Mau jadi apa aku nanti? Ha? Ha?

*menghela napas*

Pemirsa, bear with me ya. By the end of this month, I'll make a scratch or two. For my own good, though. Saya pamit dulu sebentar. Back at ya later.

Wednesday, August 31, 2011

going HOME


Ketika pergi ke Jakarta hanya dengan 1 travel bag dan 1 ransel laptop, aku bilang sama orang rumah : “Yang penting nyari tempat dulu, bawa seadanya, 1 bulan lagi aku pulang ngambil sisa barang.” Nyatanya, 5 bulan berlalu dengan sangat cepat tanpa ada kesempatan yang pas buat pulang. Akhirnya momen libur panjang Lebaran ini jadi momen yang sangat ditunggu. Bukan masalah ngambil barangnya, tapi oh my, aku ngga nyangka bisa sekangen ini sama si kota kelahiran dan seisinya.

Then, here comes my first mudik! :D Agak-agak kurang taktis masalah nyari tiketnya, maklum newbie. Untungnya sih masih terkendali, meski pengaturan waktunya jadi agak di luar rencana : pulang terlalu mepet dan balik terlalu awal, kegampar harga tuslah pula. Tapi ya sudahlah, masih untung bisa dapet moda transportasi yang ngga perlu desak-desakan seperti yang di tipi-tipi itu. Tahun-tahun berikutnya harus lebih disiapin lagi.

Long story short, aku sampai di Semarang. Ikut Lebaran yang tanggal 31 Agustus, bukan yang tanggal 30. Masalah perbedaan, itu tak apa. Yang pasti, Lebaran tahun ini aku merasa “naik kelas” dibanding tahun sebelumnya. “Naik kelas” dalam hal manajemen mulut, hati dan perbuatan menghadapi segala macam family affair itu. Meskipun masih ada hal-hal yang di luar kendaliku, but I think I already did the right thing. Aku menikmati lebaran ini, dengan segala drama yang ada di dalamnya.

Pun, aku sempat bertemu beberapa teman yang kurindukan, duduk ngobrol di teras bersama eyang sambil melakukan kegiatan pertukangan, berkeliling penjuru kota dengan si motor kesayangan, tidur sambil memeluk buntelan bulu kuning yang menenangkan, berbaring dalam kamar sambil mendengarkan alunan tadarus di malam takbiran. Momen pulang ini rasanya bikin aku recharged. Hangat.

Ada yang kurang? Ada sih.

Yang dulu ada di setiap kegiatan yang kusebut di atas, secara fisik atau dengan penghantar teknologi. Karena kota ini selalu membuatku rindu padamu. Kamu. Ya, kamu. Tempat pulangku.      





#kemudianhening

Ah, apapun itu, Alhamdulillah atas segala nikmatmu Ya Allah.
Semoga kami masih bisa bertemu Ramadan dan Idul Fitri tahun-tahun berikutnya.

Selamat lebaran dan liburan semuanya!

Sunday, August 28, 2011

continue? YES.


Today I’m turning 27.

Meskipun yang namanya ulang tahun buat aku ngga pernah terlalu jadi perhatian dengan berlebihan, tapi tetep aja dong, yang namanya hidup ada timelinenya. Dan umur adalah salah satu penandanya. Nyari kerjaan, tolok ukurnya umur. Jam biologis wanita, tolok ukurnya umur. Jadi ketika si umur bertambah, tetep aja ngga secuek-cuek itu juga.

So, lupa ulang tahun? Mana mungkin. Apalagi tahun ini, ketika ulang tahunnya mepet ke tanggal mudik. Tapi ulang tahun kali ini emang rasanya kaya sekedipan mata nyampenya. Rasanya baru aja masuk Agustus, tahu-tahu udah akhir bulan. Banyak ini itu yang bikin segalanya serba skip. Tsk tsk. Cadas.  

Oke, uhm, soal ulang tahun. Yang pertama banget mau bilang “Alhamdulillah”. Sampai saat ini, dikasih susah tapi juga dikasih jalan buat nyelesaiin pelan-pelan. Dikasih goyah tapi juga dikasi sentilan-sentilan buat ngingetin. Hidup memang ngga berjalan mulus-mulus banget kaya jalan tol. Tapi, biarpun pake lutut yang babak belur kesandung sana-sini, aku masih bisa ngerasain nikmat. Banyak nikmat.

Yang kedua mau bilang “Bismillahirrahmanirrahim”. Karena selain beberapa unfinished business, ada beberapa item baru yang aku taruh di timeline stage hidup yang ini. Possible? Impossible? Mana tahu kalo belum dicoba?

So let’s do this, the-27-years-old me.     

Monday, August 22, 2011

welcoming ONE-THIRD

Masuk 10 hari terakhir Ramadan tahun ini nih. Aku masih bangun jam segini? Biasa. Selama bulan Ramadan emang selalu begini. Bukannya tidur dulu baru bangun sahur; tapi melek sampai jam 3, sahur sebelum masjid mulai woro-woro, habis itu baru tidur. Rasanya? Sepi sepi aneh gitu deh. 

Aku merindukan siaran sahur, dijemput jam 1 malam, mampir kucingan pak Gik, beli pangsit dan teh pait-enaknya buat sahur, siaran sambil ketawa-ketawa pagi-pagi buta.

Aku merindukan bekerja sambil terkantuk-kantuk di ruang meeting dan tanpa dikomando mendadak anak-anak ngumpul dan jadi goler-goler berjamaah karena gula darah mulai turun.

Aku merindukan berbuka di studio, di penyetan, di tempat makan baru yang iseng dicoba, di rumah, di tempat-tempat yang familiar, bersama wajah-wajah yang familiar.

Aku merindukan tarawih di belakang rumah, mendengar ceramah pak Syahir yang meledak-ledak, mendengar anak-anak yang menyahut "Aaaamiiiiiin.." dengan lantang.

Aku merindukan berbaring di kamar yang gelap di malam hari dan mendengarkan lantunan tadarusan lamat-lamat sampai tertidur.

Aku merindukan bersujud di sajadah sampai tergugu. Menyebut nama-Mu sampai hati tak lagi terasa pilu.

But what I've done? What I've done until now?
Ya Allah. Ya Allah. Ya Allah. Aku merindu.

SKIN-DEEP me

Sekoboy-koboynya, aku tetaplah wanita *apadeh* Jadi biar serampangan, ada beberapa gimmick khas wanita yang tetep jadi concern. Salah satunya masalah muka dan tetek bengek perawatannya.

Kalo ngomongin soal perawatan muka, sebenernya sih malu sama kaca ya. Aku baru pake sabun khusus wajah setelah SMA, dan pake bedak setelah kuliah. Punya make-up baru setelah mulai ngemsi-ngemsi (itu pun setelah beberapa saat lamanya cuma minjem doang). Pokoknya gembel banget deh.

Mungkin karena itulah, akibatnya kulit mukaku jadi cenderung ngga bagus. As far as I can remember, sejak puber, jarang banget mukaku ngga jerawatan. Muncul satu dua, tapi sering, sampai sekarang. Akhirnya mukaku jadi cenderung prone gitu deh, bruntus, dan yang udah sembuh jadi berbekas-bekas.

Proses pencarian skincarenya juga ngga gampang. Karena the teenager me tidak selalu mendapatkan kebutuhan sekundernya dengan mudah, masalah muka ini juga bukan perhatian utama sang pemberi uang saku. Paling nyobain beberapa facial scrub khusus jerawat yang dijual bebas. Pernah juga pas SMA berminggu-minggu ngumpulin uang jajan demi biar bisa ke dokter kulit. Dua-duanya end-up failed. Setelah punya duit sendiri, baru deh mulai nyoba perawatan.

Perawatan yang aku coba adalah Larissa, skin care asal Jogja, yang buka cabang di Semarang. Alasannya? Ngga semahal LBC dan Natasha (yang katanya nagih pun), tapi semuanya keliatan oke : dokternya baik, terapisnya ramah, interiornya luas dan bersih. Meskipun itu pertama kali nyicipin perawatan, tapi rasanya believable aja.

Begitu dateng, konsul dokterlah aku. Hasilnya, aku divonis ngga cukup melindungi muka dari endebla endebla endebla dan harusnya rajin facial yadda yadda yadda. Singkat kata di kunjungan pertama itu diresepkanlah sebuah rangkaian perawatan Tea Tree khusus kulit berjerawat. Agak shock ketika harus menjalani rutinitas pagi (milk-foam-cleanser-krim pagi-lotion jerawat-bedak khusus) dan malam (milk-foam-cleanser-krim malam tunggu 1 jam-foam lagi-lotion jerawat). Sumpah itu perjuangan banget harus ngikutin resepnya si bu dokter cantik. Karena saya pe-ma-las. Belum lagi muka digecek-gecek facial. Beuh. Byuti is pein, indid. Oya, total kerusakan pertama datang kurang dari 300K. Selanjutnya ngga sampe segitu.

Nyatanya si Larissa ini sesuai dengan slogan perawatan naturalnya. Rangkaian perawatannya ngga keras, perubahan pada wajahku ngga drastis, pelan tapi pasti. Ngga juga yang merah-merah ngelupas gitu. Bekas hitam dikit-dikit ilang dan jerawat agak jarang muncul. Kata temen-temen juga agak cerahan (dikit). Jadilah aku pemakai setia perawatan Larissa selama 2 tahunan. Rajin facial (walaupun suka bandel, disuru 1 bulan sekali, aku dateng 2 bulanan) dan melaksanakan perintah ibu dokter (meskipun sering skip step-step, yang berakibat ritual facial yang lebih ekstrim). Yang pasti sih hidupku tenang, tinggal nurut aja sama Larissa. Aku ngga ngerasa centil, justru malah praktis, karena udah satu paket. Cocok. Ngga repot. Ngga mahal. Ihiy.

Ternyata ketenangan jiwaku sampe disitu aja. Ketika pindah ke Jakarta yang ngga ada cabang Larissanya aku jadi bingung lagi. Kalo masalah krim-krim mungkin bisa diimpor yeuh. Tapi facial, ohmaigod, disini mihil semua (yaeyalah). Sekalinya nyobain LBC sini yang harganya nyaris 3x lipat, ngga sebersih dan sepuas di Larissa. Ada sih yang murah, tapi random salon yang… ngga berani deh aku.  

Trus intinya sekarang aku bingung. Stabilitas perawatan muka si gadis malas ini sedang terancam. Bahkan krim dokter udah pada abis dan mulai pake krim bebas lagi. Dan mulai prone lagi ini muka. Huhuhu, Larissa buka di Jakarta kek. Biar hidupku tenang, ngga bingung ngurusi muka. Huhuhu.      

Ada yang punya masukan skin care di Jakarta yang ga mihil, alami, reliable?

Wednesday, August 17, 2011

over midnite VONLENSKA

Cerita ini terjadi sekitar.. umm, 2 tahun yang lalu? Agak lupa. Pokoknya satu dari banyak perjalanan bulak-balik Semarang-Jakarta ngejabanin wawancara dan tes. Seperti biasa aku naik kereta malam Kamandanu (yang harga, kenyamanan dan jamnya pas, sayang sekarang udah ngga ada, huks) dengan mindset yang seperti biasa juga : duduk, not in a chatty mode, pake headset, tidur atau baca buku. 

Ternyata malam itu beda. Di sebelahku duduk seorang mas-mas yang... ganteng gak ya? Kayanya sih pas aja, ngga berlebihan : rambut acak-acakan, sneakers, ransel, jaket klub sepakbola dan senyum yang jenaka. Bermula dari obrolan di gerbong restorasi sambil ngecharge hp, later I know kita seumuran, kita dari kampus yang sama tapi beda fakultas, dia kenal beberapa temanku dan dia ke Jakarta juga buat ngejabanin panggilan kerja. 

Menjelang tengah malam, dia bilang ngantuk. Trus dia pamit tidur dan siap-siap muter MP3 player. Katanya, mau dengerin 1 lagu Sigur Ros, lullaby-nya dia yang never failed bikin dia tidur tenang. Hihihi lucu ya? Waktu itu aku bilang udah kenal Sigur Ros, tapi belum eksplor lebih dalam, cuma tau 1-2 lagu aja. He said, "Ah, too bad, try listening to this one". Dia memberikan sebelah earphonenya padaku. Olsen Olsen pun mengalun.
 

It was over midnite. I can't saw anything outside the windows. Lights in train was dimmed. The stranger beside me drifted to sleep. I was on a certainty, went to the unfamiliar city. But when I heard nothing but rail clanking and Jonsi humming, it was... Calming.

And ever since, I'm officially into Sigur Ros.   

ps :
Ow, tidak ada romantisme yang terjadi antara saya dan si mas, kita berpisah gitu aja di Gambir. Apa boleh buat, soalnya ini bukan drama Korea :D

ps ps :
Ow and for you who dig Sigur Ros too.. Good news! It's been said, INNI, second live film (after the Heima, which we saw part of it above) will be released in November 2011. Wowowow. Can't wait.

Monday, August 8, 2011

the KID who TALK too much

There's this kid. This naive kid.
This kid is talk to much.
Waaay to much.

Speak like knows everything.
Act to depicted as the perfect being.
Or to get some attention?
I dunno. I just don't dig it.

Oh kiddo, grow up, will ya?

Sunday, August 7, 2011

Harry. Voldemort. END*.


Heboh. Ketika akhirnya Harry Potter and The Deathly Hallows part. 2 akhirnya masuk ke Indonesia. Antrian puanjang. Anak-anak kantor nonton bareng (sponsored by kantor pun) di hari pertama rilisnya. Akunya sih ngga ikut nonton, pas kebetulan ada liputan di jam yang sama, dan... Ugh, I don't feel like it watching movie at the 2nd row from the screen. Aku kan rewel. Mending nunggu euforianya lewat dulu, lalu bisa nonton nyaman. Sendirian kalo perlu, biar gampang nyempil dapet seat. Dan itulah yang aku lakuin kemarin, nonton HP 7 Pt.2 sendirian. Kebetulan massa udah teralihkan ke Transformers 3, jadi lebih gampang dapet seatnya.

So, uhm, mulai dari mana ya? Is it good? Is it bad? I'm not sure. It's kinda in-between for me. I dunno apa yang salah. Bukan cuma filmnya sih menurutku. Dari segi bukunya juga. Banyak hal yang aku pertanyakan, salah satunya yang cukup fundamental : hubungan Harry dan Voldemort. If that noseless villain is THAT evil and powerful, he really doesn't seem like one. Chasing Harry for 7 fuckin years? Assaulting Hogwarts then retreat? Oh dear, Prince of Darkness not supposed to do that. Why don't he just killed them all, if he is THAT evil and powerful? Nah, kausalitas ala PG-nya ini lho yang bikin ngga sreg. Ya gimana lagi, emang PG sih. 

So, IMHO, 7 buku 8 film terlalu banyak. Seperti yang men-saga-kan sesuatu yang seharusnya ngga se-saga itu. Uhm, I dunno (too many I dunnos here). Jadinya uhm, agak ga rela kalo ada yang menyejajarkannya dengan LOTR atau Star Wars. 

Tapi sebagai closing, HP 7 Pt. 2 ini cukup intens. This movie's good. The visual effect, the chemistry of the casts, the whole magical world. Sementara dari departemen plot, favoritku adalah the origin of Severus Snape. Entah ya dari awal banget, aku ngerasa nih orang bakal jadi sesuatu. Ya, klise sih, orang yang keliatan jahat ternyata yang paling care and whatnot. Cuma ugh, Alan Rickman nailed it.

Harus aku akui, yang paling kunikmati dari HP adalah feel magical dari keseluruhan settingnya. Those castles, those scenery, those beasts, those spells. Jauh lebih baik dan menarik dari, Narnia misalnya (yang aku give-up nonton 1 filmnya aja, lainnya engga nafsu.) Paling tidak HP masih menarikku sampai sejauh ini, dari awal sampai akhir. Oh dan, Rupert Grint! Semakin lama semakin hot aja tuh bocah. Not too handsomey handsome, but he's just.. fly. Move away Daniel Radcliffe, saya mah drool over mas Rupert ajah :p   

aaah. the fire rite i like to watch.
Apapun itu, Harry Potter franchise is a depiction of a generation. Dan ketika berakhir, ada rasa sedih juga. See, I always want to enroll Hogwarts :D So, bye Harry, Hermione and Ron. It was a wonderful years.   

*) taken from phrase "lo-gue-end" yang hits itu.

Sunday, July 31, 2011

humming : the HEART of LIFE

Once upon afternoon, on a very hectic day, Papizul yang ada 1 lantai di atasku pop-up via YM dan cuma ngasih sebuah link Youtube macam spam. Seakan bisa baca pikiranku yang lagi butuh diguyur air dingin, lagu ini kaya' ngomong di depan mukaku. Bahwa sebitchy-bitchynya kehidupan, I should know that the heart of life is good.



John Mayer never been my cup of tea. Lagunya emang aku tau beberapa yang enak, tapi ngga terlalu eksplor lebih dalam. Ternyata ada lagu macem ini, yang jika didengarkan pada waktu dan mood yang tepat, aduh, enaknya mustahil. Dan messagenya. Aduh. Papizul emang cangcing deh. 

Saturday, July 30, 2011

annual REMINDER

"Baru 3 bulan disini, udah brapa kali suara lo ilang coba?"

Itu kata mba Tere, temen kerja, kemaren. Wahaha, iya nih, suaraku ilang lagi. Batuk pilek masuk angin sampe suara ilang melulu. Ngga berkali-kali juga sih, kaya' yg sebulan sekali gitu. Eh ya lumayan sering juga ya kalo gitu? *garuk-garuk*

Nah karena itulah sekarang ceritanya lagi indehoy, mumpung weekend ga ada kegiatan apa-apa. Agak-agak spartan memang bulan ini, pulang malem (nyaris pagi) hampir tiap hari, weekend juga sering ada event. Semua main dijabanin, ga pernah ada treatment khusus, makan sembarangan. Trus kalo udah tepar gini baru deh ngebatin : "iya, ya?" And it happens time to time. Fiuh. Maunya sih cepet sehat. Apa lagi Senin besok udah puasa.

Omong-omong soal puasa... Huks. Trus mendadak mellow gini. Lately, kalo pas tengah malem buta pulang ke kosan, trus beberes sambil nonton TV, mendadak ada iklan2 sirup jelang puasa gitu... Man, rasanya gak karuan. Antara gak sabar pengen cepet Ramadan, antara malu karena belakangan berasa jauh sama Boss of the Universe, antara jadi kangen banget sama eyang kakungku, antara keingetan those burdens I have to carry...

Tiap tahun nih ya, tiap nuansa Ramadan berasa, aku berhenti sesaat, dan semua yang tadinya terlupakan/ingin dilupakan mendadak membanjir memenuhi kepala. Cuma tahun ini karena jauh dari lingkungan yang familiar, rasanya jadi agak combo. Duh Gusti... Tapi, matur nuwun, Gusti. Jadi diingetin kalo siklusku lagi ngga seimbang. Jadi diingetin kalo harusnya aku ngga perlu kabur dari mana-mana, ngga perlu ngehindarin apa-apa, ngga perlu ngelupain apa-apa, karena harusnya aku tau kemana aku harus pulang. Semoga Ramadan kali ini bikin semuanya jadi lebih baik dan berkah. Amiin.    

Baiklah. Sekarang bikin nutrisari anget dulu ah.

Thursday, July 28, 2011

let's do it RIGHT

Dalam sebuah sesi lembur (tanpa sengaja) di akhir pekan, Chinta, teman sebelah meja mendadak nyeritain kisah cinta seorang temannya. Kisah seorang gadis yang terkena bujuk rayu somebody else’s somebody, yang katanya mau mengakhiri his previous relationship, tapi end-up that man turn her down with some cliché reasons. Moral of the story : sebuah hubungan yang tidak dimulai dengan baik, tidak akan berjalan/berakhir dengan baik.

I can’t agree her more.

Hubungan yang tidak dimulai dengan baik maksudnya bukan hubungan yang tanpa cacat cela ya. Mana ada hubungan yang ngga ada ups-and-downs-nya? Maksud hubungan yang tidak dimulai dengan baik itu ketika tidak hanya ada ‘aku’ dan ‘kamu’, tapi ada pihak-pihak lain yang dirugikan ketika hubungan itu tercipta.

Aku pernah ada di dalam hubungan semacam itu. Entah itu yang aku fully aware kalo ini ngga baik tapi dengan bodohnya malah main api; atau yang aku kira baik-baik saja, tapi ternyata ngga. Dua-duanya berakhir sama : blunder. I ate my heart out. I cried a lot. I went nowhere. I suffered in total breakdown.

Katanya, masa lalu boleh berwarna hitam, tapi masa depan masih putih warnanya. Jadi, sekarang ini aku hanya ingin punya sebuah hubungan yang normal, yang dimulai dengan baik. Dengan semua ketidaknormalan dalam hidupku, rasanya ngga berlebihan kan kalo aku pengen punya sebuah tempat nyender yang aku bisa nyender dengan tenang? Yang ketika aku membutuhkannya, dia juga membutuhkanku. Yang ketika aku mencarinya, dia juga mencariku. Yang ketika dia milikku satu-satunya, aku juga miliknya satu-satunya.

So, let’s do it in a right way. Shall we?

Wednesday, July 27, 2011

medium for SOCIALIZING


Semalem aku nonton konser Incubus deh. Nonton gratis dalam rangka live tweet & ngumpulin bahan artikel utusan brand si sponsor sebenernya. Mungkin orang yang ngeliat sebel kali ya : Ini orang dateng ke tempat konser malah sibuk aja sama henponnya. Ya maaf mas, mbak, lha ini judulnya makaryo gitu. Untung ga pake gelaran laptop segala lho ini. But I have to admit, konser Incubus semalem bersih dan rapi. Sound, lighting, songlist, showmanship, kualitas vokal, dan musikalitasnya top notch. Salut buat mas Brandon Boyd endegeng.

Dan apakah itu live tweet? Itu adalah semacam laporan pandangan mata sebuah event, tapi via twitter. Text-base dan image-base. Intinya biar para follower dapet laporan real time dari event yang bersangkutan. Jurnalisme masa kini kali ya. Barang baru juga sih buat aku, ketika beberapa kali diperbantukan ke kegiatan beginian. As we know, I'm new on twitter, baru setengah tahunan gitu. Sepertinya remeh ya, tapi ternyata ngga juga. Gimana caranya bikin tweet yang menggugah, menarik, talk-to-a-friend (macam radio juga ya), semua dalam 140 karakter saja. Ups, kadang 130, atau 120, buat ngasih space yang mau nge-RT.  Jadi tau, kalo ngetwit aja ada seninya.

Ibarat renang, mungkin aku baru nyelup sampe mata kaki di dunia dijitel ini. Jadi masih suka takjub sama suburnya kesempatan yang bisa dipanen dari sana. Kalau website, okay. Tapi Twitter? Facebook? Bener-bener pengalaman baru buat aku. Melihat seorang influencer (semacam seleb tweet yang punya banyak follower) dibayar sekian rupiah (yang ngga sedikit jumlahnya) buat ngetweet 1-2 kali. Melihat perusahaan-perusahaan besar ingin engaging dengan customernya lewat sosial media sampai harus menggunakan jasa ahensi. Melihat kuis-kuis berhadiah ngga main-main yang digelar via sosmed. Melihat pakar-pakar sosial media yang menelaah dalam bidang satu ini. Big company with no social media treatment? No cool. 

Man, social media is a real deal. Bukan cuma tempat menggalau semata. Lain kali kalo dapat pencerahan dari yang lebih ahli, ntar aku sharing lagi disini. Smell ya guys later.
ps : ngomongin sosmed tapi imagenya Incubus? Wis ndakpapa lah ya?

Monday, July 25, 2011

easy, you AIN'T their TYPE

Aku punya beberapa temen gay. Ada yang openly, ada yang discreet. Ada yang ngondek, ada yang gagah. Ada yang gay aja, ada juga yang udah menjurus transvestite (atau malah transgender? Ga tau juga, ga ngelongok sampe dalem). Kita berteman baik, curhat-curhatan, belanja bareng, joget-joget bareng, seseruan barenglah. Some people said, gay is women's best friend : ngerti perasaan cewe, tapi bukan kompetitor. Wahaha, kata siapa bukan kompetitor? Yang ada mukaku kalah mulus, bedakku kalah mahal kok sama mereka ;)

Mungkin karena berteman sama mereka dan denger sedikit cerita mereka, aku suka males kalo denger cowo-cowo straight yang homophobicnya cenderung kegeeran dan gak beralasan. Maksudnya yang overly bergidik-gidik ngeri, cenderung mencaci maki dan merendahkan padahal ga diapa-apain juga. Just because mereka ngeliat gay (yang emang mencolok banget keliatan gay) trus lantas bergidik lebay, menyumpah serapah, macam dikejar-kejar bencong rese. Okelah kalo kejadiannya emang diuber bencong, wajar kalo traumatik. Nah ini engga, cuma ngeliat mereka lewat with all of their glory aja udah kege-eran macam mau dilahap.

Kalo ketemu cowo straight macam gini, I just roll my eyes. Eh hello mas, biasa aja sih. Situ juga ngga cakep-cakep amat. Tuh kan, aku jadi main fisik. Maaf deh, habisnya situ gengges sih.

Para gay ini juga punya tipe kali. And as far as I know, tipenya bukan yang macem lo. Muke die lebih bersih dari muke lo, gaya dia lebih modis daripada lo... Ya think they will dig ya? Think again. Oh dan biasanya cowo yang macem gini ini juga yang suka sok milih-milih cewe cantik. Yang udah berasa lady killer banget gitu deh.

Tsk. Heran saya.



Thursday, July 21, 2011

UNDIR ísnum lokið*


Skaftafeli, Iceland.
---
*) under the ice-cap

Monday, July 18, 2011

PETTY-BIGGIE thing

Boleh kali ya bersyukur, kerjaan kedua ini kurang lebih sama fleksibelnya seperti pekerjaan yang pertama, walau bidangnya berbeda. Di kedua kerjaan ini ada beberapa hal menyenangkan yang mungkin ngga bakal ditemui oleh tipe kerja kantoran pada umumnya. Salah satunya ketemu artis.

Pas masih di radio, para pesohor ini bisa aku temui pas mereka interview, atau pas kebetulan ngemsiin acara yang bintang tamunya mereka. Di ahensi dijitel yang sekarang, kesempatan ketemu artis dateng pas harus liputan atau ngumpulin materi pendukung ini itu.

Akhirnya kalo ketemu artis suka yang, ya ngga kya kya kya heboh gitu. Kalo bilang "udah biasa" kaya'nya kok sok banget ya, karena toh ngga sesering itu juga. Cuma karena ketemu mereka dalam posisi 'kerja', jadinya otomatis terkondisikan untuk ngga kya kya kya. Kepala juga udah penuh sama pikiran : 'ayo cepat beres, cepet beres'. (Entah ya kalo mendadak harus interview Mew apa Imogen Heap gitu. Pengsan mungkin saya). Kalo udah gitu suka lupa kalo 'jumpa pesohor' ini adalah sebuah kemewahan buat yang ngga punya kesempatan. How they dying to be as close as me and my fellow colleague with their idols. 

Kemarin siang di sebuah event, aku ngalamin sebuah kejadian yang lucu-lucu-manis gitu. Pas lagi ngurusin sesuatu di luar area event dengan berkalungkan id all access, dua orang remaja cewe-cowo ngedeketin dan nanya : "Kak, kaka panitia yah?" Agak bingung karena aku cuma bagian keciiiil dari sebuah event gede, akhirnya aku jawab : "Euh, ya semacam itulah.." Trus mereka sumringah gitu. Ternyata mereka bermaksud menitipkan sebuah pigura (yang lumayan gede) berisi hasta karya mereka buat seorang performer yang akan tampil malam itu. Mereka bilang, ga bisa pulang malem dan bingung gimana caranya ngasih hadiah (yang ternyata hadiah ulang tahun) itu.

Somehow, karena mereka keliatan eager dan sincere (dan ngga rese pula) akhirnya aku sanggupin. Aku bahkan merekam ucapan ulang tahun mereka dan bakal nunjukkin video itu ke si artis. Dengan pertimbangan, itu memang memungkinkan, berdasar pengalaman event sebelumnya, dengan artis yang sama. Ih mereka sumringahnya bukan main lho. Kita janji saling update via twitter. Dan sesorean itu dia berkali-kali berterima kasih. Padahal belom dikasi juga kadonya. 

Malamnya, di tengah segala razzle dazzle, untungnya amanah dua dedek itu bisa terlaksana. Dan si artis juga baik setengah mati, ngeladenin aku dengan baik, dan mention si anak yang ngasih hadiah, ngabarin kalo hadiahnya udah diterima (di twitpic pun!). Ih sungguh salut deh sama si artis ini, ngga ngeremehin yang remeh-remeh.

Habis itu kelar, aku balik ribet lagi begina-beginu. Tau-tau pas ngecek twitter, you know what? Si dedek itu ngetwit begini : "I dont know how the fate of the gift, if I dont meet [@mytwitterid] ...Please god bless her life". Deg, aku berhenti lari-lari. That day has been a tiresome and got my nerve. Dan satu tweet singkat anak itu bikin sejuk setengah mati. Man, aku ngelakuin sesuatu dengan effort kecil, dan di luar sana ada orang yang ngedoain aku. I don't even know this kid. This kid barely knows me either. And he ask God to bless my life. Hanya karena aku ketemu artis easily dan dia engga. Hanya karena aku punya id ke backstage, dan dia engga.

Nope, ini bukan postingan pamernya saya. Aih apa sih aku yang mau dipamerin. Cuma mau cerita, ini salah satu versi dari : hal sederhana buat kita, bisa berarti gede buat orang lain.

Dan demikianlah. That kid cherish my day. And I hope I cherish his day as well.

the HEART is BROKEN

Kemarin ada yang ngga percaya sama nama asli saya.
Hari ini ada yang ngga percaya kalo saya lagi patah hati.
Katanya, saya ngga pantes galau-galauan.

Huks.

Sungguh saya sedang melankolia lho ini.
Dan ngga nyangka bisa sampai segininya.
Ini kan remeh! Remeh!
Tapih... Tapih...

Ah. Udah ah.
Huks huks.

Thursday, June 30, 2011

can i get a BUTTERFLY KNIFE?

On a rigid battle against sleepiness, my playlist jump onto 'Make Me Wanna Die' from The Pretty Reckless, taken from OST. Kick Ass album. At the beginning of the song, you can hear Mindy, the Hit Girl, asked by her daddy, Damon 'Big Daddy', about what she possibly want for her birthday.



DAMON
Hey, why don't you tell a little more about what you might want for your birthday?

MINDY
Can I get a puppy?

DAMON
You wanna get a dog.

MINDY
Yeah. A cuddly fluffy one. And a Bratz Moviestar Makeover Sasha.

DAMON
*flabbergasted*

MINDY
Just fucking with you daddy! I’d love a Benchmade model-42 butterfly knife.

DAMON
Oh child, you always knock me on a loop.

---
Maaan. Chloe Grace Moretz killed it!

Wednesday, June 29, 2011

KIMCHI and KYLIE

*Backsound : album We Sing, We Dance, We Steal Things - Jason Mraz. Aaa. Nostalgic.*

Maygat, udah tanggal 29!? Maaan cepet banget yah waktu berjalan. Udah mau ganti bulan, tapi baru sampai postingan ketiga di bulan ini. Dan speaking frankly, aku juga ngga tau ini mau nulis apa. Cuma pengen nulis aja. In the middle of doing some 'home-work' sih sebenernya. Alias kerjaan yang dibawa pulang. Trakdungces.

Oke, mari kita, mmm, mereview beberapa hal yang terjadi sebulanan kemaren kali ya? Such as... Aku nonton 2 konser bulan ini. Konser-konser dengan tiket berharga jutaan rupiah, yang lagunya cuma tahu 1-2, tapi, macam yang gaul gitu, yang penting nonton. Hahaha, enggalah. Dari mana duit jutaan rupiah buat nonton musisi yang ngga aku ngerti? Kebawa sama kantor sih sebenernya, jadi nyambi nontonlah.

Tolong ignore 2 gadis yg nyengir itu. Emphasizingnya antrian ELF di belakang sana.
Yang pertama adalah konser KIMCHI 4 Juni kemaren. Yea, KIMCHI yang itu, yang menghadirkan boyband dan girlband Korea, salah satunya Super Junior nan kondang dan kolosal anggotanya. Ketika aku kasih tahu Si Nuno, seketika dia langsung bilang : "Karma does exist!" Hahaha, ya memang bener sih. Beberapa kali aku make a fun of any musician, biasanya end-up dengan ketemu sama yang bersangkutan. Sempet aku ceritain di postingan lalu. Ngeceng-cengin Kangen, Ungu, dan D'Bagindas, akhirnya malah ngeinterview atau ngemsiin mereka. Nah jaman di studio dulu, aku juga suka ngeceng-cengin boyband/girlband K-Pop sama si Nuno daaaan... end up nonton juga akhirnya. Saat konser itu aku cuma bisa diam terpaku. Melihat gadis-gadis remaja itu jejeritan, memanggil-manggil tiap member boyband yang menari-nari cantik dan seluruhnya nampak serupa di mataku. Edanlah. Not to mention harga tiketnya yang sampai 2,5 juta itu ya...

Extreeeeeme long shot. Maklum duduknya di puojok atas.
Nah kalo yang kedua, bisa dibilang lumayan menikmati : Kylie Minogue Aphrodite Tour di Sentul, 27 Juni lalu. Betenya kena macet nyaris 3 jam dari Fatmawati sampai Cibubur dan gak dapet press-id jadi si DSLR ga boleh masuk tersembuhkan dengan visual galore yang dipersembahkan tante Kylie. Six gigantic pillars, massive multimedia background, pegasus, chariot, flying angels, ubersexual dancers, six fabulous costume changing, unexpected nice vocalization (live!) and that smokin hot body... Somehow I just can't believe she's 43! Aku cuma tahu, yahh.. Mungkin 4-5 lagu dari 20an (!!) yang dia bawakan, tapi feel dancefloor dari lagu-lagunya bikin pengen jejogedan. Dan melantailah kami, anak-anak lecek dari kantor, di row paling atas, tanpa malu-malu. Just like para cong-cong itu yang jogednya total bener deh. Bahkan ada joke, malam itu Jakarta cong-free, semua congnya ke Sentul. Dan overshine kami yang cewe-cewe ini, hihihi.

Dan begitulah. Dua-duanya heboh, buat massanya masing-masing. Sementara buatku ya seneng aja. Soalnya menurutku nonton live music itu menyenangkan, apa pun jenisnya. Lebih seneng lagi kalo yang ditonton musisi kesukaan.. Yang dalam waktu dekat ini belum ada yang mau mampir sini. Pun Laruku yang katanya akhir 2011, ternyata hanya gosip belaka. Paling cepet 2012 katanya. Ah ya sudahlah ya. Mari menabung dulu dari sekarang. Siapa tahu ada siapaaa gitu yang mampir.

Now now, breaknya cukup sekian. Mari kembali wordsmithing. See ya later!   

Monday, June 20, 2011

counting SHEEP. what sheep?

Biasanya, polanya adalah sebagai berikut :

Sampai kos malam-malam, nyalain netbook. Browsing. Setel musik. Ngetik. Anything.
Sekitar jam 11, teringat niat tidur cepat, mau istirahat biar bangun pagi.
Jelang tengah malam beberes, matiin netbook, matiin segala koneksi internet di hp.
Sekitar jam 12, berbaring dalam diam. Merem, penat, tapi ngga kunjung tertidur.
Lewat tengah malam, guling kiri, guling kanan, muter mp3 player, pakai earphone.
Menjelang jam 1 pagi, mulai online lagi di hp, browsing-browsing.
Sekitar jam setengah 2, nyalain netbook, nyolokin modem.
Menjelang jam 3, kepala pusing, punggung panas, akhirnya tidur.

Saya ngga lagi galau lho. Sumpah deh.

Thursday, June 9, 2011

THINKER off to TIGER

Kalo kamu ngikutin blog ini (ya kali ada gitu hihihi), kamu pasti tahu how many times I wrote about longing to go somewhere nice and serene. Anywhere but the razzle dazzle. Karena Tuhan itu memang selalu baik sama saya, ngedumel diem-diem saya dikabulkan. Yah mungkin buat orang lain ini biasa saja. Tapi buat saya, outing kantor akhir pekan lalu itu means a lot. A lot, like, a lot.

Dua hari 1 malam saja, tapi seluruh kantor dibawa. Total ber-30 sekian orang, minus beberapa teman yang berhalangan. We were really excited, dibela-belain ngebut kerjaan bahkan yang malam sebelumnya ada event sampai midnite. Dasar agency digital, yang mau ngetwit pun wajib pake hashtag resmi : #thinkweb2macan. Hari H kita ngumpul pagi-pagi di kantor, berangkat ke Marina naik bis, trus nyebrang naik kapal. Presisinya, kita nyebrang ke sebuah, uhm, resort di salah satu pulau gugusan Kepulauan Seribu. Namanya Pulau Macan (Tiger Island). Rawr.

Ini main-entrance water activity-nya Pulau Macan (pic : forum.vibizportal.com)
Pulau Macan jaraknya cuma sekitar 90 menit naik kapal motor yang cukup laju dari pantai Jakarta. Pulaunya kecil, sekitar 1/2 ha (cmiiw), jalan 10 menit aja udah full-round satu puteran. Tapi suasananya, ahhhh, udah asoy geboy banget deh. Hut-hut tepi pantai sebagai kamar (dengan tangga turun langsung pasir putih dan air laut gitu), jalan setapak dan pohon-pohon, hammock, dermaga, kayak, gazebo berlantai kayu, lampu-lampu dimlite, interior etnik, kelambu, angin sepoi-sepoi, laut tosca dan… langit azure! Oh my. Mungkin ini memang bukan resort paling premium, but I really can’t ask for more. At least for now.
 
View dari Pulau Macan 2, bbrp km dari P. Macan yg di ujung ituh. (pic : @twiras)

Kegiatan kita? Anything fun! Main voli, bilyar, badminton, renang, kayaking, naik perahu karet, snorkeling, sampai sunset-sunrise hunt. Drama dan lucu-lucuannya juga ada : yang pedekate lah, yang kena bulu babi lah, yang mabok laut lah, yang berenang pake bebek karet lah, curhat-curhatan lah, nyanyi-nyanyi gitaran lah, foto-fotoan lah, ngegames seseruan lah. Ah pokoknya kaya orang kalap deh, semua-mua dicobain, semua-mua dijabanin. Bukan cuma saya, tapi semua orang. FYI, saya ini sebenernya ga bisa renang, but thank God I survived snorkeling. Cuma agak horror keliaran di laut gitu tanpa kacamata/lensa kontak, takut dicolek bulu babi :) Oh and I gazed at the sky, a lot.

the inter-hut path. Itu hut biasa. Yg tepat ngadep waterfront lebih syahdu lagi.
Sekitar 30 jam setelah kedatangan, kita balik ke Jakarta dengan senyum lebar… sesaat. Bukannya karena senengnya abis, tapi pada kecapekan gitu. Tepar di perjalanan pulang, besokannya pada kerja sambil ngeluh pegel-pegel. Not to mention kulit yang menghitam belang-belang kaya lapis legit ya, hihihi.

Nah ini waterfront hutnya. Dengan aksentuasi gadis-gadis (dan 1 jejaka) yg belom mandi pagi.
Etapi bener deh, menyenangkan hangout sama orang-orang yang tadinya cuma berinteraksi secara profesional ini. Berasa lebih cair gitu setelahnya. Jadi hayo kamu, yang kantornya udah mulai terasa rigid, cobain deh planning outing sekantor. Ngga perlu ke Pulau Macan deh, yang penting keluar kantor dan sebisa mungkin bersentuhan sama alam. Kan biasanya orang keluar aslinya tuh kalo di alam terbuka. Momen yang bagus buat refleksi, membuka diri, team building, atau apapun deh. Aih mulai sotoy saya :D

exhausted yet satisfied us : #thinkweb2macan (pic : @faniezdotnet)
Long story short, we were having fun. Uhm, main closing aja saya gitu. Habis pengennya nulis yang agak deskriptif tapi punggung saya sungguh masih pegel ini. Mana udah lewat tengah malem pula. Duh. Liat beberapa foto saya plus yang saya cuplik sana-sini aja yah :D

Smell ya later!