Wednesday, November 10, 2010

a DAY for the HEROES

Di Hari Pahlawan ini aku kuliah di UI. Kuliahnya jarak jauh, lewat tivi. Yang ngisi kuliah adalah the POTUS; President of the United States, himself; yang mampir sebentar dari kemarin sampai hari ini, less than 24 hours ke Indonesia.

Harus diakui, kharismanya beliau ini memang luar biasa. Meskipun apa yang disampaikan tidak ada yang baru, (around democracy, diversity, bilateral relations and a bit err.. propaganda, about Iraq and Palestine...) but somehow, the way he connected to our motherland surely brought massive attention. Issuenya masih seputar gimmick-gimmick masa kecil, dan bagaimana hal itu kemudian di blow-up secara lebay oleh media kita. Duh.

What I'm trying to say is... Koneksi POTUS dan Indonesia mungkin akan membawa keuntungan bagi hubungan bilateral kedua negara. Maybe. But, it's just... Agak kurang begitu sreg sama kesan 'reuni' yang tercipta pada kunjungan ini. Ya, ngga ada yang salah sih sama reuninya, justru terganggu sama reaksi orang kitanya sendiri. Well yes this is one special occassion. But not so special above all, sampai yang lain-lain dilupain.

Ah, tapi bagaimanapun juga, marilah kita tidak menjadi sceptical citizen. Pandang optimis semua kesempatan, termasuk datangnya POTUS. At least, all eyes on us. Siapa yang tahu manfaat apa yang akan datang di masa yang akan datang karena hal ini.

Anyway, hari ini tetaplah hari Pahlawan. Di tengah ingar bingar kedatangan POTUS, aku sempet nonton feature khusus hari Pahlawan di sebuah stasiun TV swasta, tentang seorang mantan pejuang yang tinggal di bunker karena ngga punya tempat tinggal. Dan kita tentunya juga sering lihat foto yang sumbernya entah dari mana ini :


Miris. This is also something worth to talk to, to fight for. Yang ter-outshine karena datangnya si mantan anak Menteng. Dulu, di acara ini, aku pernah ketemu veteran, mantan pejuang. Sempet ngobrol sebentar, dan kagum sama wawasan kebangsaan yang masih sangat melekat erat di diri mereka. Betapa mereka suka didengarkan, betapa mereka begitu bersemangat menyanyikan lagu-lagu perjuangan.

And from government, all they need is just a little more attention. Aku ngga tau sih gimana hitungan matematisnya... But if we can afford fancy cars, rings and (sometime useless) overseas trip for our state officials... Tidak bisakah kita menaikkan sedikit lagi tunjangan Rp. 250.000 untuk sekitar 800.000 veteran kita yang sudah sepuh-sepuh itu?

Dear Boss of the Universe, semoga di usia senjanya, para pahlawan kami selalu Kau limpahi kesehatan, kesejahteraan dan kebahagiaan. Amin.

3 comments:

cekaye said...

miris liat fotonya.. :(

Qefy said...

Mantep...

Qefy said...

Sangat mengena. Subhanallah...

Post a Comment