Friday, April 23, 2010

unplanned cinema-hopping : from Olympus to Underland

.
Really-really unplanned deh. Soalnya kebayang, kemaren pas si mall baru di jalan Pemuda ini mulai dibuka untuk umum, meskipun belum grand opening, pasti bakal rame buanget. Jadinya biarpun udah pengen nonton film, mikirnya, ah ntar aja lah. Males kalo mesti dragged into the new-mall euphoria.

Eh tapi kok paginya, si mas Daniel dapet undangan media release sama reportase di mall situ, dan ternyata keadaannya memungkinkan buat nitip tiket. Hore, ngga usah ngantri! Barengan sama Nuno + Tatat yang mau simultan nonton Clash of The Titans sama Alice in Wonderland, aku sama Radith niatnya nonton COTT saja (singkatannya asik ya. Cott! hihi)

Malemnya datanglah aku ke si mall baru. Byuh byuh byuh, ramenya alaihim. Ngga pake tolah toleh, langsung njujug ke lantai 3. Udah telat sih, soalnya buka puasa sama maghriban dulu plus nyari parkiran susah banget. Lagipula mau liat-liat juga ngeliat apa. Orang melulu isinya, kaya' cendol.

Okay. First stop : Clash Of The Titans. Di post yang ini aku sempet cerita kalo pengennn banget nonton dalam rangka pursuing cita rasa Greek mythologynya. Berharap kurang lebih eksotikanya sama seperti 300 atau Troy deh. Ternyata sodara-sodara.. kok berasa Amerika sekali ya. Even the Perseus himself. Abilitynya dia sebagai demi-god kurang di-emphasize. Olympiannya juga ngga berasa Yunani. Imagine, Zeusnya pake overly-glowing body-protector instead of toga. Menurutku malah jadi bentuk modernisasi yang tidak berhasil.. Ah kuciwa diriku.

Akting pemainnya juga tidak begitu memorable. Seems like, kalopun Sam Worthington diganti sama Christian Bale juga ngga bakal berpengaruh pada nyawa keseluruhan film. Plotnya juga ngga terlalu membantu buat membangun karakter2nya.. Hmm, mungkin karena film ini based on mythology jadi dipikirnya ngga perlu terlalu indepth gitu kali ya. Dipikirnya semua orang udah paham. Ah tapi kan jadi kurang meganggg. But anyway CGI-nya memang mantap. My favourite scene(s) adalah adegan di Medusa's lair sama pas Krakennya muncul. Oh oh, and everytime when Hades summoned! Ah, akhir kata, for this movie, my sotoy verdict is : it's such an eye candy. Like the first Transformers. And that's it.

Kelar sama COTT, niatnya udah mau pulang tuh. Eh dapet kabar kalo di luar hujan... Akhirnya tergoda buat lanjut nonton Alice in Wonderland. Kebetulan seatnya masih banyak banget. Ya sudahlah dihajar saja sekalian.

Yak. Burton-Depp-Bonham Carter. Dari awal kuduga, it's gonna be one helluva odd-movie even temanya warna-warni. With all the checkered floor, swirl, stripes, and everything in between. Dan ternyata benar. Meskipun ada beberapa komedi disana-sini, basically film ini film suram. Tidak terlalu Alice klasik, soalnya dipelintir sedikit jadi kunjungan kedua Alice ke Underland (yes, the 'Wonderland' adalah misspell-nya Alice kecil pas pertama keblusuk kesitu). Dan disitu Alice abege struggling with herself to find her courage, establishment and guts, untuk menjawab ramalan sebagai penyelamat Underworld versus Red Queen yang jahat, dan untuk hidupnya sendiri di dunia nyata.

Tuh kan, dari ceritanya aja udah jelas bukan cerita anak-anak. Tapi masih adaaa aja mami papi yang ngajak anak-anak nonton. Mana itu show jam 9 malem lagi, apa kabar jam tidur dan si anak jadi kebosenan? Udah gitu di seat sebelah ada sepasang cewe-cowo yang disturbingly membahas hal-hal kecil film ini seperti : "ih, kok mukanya pucet ya?", "sepatunya ngga matching deh!", "wow, kucingnya ajaib!" Dear darlings.. ini film fantasi, jadi ngga usah semua oddity-nya dibahas begitulahhhh.. *ngelap jidat*

Omong-omong soal film fantasi, i'm a little lost here. I didn't sense enough magical touch. Bahkan menurutku The Imaginarium of Doctor Parnassus masih lebih baik. Johnny Depp di TIODP juga lebih berkarakter. Di AIW ini, mas Johnny seperti hanya play dress-up. Sesuatu yang biasa dia lakukan, tapi tidak cukup nailed like his other characters. Dan Mia Wasikowska... Aktingnya tidak cukup adequate. Huks, too bad! Jadi kebayang, gimana jadinya kalo Dakota Fanning atau Saoirse Ronan yang jadi Alice. Mungkin akan lebih baik? I dunno. Yang pasti, dari kacamataku, di film ini mas Johnny Depp mesti geser sedikit, kasih jalan buat Helena Bonham-Carter untuk berdiri di bawah spotlight. She's great with her stand as Red Queen yang super-irritating! And I heart Alan Rickman's voice. Meskipun wujudnya ulat biru, tapi suara masih tetep bikin merinding. So Snape! Now, to wrap it up, for me, this verdict is : overrated.

Yak, demikianlah wisata cuci mata tanpa rencana tadi malam. Meskipun 2-2nya ngga memenuhi ekspektasi, tapi oh how i love watching (recent, particular) movies on big screen. Moga-moga rotasi film di XXI ini lancar jaya. Hoho.


*menunggu Prince Of Persia, God of War, sama Iron Man 2.

.

0 comments:

Post a Comment